advertisement
Bukek Siansu Jilid 14 - Sin Liong menarik napas panjang, dan menyentuh
tangan sumoinya. "Perlukah aku menjelaskan lagi? Suhu, Ayahmu sedang
dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir sekali ini adalah menyangkut
hubungan antara kita. Suhu menghendaki agar kita berjodoh, dan kita secara
jujur telah menyatakan tidak setuju akan kehendaknya itu. Dan memang kita
benar, Sumoi. Perjodohan tidak bisa ditentukan begitu saja, karena perjodohan
merupakan hal gawat bagi seseorang, akan melekat selama hidupnya. Akan tetapi
bagaimana kita tahu kalau hal ini tidak kita bicarakan secara terus terang?
maka, agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang kehendak Suhuini,
marilah kita bicara tentang cinta!"
"Swat Hong, apakah kau cinta kepadaku?"
Dara itu makin merah mukanya. Tak disangkanya bahwa suhengnya akan
bertanya secara langsung seperti itu sehingga dia merasa seperti diserang
dengan tusukan pedang yang amat dhasyat! Dia mengangkat muka memandang
suhengnya dengan bingung.
"Aku...aku...ah, aku tidak tahu..." dan dia menundukkan
mukanya.
"Sumoi, sudah sering aku melihat sikapmu yang aneh. Engkau
marah-marah ketika kita berada di Pulau Neraka. Engkau cemburu melihat Soan Cu
berbuat baik kepadaku, dan kau tidak senang melihat Kong-kongnya hendak
menjodohkan Soan Cu dengan aku. Sumoi, aku tidak tahu apa cemburu itu tandanya
cinta? Akan tetapi, jawablah demi pemecahan persoalan yang kita hadapi ini. Cintakah
kau kepadaku?"
Disinggung-singgung tentang sikapnya di Pulau Neraka yang jelas
menandakan rasa cemburunya, Swat Hong menjadi makin malu. Dicobanya untuk
menjawab, akan tetapi begitu dia bertemu pandang dengan suhengnya, dia menjadi
makin malu dan ditutupinya mukanya dengan kedua tangan, kepalanya
digeleng-gelengkan dan dia berkata, "Aku tidak tahu...aku tidak tahu...
kau saja yang bicara, Suheng. Kau saja yang menjawab apakah kau cinta padaku
atau tidak!" Dan kini dia menurunkan kedua tangannya, sepasang matanya
yang bening itu kini dengan penuh selidik menatap wajah Sin Liong!
Sin Liong menarik napas panjang. "Itulah yang membingungkan hatiku
selama ini,Sumoi. Mau bilang tidak mencintaimu, buktinya aku suka kepadamu.
Akan tetapi untuk menyatakan bahwa aku cinta padamu, sulit pula karena aku
sendiri tidak tahu bagaimana sesungguhnya cinta itu. Apakah seperti cintanya
suhu terhadap ibumu yang berakhir dengan peristiwa menyedihkan itu? ataukah
seperti cintanya Ibumu kepada Suhu? Ataukah seperti cintanya The Kwat Lin dan
suhu? Hemm, mengapa semua cinta itu demikian palsu dan mengakibatkan hal yang
amat menyedihkan? Aku menjadi ngeri melihat cinta macam itu, Sumoi."
Swat Hong memandang heran. "Ahhh, aku tidak pernah memikirkan
cinta seperti yang kau kemukakan ini, suheng."
"Mudah saja. Lihat saja apa yang terjadi antara Suhu, Ibumu, dan
The Kwat Lin. Seperti itukah cinta? Hanya mendatangkan cemburu, kemarahan,
kebencian, dan permusuhan hebat. Apakah itu cinta? Kalau seperti itu, aku ngeri
dan aku tidak berani berlancang mulut menyatakan cinta kepada siapapun, Sumoi.
Karena, kalau hanya seperti itu akibatnya, maka cinta yang kunyatakan hanyalah
merupakan kembang bibir belaka, hanya cinta palsu belaka. Bayangkan saja,
Sumoi. Di antara kita berdua, sejak kecil sampai sekarang menjelang dewasa,
tidak pernah ada pertentangan dan tidak pernah ada urusan apa-apa. Akan tetapi,
setelah kita berdua mengaku cinta, lalu timbul soal-soal cemburu, kecewa dan
lain-lain. Apalagi setelah menjadi suami istri...hemm, betapa mengerikan kalau
melihat contoh yang kita saksikan di Pulau Es ini."
Swat Hong menunduk dan tak mampu menjawab. Persoalan yang diajukan oleh
Sin Liong itu terlampau berat baginya, sulit untuk dimengerti. Baginya, sebagai
seorang wanita, dia haus akan cinta kasih, akan perhatian, akan pemanjaan dari
seorang pria yang menyenangkan hatinya, seperti suhengnya ini. Akan tetapi,
setelah mendengar uraian Sin Liong tentang cinta yang diambilnya peristiwa di
Pulau Es sebagai contoh, dia pun ngeri dan tidak berani menyatakan perasaanya
itu.
"Aku tidak tahu, Suheng.., aku tidak mengerti. Terserah kepadamu
sajalah..."
Sin Liong kembali menarik napas panjang. Dia memang sudah mengambil
keputusan di dalam hatinya bahwa dia harus membalas budi kebaikan suhunya yang
sudah berlimpah-limpah diberikan kepadanya. Satu-satunya jalan untuk membalas
budi hanya dengan menyenangkan hati suhunya yang sedang berduka itu. Dia harus
menerima keputusan suhunya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong! Akan tetapi
dia tidak boleh membuat dara itu menderita dengan keputusannya ini, maka dia
harus tahu terlebih dahulu bagaimana pendirian Swat Hong. Dan sekarang, dara
itu sama sekali tidak berani mengaku tentang cinta.
"Sumoi, sekarang begini saja. Andai kata aku memenuhi permintaan
suhu, yaitu mau menerima ikatan jodoh denganmu, menjadi calon suamimu,
bagaimana dengan pendapatmu?"
Swat Hong menunduk dan menggigit bibirnya. Akhirnya dia dapat berbisik.
"Aku tidak tahu, terserah kepadamu dan kepada ayah..."
"Maksudku, apakah engkau merasa terpaksa? Apakah hal ini
menyenangkan hatimu? Sumoi, harap kau suka berterus terang. Kalau kau, seperti
aku, tidak bisa mengaku cinta begitu saja, setidaknya kukatakan apakah ikatan
jodoh ini tidak menimbulkan penyesalan bagimu?"
Swat Hong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala.
"Kalau begitu, andaikata aku menerima, engkau pun akan menerimanya
dengan senang hati?"
Swat Hong mengangguk!
"Kalau begitu, mari kita pergi menghadap Ayahmu. Aku akan menerima
permintaannya, karena betapapun juga, kita harus menghiburnya, menyenangkan
hatinya. Aku telah berhutang banyak budi dari suhu, maka kalau dengan
penerimaan ini aku dapat sekedar membalas budinya, aku akan merasa
senang." Sin Liong mengambil dayung perahu itu dan menggerakan dayung.
"Suheng, kau menerima karena kasihan kepada Ayah? jadi kau...kau
tidak cinta kepadaku?"
"Sumoi aku tidak berani berlancang mulut mengaku cinta. Aku telah
banyak menyaksikan cinta kasih yang kuragukan kemurniannya. Aku khawatir bahwa
sekali cinta diucapkan dengan mulut, maka itu bukanlah cinta lagi. Aku tidak
tahu, apakah cinta itu sesungguhnya, maka aku tidak berani lancang mengaku,
Sumoi..."
"Ahhh...!!"
Jeritan Swat Hong ini adalah campuran dari rasa kecewa dan juga
kekagetan hebat, matanya terbelalak memandang kedepan. Melihat wajah Sumoinya,
Sin Liong cepat menengok dan pada saat itu terdengar ledakan dahsyat dibarengi
dengan cahaya kilat yang seolah-olah membakar dunia.
Tampak oleh Sin Liong yang terbelalak memandang itu air muncrat tinggi
sekali disusul asap dan api, muncul dari permukaan laut antara perahunya dan
Pulau Es. Kedua orang muda yang terbelalak dengan muka pucat itu tidak
berkesempatan untuk terheran lebih lama lagi karena tiba-tiba karena perahu
mereka dilontarkan keatas, dalam saat lain perahu itu telah dipermainkan oleh
gelombang yang mendahsyat dan menggunung. Suara mengguruh memenuhi telinga
mereka dan keheningan yang baru saja mencekam lautan itu kini terisi dengan
kebisingan yang sukar dilukiskan.
Sin Liong berteriak, "Sumoi, bantu aku! Jangan sampai perahu
terguling!" keduanya mengerahkan tenaga, menggunakan dayungnya untuk
mengatur keseimbangan perahu. Namun, kekuatan gelombang air laut yang amat
dahsyat itu mana dapat ditahan oleh tenaga manusia, biarpun kedua orang pemuda
itu adalah tokoh-tokoh Pulau Es sekalipun? Perahu mereka menjadi permainan
gelombang, dilontarkan tinggi ke atas, disambut dan diseret kebawah,
seolah-olah tangan malaikat maut atau ekor naga laut yang menyeret perahu ke
dasar laut, akan tetapi tiba-tiba diayun lagi keatas, ditarik ke kanan,
didorong kekiri sehingga kedua orang murid Raja Han Ti Ong itu menjadi pening
dan setengah pingsan!
Mereka tidak ingat akan waktu lagi, tidak tahu berapa lama mereka
diombang-ambingkan air laut, tidak tahu lagi berapa jauh mereka terbawa ombak,
dan mereka tidak sempat menggunakan pikiran lagi. Yang ada hanya naluri untuk
menyelamatkan diri, menjaga sekuat tenaga agar perahu mereka tidak sampai
terguling dan tangan mereka tidak sampai terlepas memegangi pinggiran perahu.
Dengan tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin Liong memegang
lengan kanan sumoinya. Betapapun juga, dia tidak akan melepaskan sumoinya!
Swat Hong yang biasanya tabah dan tidak mengenal takut itu, sekali ini
menangis dengan muka pucat dan mata terbelalak. Terlampau hebat keganasan air
laut baginya, terlampau mengerikan melihat gelombang setinggi gunung yang
seolah-olah setiap saat hendak mencengkram dan menelannya itu!
Tiba-tiba Swat Hong menjerit. Segulung ombak besar datang dan menelan
perahu itu. Mereka gelagapan karena ditelan air, kemudian mereka merasa betapa
perahu mereka dilambungkan ke atas.
"Brukkk...!"
Keduanya terpental keluar, akan tetapi masih saling bergandeng tangan.
Cepat Sin Liong menyapu mukanya agar kedua matanya dapat memandang. Ternyata
perahu mereka telah dilontarkan ke sebuah pulau kecil yang penuh batu karang,
sebuah pulau yang menjulang tinggi akan tetapi hanya kecil-kecil sekali,
merupakan sebuah batu karang besar yang menonjol tinggi.
"Sumoi, lekas..., kita naik ke sana...!!" Sin Liong tidak
mempedulikan tubuhnya yang terasa sakit semua, membantu sumoinya merangkak
bangun. Pipi kanan dan lengan kiri Swat Hong berdarah, akan tetapi gadis itu
pun agaknya tidak merasakan semua ini, tersaruk-saruk dia dibantu suhengnya
merangkak dan menyeret perahu ke atas, kemudian mereka melanjutkan pendakian ke
atas puncak batu karang itu dengan susah payah.
Akhirnya mereka tiba di puncak batu karang dan apa yang tampak oleh
mereka dari tempat tinggi ini benar-benar menggetarkan jantung. Air di
sekeliling mereka. Air yang menggila, bergerak berputaran, gelombang yang
dahsyat menggunung, suara yang gemuruh seolah-olah semua iblis dari neraka
bangkit. Batu karang besar, atau lebih tepat disebut pulau kecil dari batu itu
tergetar-getar, seolah-olah menggigil ketakutan menghadapi kedahsyatan badai
yang mengamuk. Tidak tampak apa-apa pula selain air, air dan kegelapan,
kadang-kadang diseling cahaya menyambar dari atas, seperti lidah api seekor
naga yang bernyala-nyala,
"Ouhhhh..!" Swat Hong menangis dan cepat dipeluk oleh
suhengnya. Tubuh dara itu menggigil, pakaiannya robek-robek.
"Tenanglah... tenanglah, Sumoi...." Sin Liong berbisik dan
pemuda ini mengerti bahwa bukan hanya sumoinya yang disuruhnya tenang,
melainkan hatinya sendiri juga! Pengalaman ini sungguh dahsyat dan tidak
mungkin dapat terlupa selama hidupnya. Kebesaran dan kekuasan alam nampak
nyata. membuat dia merasa kecil tak berarti, kosong dan remeh sekali!
Sin Liong dan Swat Hong yang dipeluknya tidak tahu lagi berapa lamanya
mereka berada di tempat itu. Siang malam tiada bedanya, yang tampak hanya
kegelapan, air, dan kadang-kadang kilatan cahaya halilintar. Yang terdengar
hanyalah gemuruh air, angin menderu, dan kadang-kadang ledakan halilintar.
Tidak memikirkan dan merasakan apa-apa, yang ada hanya takjub dan ngeri!
Di luar tahunya dua orang itu, mereka telah berada di pulau batu karang
selama sehari semalam! Akhirnya badai mereda, badai yang ditimbulkan oleh
ledakan gunung berapi di bawah laut! Kegelapan mulai menipis, akhirnya tampak
kabut putih bergerak perlahan meninggalkan tempat itu, air mulai tenang dan
menurun, akhirnya tampaklah sinar matahari disusul oleh bola api itu sendiri
setelah kabut terusir pergi. Tampaklah lautan luas terbentang di bawah dan baru
sekarang ternyata oleh dua orang muda itu bahwa mereka duduk dipuncak batu
karang yang amat tinggi!
Swat Hong mengeluh, baru terasa betapa penat tubuhnya, betapa luka-luka
kecil dari kulitnya yang lecet-lecet, dan betapa haus dan lapar leher dan
perut!
"Sumoi, badai sudah mereda. Mari kita turun. Aihh, itu perahu
kita. Untung tidak pecah," kata Sin Liong dan dia menggandeng tangan
sumoinya, menuruni batu karang.
Perahu mereka tidak pecah, akan tetapi layar dan dayungnya lenyap. Sin
Liong mengangkat perahu itu, membawanya turun kebawah. "Mari kita lekas
pulang, Sumoi. Biar kudayung dengan kedua tangan."
Swat Hong duduk didalam perahu, mengeluh lagi dan berkata penuh
kegelisahan, "Bagaimana dengan Pulau Es? Badai mengamuk demikian hebatnya,
Suheng."
Aku tidak tahu, mudah-mudahan mereka selamat. Maka, kita harus cepat
pulang." dia lalu menggunakan kedua tangannya yang kuat sebagai dayung.
Perahu bergerak, meluncur di atas air yang tenang dan licin seperti kaca, sama
sekali tidak ada tanda-tanda di permukaan air bahwa air itu telah mengamuk
sedemikian hebatnya baru-baru ini.
Tak lama kemudian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari
batang pohon yang hanyut di air. Agaknya pulau-pulau kecil disekitar tempat itu
telah diamuk badai sedemikian hebatnya sehingga pohon-pohon tumbang dan terbawa
air. Setelah keadaan cuaca terang kembali, Sin Liong dapat menentukan arah
perahu dan tak lama kemudian tampaklah Pulau Es dari jauh. Kelihatannya masih
seperti biasa, sebuah pulau keputihan memanjang di kaki langit, berkilauan
tertimpa sinar matahari. Hati mereka lega. Dari jauh kelihatannya tidak terjadi
perubahan di pulau itu. Setelah agak dekat, mereka melihat pula puncak atap
istana di Pulau Es, maka legalah hati mereka.
Hati Sin Liong mulai berdebar tegang ketika perahunya sudah menempel di
Pulau Es. Keadaannya begitu sunyi. Sunyi dan mati! Tidak kelihatan seorang pun
di pantai, bahkan tidak tampak sebuah perahu pun. Dan bukit-bukit es tidak
seperti biasanya, kacau balau tidak karuan dan berubah bentuknya! Dengan hati
tidak enak kedua orang muda itu belari-lari ketengah pulau. Makin ke tengah,
makin pucat wajah mereka. Tidak ada seorang pun kelihatan, dan juga
pondok-pondok yang biasanya terdapat di sana-sini, sekarang habis sama sekali.
Tidak ada sebuah pun pondok yang tampak! Seolah-olah semua telah disapu bersih,
tersapu bersih dari pulau itu.
"Auhhhh...!" Swat Hong berdiri dengan muka pucat, kedua
kakinya menggigil.
"Mari kita ke istana, Sumoi!" Sin Liong yang berkata dengan
suara bergetar lalu menyambar lengan sumoinya dan diajaknya dara itu lari ke
dalam istana
Beberapa kali terdengar Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan, dan Sin
Liong juga kaget bukan main. Mereka seperti memasuki sebuah kuburan! Sunyi,
kosong, dan tidak ada bekas-bekasnya tempat itu didiami manusia! Habis sama
sekali, baik prabot-prabotan istana maupun manusia-manusianya! Tidak tertinggal
sepotong pun benda atau seorang pun manusia. Habis semua! Ke mana pun mereka
lari dan berteriak-teriak memanggil, yang terdengar hanya gema suara mereka
sendiri!
"Oughhh...!!" Swat Hong tidak menahan himpitan perasaan yang
ngeri dan berduka, tubuhnya tergelimpang dan tentu akan terbanting kalau tidak
cepat disambar oleh Sin Liong.
"Sumoi...!"
Akan tetapi suara ini kandas dikerongkongannya dan tanpa disadari pula,
kedua pipi Sin Liong basah oleh air matanya yang mengalir deras menuruni kanan
kiri hidungnya ketika dia memondong tubuh sumoinya yang pingsan itu ke dalam
kamar.
Akan tetapi dia termangu-mangu ketika tiba di ambang pintu kamar yang
terbuka, karena kamar itu pun kosong dan bersih, tidak ada sebuah atau sepotong
pun prabotannya. terpaksa dia merebahkan tubuh sumoinya di atas lantai, dan dia
sendiri merebahkan kepala diatas kedua lututnya sambil menangis. terlampau
hebat peristiwa yang dihadapinya. Pulau Es telah disapu bersih oleh badai!
Bersih sama sekali sehingga agaknya tidak ada seorang pun manusia yang
tertolong, tidak ada sepotong pun barangnya yang tinggal, kecuali bangunan
istana yang memang amat kuat itu.
Setelah siuman, Swat Hong menangis, "Aih, mengapa..? Mengapa...?
ayah, kasihan sekali Ayah...!"
Akhirnya Sin Liong dapat menghibur dan membujuknya. Mereka berdua lalu
mengadakan pemeriksaan dan mendapat kenyataan bahwa benar-benar Pulau Es telah
diamuk badai. Agaknya air laut telah naik sedemikian tinggi sehingga pulau itu
terendam air. Mereka menemukan beberapa potong pakaian yang tersangkut di
batu-batu dan dengan hati terharu penuh kedukaan mereka mengumpulkan pakaian
itu, entah punya siapa, sebagai barang peninggalan yang amat berharga. Kemudian
mereka memeriksa istana. Memang ada beberapa benda yang masih tertinggal di
dalam kamar di bawah tanah, akan tetapi yang berada di atas, semua habis dan
lenyap.
"Suheng, lihat ini...!" tiba-tiba Swat Hong berkata sambil
menunjuk ke dinding. Sin Liong cepat menghampiri dan keduanya mengenal goresan
tangan Han Ti Ong yang agaknya menggunakan jari tangan yang penuh tenaga
sinkang untuk menulis di dinding batu itu!
"Sin Liong dan Swat Hong, maafkan aku. Thian telah menghukum aku
dan membasmi Pulau Es. Pergilah kalian mencari wanita jahat itu, rampas kembali
semua pusaka. Dan Bu Ong bukanlah puteraku, dia keturunan Kai-ong."
Pendek saja "surat dinding" itu, namun cukup jelas isinya.
Sin Liong menarik napas panjang. Kasihan dia kepada suhunya yang mati
meninggalkan dendam itu!
"Suheng lihat ini..."
Tak jauh dari tulisan itu terdapat bekas jari-jari tangan mencengkram
dinding. Mudah saja mereka menggambarkan keadaan Han Ti Ong dan keduanya tak
dapat menahan tangis mereka. Agaknya, dalam menghadapi amukan badai, Han Ti Ong
berhasil menggunakan tenaganya untuk mempertahankan diri beberapa lamanya
dengan mencengkram dinding dan sempat pula membuat tulisan itu sebelum kekuatan
yang jauh lebih besar dari pada kekuatanya menyeret keluar dari istana dan
bahkan dari pulau itu!
"Kasihan sekali suhu..." Sin Liong menghapus air matanya.
Swat Hong mengepal tinjunya. "Aku akan mencari perempuan iblis
itu, selain merampas kembali pusaka Pulau Es, juga menghukumnya! Dialah yang
mencelakakan ibuku, yang mencelakakan Ayahku!"
Sin Liong menarik napas panjang. Sudah diduganya ini. Tentu akan
terjadi balas-membalas. Dendam tak kunjung habis!
"Sumoi, Suhu hanya meninggalkan pesan agar kita mencari kembali
pusaka-pusaka itu...."
"Kau yang mencari pusaka, aku yang membunuh iblis betina
itu!" Swat Hong berseru penuh semangat. "Dan Bu Ong... hemm, apa pula
artinya ini? Bukan putera ayah?"
"Sumoi, tenanglah dan dengarlah penuturanku. Mungkin hanya aku dan
ayahmu saja yang tahu akan nasib wanita itu, nasib yang amat buruk dan
mengerikan. Tahukah kau apa yang telah dialami oleh The Kwat Lin sebelum
ditolong ayahmu?"
Sin Liong lalu menceritakan keadaan The Kwat Lin yang menjadi gila
karena dua belas orang suhengnya dibunuh orang dan agaknya, melihat keadaannya,
gadis yang tadinya seorang pendekar wanita perkasa itu telah diperkosa di
antara mayat para suhengnya.
"Kurasa demikianlah kejadiannya. Setelah suhu menyatakan bahwa Bu
Ong adalah keturunan Kai-ong, teringatlah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin
diperkosa oleh pembunuh dua belas orang anak murid Bu-tong-pai itu, sehingga anak
yang dilahirkannya itu, Han Bu Ong, adalah keturunan Kai-ong yang memperkosanya
dan membunuh para suhengnya."
Mendengar penuturan tentang nasib mengerikan yang dialami ibu tirinya,
Swat Hong bergidik. Akan tetapi dia mengomel.
"Yang berbuat jahat kepadanya adalah Raja Pengemis itu, mengapa
dia membalasnya kepada ibu? Dan dia telah menghancurkan penghidupan Ayah.
Betapapun juga, aku harus mencarinya dan membalaskan sakit hati ibu dan
Ayah."
Sin Liong maklum bahwa membantah kehendak sumoinya ini percuma, hanya
akan menimbulkan pertentangan saja. Maka diam-diam dia mengambil keputusan
untuk selalu mendamping sumoinya, selain menjaga keselamatan dara ini, juga
kalau perlu mencegah sepak terjangnya yang terdorong oleh nafsu dan dendam.
Betapapun juga, setelah Pulau Es dibasmi oleh badai, dara ini kehilangan ayah
bunda, tiada sanak kadang, tiada handai taulan dan dialah satu-satunya orang
yang patut melindunginya, sebagai suhengnya. Ataukah sebagai calon suami? Sin
Liong tidak mengerti dan tidak berani memutuskan. Biarlah hal perjodohan itu
diserahkan kepada keadaan kelak. Dia tidak membantah ketika sumoinya
mengajaknya meninggalkan Pulau Es yang telah kosong itu, untuk mencari ibunya,
dan kalalu masih juga tidak berhasil, untuk pergi ke daratan besar mencari The
Kwat Lin.
Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun
di antara penghuni Pulau Es yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong
dan Swat Hong berangkat meninggalkan Pulau Es. Ketika perahu kecil yang mereka
dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat Hong memandang kearah pulau dengan
air mata bercucuran. Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan
nasib para penghuni Pulau Es yang mengerikan itu. Mereka berdua mendayaung
perahu menuju ke selatan dan di sepanjang perjalanan ini mereka menemukan
bukti-bukti kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh letusan
gunung berapi di bawah laut itu. Ada pulau yang lenyap sama sekali dan ada pula
pulau yang baru muncul begitu saja, pulau yang amat aneh, pulau batu karang
yang masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan dasar laut dengan
segala keindahannya, dengan mahluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua
mengeras menjadi batu karang dengan bermacam bentuk. Banyak pulau yang
mengalami nasib serupa dengan pulau Es, yaitu menjadi gundul, habis sama sekali
tetumbuhan atasnya. diam-diam terbayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat
kekuasan alam. Andaikata semua lautan yang mengamuk seperti beberapa hari yang
lalu itu, agaknya dunia akan mejadi kiamat
Melihat keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir dalam hati Sin
Liong tentang keadaan Pulau Neraka. Tentu pulau itu pun tidak terluput dari
amukan badai, pikirnya. Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti
Ong dan pasukannya! Sin Liong merasa kasihan sekali terhadap nasib para
penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau itu seperti juga Pulau Es, disapu bersih
dan seluruh penghuninya terbasmi habis?
"Agaknya ibumu tidak berada diantara pulau-pulau ini,"
Beberapa hari kemudian setelah merasa mencari dengan sia-sia, Sin Liong
mengemukakan pendapat. "Bagaimana kalau kita mencari ke utara lagi. Siapa
tahu kali ini kita berhasil, dan kita dapat juga bertanya ke Pulau Neraka
kalau-kalau ibumu ke sana."
"Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, suheng."
Sian Liong mengerutkan alisnya. "sumoi, kau...cemburu lagi?"
Wajah dara itu menjadi merah. "Aku hanya berkata sewajarnya."
"Sudahlah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di Pulau
Neraka," kata Sin Liong menarik napas panjang.
Hening sejenak dan mereka telah menghentikan gerakan dayung karena
mereka masih belum mendapat keputusan akan mencari ke mana.
"Kita ke Pulau Neraka!" tiba-tiba Swat Hong berkata.
"Ehhh...??"
"Aku harus ke sana. Aku akan menegur kakek berkepala besar itu!
Pulau Neraka yang menjadi biang keladi sehingga Ayah marah-marah kepada kita,
hampir saja kita dibunuhnya. Karena Pulau Neraka telah berani menawanku."
"Hemm, Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat dipersoalkan lagi?
Bukankah Ayamu telah menyerbu ke sana kurasa Ayahmu telah menghukum mereka
menurut cerita anak buah pasukan? Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke sana,
sumoi."
"Aku harus pergi ke sana!" dara itu berkeras.
Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani sumoinya ini
yang memiliki watak aneh dan hati yang keras seperti baja.
"Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk mencari ibu, akan
tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk mencari perkara, aku tidak mau. Kau
harus berjanji tidak akan membuat kekacauan di sana, sumoi."
"Hemmm, agaknya kau berkeinginan keras untuk menjadi sahabat baik
Pulau Neraka, ya? Karena ada...."
"Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita sahabat
baik mereka! Lupakah kau ketika mereka mengantar kita ketika meninggalkan pulau
itu? Karena itu, aku hanya mau pergi ke sana kalau untuk mencari ibumu dan
menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat keadaan mereka setelah ada badai
mengamuk."
Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga. "Baiklah, kita
lihat saja nanti."
Dan mereka lalu mendayung perahu dengan cepat menuju ke Pulau Neraka.
Akan tetapi, setelah mereka tiba di daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung
dan pangling karena didaerah itu telah terjadi perubahan hebat sekali. Mungkin
karena akibat badai yang mengamuk, yang ternyata mengambil daerah yang amat
luas itu, di sekitar situ telah muncul gunung-gunung es yang amat besar sehingga
Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh sebagai raksasa yang tidur itu kini
tidak kelihatan lagi karena semua jurusan terhalang pandangannya oleh
gunung-gunung es. Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat keluar
dari kurungan gunung-gunung es itu.
"Ahhh, dahulu tidak ada gunung-gunung es besar seperti ini,"
kata Swat Hong.
"Ini tentu diakibatkan oleh badai itu, Sumoi. Biarlah kita mengaso
dulu dan aku akan mencoba melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau tunggu
saja di sini."
Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi dan Sin Liong
meloncat ke daratan es. Kemudian dia menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki
gunung es itu untuk melihat dan mengenali daerah itu dari atas puncaknya yang
tinggi.
Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan
seluruh gunung es itu. Sin Liong terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk
melihat apa yang mengeluarkan suara seperti itu. Dari jauh tampak olehnya
seekor biruang besar sedang menggerakkan kedua kaki depanya ke arah
burung-burung yang menyambar-nyambar di atasnya. Burung-burung nazar (burung
botak pemakan bangkai) yang besar-besar beterbangan di atas biruang itu dan
menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan suara pekik mengerikan.
Melihat ini, Sin Liong cepat berlari mendekati. Ternyata biruang itu
terluka parah juga di beberapa bagian anggauta badannya, sedangkan di bawah
kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah bahwa biruang itu
tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia menang, akan tetapi dia menderita
luka-luka dan burung-burung nazar yang kelaparan itu kini hedak mengeroyoknya
dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar.
Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam untuk menyambiti
burung-burung itu. Terdengar suara plak-plok-plak-plok disusul suara
burung-burung nazar berkaok-kaok kesakitan dan mereka terbang ketakutan
menjauhi tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju, terasa nyeri
sekali. Dengan beberapa loncatan saja Sin Liong sudah tiba di depan beruang
itu. Beruang yang berkulit hitam dan amat besar itu menyeringai dan mengerang,
memperlihatkan gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah.
Matanya terbelalak penuh kecurigaan dan kemarahan kepada Sin Liong.
"Tenanglah, aku datang untuk menolongmu," kata Sin Liong
sambil maju lebih dekat.
"Auuughh..!"
Beruang itu menggerang dan kaki depan yang kiri menyambar kearah dada
Sin Liong. Melihat betapa telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan
cepat menangkap pergelangan kaki depan itu. Kiranya telapak kaki itu tertusuk
tulang dan masuk amat dalam. Agaknya dalam perkelahian melawan ular laut,
biruang itu mencengkram tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkram
sampai ada tulang punggung ular patah dan menusuk ke dalam daging di telapak kaki
depan itu, Sin Liong segera mencabut tulang itu. Darah mengucur deras dan dia
segera membalut dengan saputangannya.
Beruang itu kini tidak marah lagi. Agaknya dia cerdik dan dapat
mengerti bahwa orang yang datang ini bukan musuh, bahkan menolongnya. Kaki
depan yang terluka itu kini tidak nyeri lagi dan tentu saja, karena yang
membuat dia tersiksa rasa nyeri tadi adalah karena tulang yang menancap itu.
"Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati," Sin Liong
berkata dan dia memeriksa luka-luka di tubuh beruang itu. Ada sebuah luka di
tengkuk yang membengkak. Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya,
kalau tidak lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan nyawa beruang
itu.
0 komentar:
Posting Komentar