advertisement
Bukek Siansu Jilid 15 - "Hemmm, aku harus mencarikan daun obat
untuk luka-lukamu," katanya, lupa bahwa beruang itu tentu saja tidak
mengerti apa yang dia katakan.
"Hai, Suheng, ada apakah?" Tiba-tiba terdengar teriakan dari
atas.
Sin Liong menoleh dan melihat Sumoinya turun berlari-lari cepat sekali.
Setelah dekat, beruang itu menggerang dan memandang Swat Hong dengan marah.
"Huh, binatang buruk!" Swat Hong memaki.
"Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang berkelahi melawan
ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi. Beruang itu kuat sekali.
Aku harus mengobatinya sampai sembuh."
Swat Hong mengerutkan alisnya, "Perlu apa menolong binatang buas
seperti itu, Suheng? Membuang-buang waktu saja."
"Dia tidak buas lagi, sumoi. lihat betapa jinaknya. Dia pun mahluk
hidup yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan kepadanya, sumoi."
"Wah, kau lebih mementingkan dia..."
"Hei..., ada apa engkau...?" Tiba-tiba Sin Liong berteriak
melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik tangannya, seolah-olah
hendak mengajak Sin Liong pergi dari situ!
Beruang itu makin keras menggereng dan makin kuat menariknya. Diam-diam
Sin Liong kagum bukan main. Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya
dia hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakan
sinkang sekuatnya! Akan tetapi tiba-tiba dia mendapat firasat tidak baik
melihat sikap beruang itu, maka disambarnya tangan sumoinya dan dia berteriak.
"Awas, sumoi. Mari pergi, dia menghendaki demikian, entah
mengapa?"
Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoinya dan membiarkan dirinya
diseret oleh beruang itu. Binatang itu mengajaknya setengah paksa berlompatan
dan berlarian ke gunung es yang lain yang berdekatan. Baru saja mereka melompat
ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es
dimana mereka berada tadi telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil.
Kiranya gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya
telah diketahui oleh si Beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak
tampak dari situ. Ternyata binatang itu hanya diperingatkan oleh nalurinya yang
tidak ada pada manusia!
Sin Liong berdiri dengan muka pucat, kemudian dia merangkul biruang
itu. "Terima kasih, kakak biruang. Kiranya engkau malah menyelamatkan kami
berdua."
Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang. "Suheng, mari kita
segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur
dan itu kelihatan dari sini perahu kita. Untung tidak hilang. Marilah, suheng."
"Nanti dulu, sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati
luka-luka di tubuh beruang ini."
"Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini..."
"Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!"
"Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya
ketika kau mengusir burung-burung nazar itu, bukan? Aku melihat dari jauh.
Berarti sudah terbalas semua budi, bukan Marilah, Suheng."
"Tidak, sumoi. Kita tinggal di sini dulu sampai aku selesai
mengobatinya." Swat Hong menjadi marah.
"Agaknya kau lebih sayang beruang betina ini dari pada aku!"
"Sumoi...!"
Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi, berloncatan di atas pecahan
es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu
itu pergi dari situ! Sin Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut
menegur, akan tetapi karena maklum bahwa hal itu percuma saja, dia membatalkan
niatnya.
"Ngukkk... nguuuuukkk...." Beruang itu mendengus-dengus dan
menciumi kepalanya.
"Ahhh, Enci (Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami
watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan marah, akan tetapi bagaimana
hatiku dapat tega meninggalkan engkau yang terancam bahaya maut oleh
lukamu?"
Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun. Karena perahu sudah
dibawa pergi Swat Hong, Maka terpaksa dia mencari pulau yang masih ada
tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya, dan kalau jaraknya
terlalu jauh, biruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es
lainya atau kadang-kadang Sin Liong menggunakan sebongkah es yang mengambang
sebagai perahu, didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya, setelah melalui
perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada
tetumbuhannya dan di pulau kecil itu, mulailah dia mengobati luka-luka biruang
itu sampai sembuh.
Pada suatu hari dia melihat sebuah perahu kosong terbalik mengambang
tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali. Cepat menyuruh biruang
mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di
antara perahu pulau es. Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai,
pikirnya. Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon dan setelah beruang hitam
itu sembuh benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan
pulau. Akan tetapi tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar
perahunya.
"Heii, kakak beruang, kembalilah. Engkau sudah sembuh, dan aku
harus pergi mencari sumoi!"
"Nguuuk...nguukk...!" Beruang hitam itu mengeluarkan suara
mengeluh dan mukanya seperti orang menangis!
Sin Liong tersenyum. "Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke
atas!"
Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, beruang itu lalu
meloncat ke dalam perahu kini mukanya kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar
dan lidahnya terjulur keluar seperti sikap seekor anjing yang kegirangan.
"Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali sumoi!"
kata Sin Liong. "Kalau sumoi tidak menghendaki kau ikut, kau harus
kutinggalkan karena kau telah sembuh."
Demikianlah, Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari Pulau
Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia
tahu di mana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat
Hong, menjadi temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika perahu
meluncur dan binatang ini telah jinak benar-benar. Setelah kini dia mengenal
kembali keadaan dan tahu di mana letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat
dilakukan dengan cepat.
Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan suatu yang
membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah perahu besar kelihatan mendarat
di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil. Perahu itu
besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh. Dan
perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai. Tiang
layarnya patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada orangnya sama
sekali, berdiri miring di pantai Pulau Neraka.
Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka? Ternyata bahwa seperti juga
pulau lain. Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai. Hanya karena letaknya
agak jauh dari pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau
lain, terutama Pulau Es. Air juga naik tinggi dan menenggelamkan setengah
bagian pulau ini, banyak pula penghuninya yang tidak keburu lari ke tempat
tinggi, diseret dan ditelan badai. Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang
berada di tepi pantai bobol semua. Dan setelah badai mereda, sebuah perahu
besar terdampar di tepi pantai. Perahu itu adalah perahu bajak laut! Setelah
air menyurut, para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu segera
mendarat. Mereka itu kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara
mereka tewas ketika badai mengamuk sehingga jumlah mereka hanya tinggal dua
puluh lima orang itulah. Mereka mendarat di kepalai oleh raja bajak yang
memimpin mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai muara-muara sungai
Huangho dan Yangce. Kepala bajak ini adalah seorang laki-laki tinggi besar yang
buta sebelah matanya. Mata kiri yang buta karena tusukan pedang lawan dalam
pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih
menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar dan di antara para nelayan dan pedagang
yang suka berperahu, dia dikenal sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata
Satu) dan namanya adalah Koan Sek.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu mereka yang diamuk oleh
badai dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka! Andaikata mereka tahu juga,
mereka tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu, nama Pulau Neraka hanya
dikenal oleh Orang-orang Pulau Es. Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah
Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng.
Betapapun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh semua orang termasuk
para bajak. Akan tetapi karena pulau dimana perahu mereka mendarat bukanlah
Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka menjadi berani
dan setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah
pulau.
Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut
naik dan mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang berbisa pun
menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar. Andaikata
mereka itu berani menyerbu pulau dalam keadaan biasa tentu mereka akan menjadi
korban binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan jadinya. Mungkin
sekali tidak ada diantara mereka yang akan dapat lolos betapapun liar, ganas
dan lihai mereka itu.
Dapat dibayangkan betapa heran dan girangnya hati para bajak itu ketika
mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok-pondok yang dibuat
oleh manusia! Akan tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan
hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka dengan serangan dahsyat
tanpa peringatan apa-apa. Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa
berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka
sambut dengan gembira. mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah
orang-orang biasa saja.
Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat kenyataan betapa
kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak
dibasmi oleh badai, yang berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata
memiliki kepandaian hebat! Terjadilah perang tanding yang seru dan mati-matian.
Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong itu pun bukan orang-orang biasa melainkan
penjahat-penjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai
ilmu silat. Apalagi Tok-gan-hai-liong sendiri bersama seorang pembantu yang
sebetulnya adalah sutenya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu,
seorang ahli pedang yang lihai sekali. Sedangkan Tok-gan-hai-liong Koan Sek
sendiri adalah seorang hali bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan
sebuah bola baja yang berat dan keras.
Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan
ketua mereka, Ouw Kong Ek, sedang menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan
pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit.
Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga karena usianya yang
sudah tua. Pernyerbuan dari Pulau Es itu merupakan hal yang amat menyakitkan
hatinya, dan juga hati para penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam
yang lebih mendalam. Apalagi melihat betapa catatan pengobatan dari Kwa Sin
Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali.
Untung masih ada beberapa macam obat yang hafal olehnya, akan tetapi sebagian
besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah itu.
Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat bangun dari
tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat oleh cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat
dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang datang
melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan
bajak laut yang ganas dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi!
"Keparat...!"
Kakek itu meloncat bangun akan tetapi terguling kembali dan Soan Cu
segera memegang lengan kakeknya, membantunya untuk rebah kembali.
"Tenanglah, Kong-kong! Biarlah aku yang keluar untuk membantu
teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu."
Ouw Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak
kuat untuk bangun, apalagi bertempur.
"Hati-hatilah, Soan Cu..." Dia percaya akan kepandaian
cucunya yang tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya
terdiri orang-orang kasar itu.
Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari keluar. Melihat anak
buahnya sudah bertanding mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas, apalagi
melihat seorang wanita Pulau Neraka digeluti oleh dua orang laki-laki kasar
sampai wanita itu menjerit-jerit namun dua orang laki-laki itu malah
tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu, Soan Cu menjadi marah
sekali. Dia mengeluarkan teriakan marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke
depan, pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa wanita
itu roboh dengan leher terkuak lebar dan hampir putus! Wanita itu cepat
membereskan pakaiannya, menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan
dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi.
Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang
bajak, Tok-gan-hai-liong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang
bajak lain cepat mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk hebat dan
pedangnya berubah segulung sinar terang yang menyambar Dahsyat, membuat dua
orang pimpinan bajak itu terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati
sekali agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang
dimainkan oleh dara itu.
"Lepas tulang ikan!!"
Tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada sutenya dan mereka
berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang
banyaknya melanjutkan pengeroyokan, sedangkan mereka berdua lalu mengayun
tangan berkali-kali ke arah Soan Cu. Sinar lembut bertubi-tubi menyambar ke
arah Soan Cu dari depan dan belakang. Dara ini memandang rendah senjata rahasia
mereka. Dia adalah Seorang dara Pulau Neraka sudah terlalu banyak racun
dikenalnya bahkan dia telah menggunakan obat anti racun maka dia tidak terlalu
khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu mengenai
pahanya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah
lumpuh dan begitu dia menggerakan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening.
"Aihhh...!" Dia berseru nyaring, lebih merasa heran daripada
khawatir.
Dara ini tidak tahu bahwa lawannya menggunakan am-gi (senjata gelap)
berupa tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa. Bisa
dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari binatang
darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun yang
dipakainya.
"Sute, tangkap nona manis ini...!"
Teriak Koan Sek dengan girang. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara
gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main. Dua orang bajak
yang mendengar suara itu dekat sekali dibelakang mereka menengok dan... mereka
itu terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri dengan ketakutan. Kiranya
yang menggerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan.
Seekor beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka
sekaligus!
Sin Liong yang datang bersama beruang itu cepat meloncat mendekati Soan
Cu merampas pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan tangan kiri,
kemudian sekali meloncat dia telah berada di punggung beruang, lengan kiri
memeluk dan menjaga tubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah
menjadi pingsan sedangkan tangan kanan menggerakan pedang dara itu sambil
beseru
"Kakak beruang, lawan mereka yang berani mendekat!"
Beruang itu menggereng-gereng dan ketika melihat dari kiri ada sinar
menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakan oleh Coa Liok Gu sute dari kepala
bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini dipergunakan seperti tangan itu
bergerak menangkis, bukan menangkis pedang melainkan mencengkram kepala Coa
Liok Gu. Tentu saja orang ini kaget dan sekali merendahkan tubuh, membalikan
pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan beruang itu menyambar
lawan, dia meloncat ke atas dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara
kedua mata beruang itu.
"Cringgg...!!" Pedangnya terpental dan dia harus cepat
melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin dadanya robek oleh cakar beruang
setelah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi.
"Siuuuut...!!" Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan
Sek sudah bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung beruang hitam
dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga dahsyat.
"Cringgg...! Tranggg...!!" Dua kali senjata berat itu
ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala bajak itu berseru kaget
karena telapak tangannya hampir terkupas kulitnya dan terasa panas dan perih.
Pada saat dia terbelalak dan terheran, beruang itu sudah membalikan
tubuh dan sekali kaki depannya yang kanan menampar, kepala bajak itu mencoba
menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan beruang itu sudah
menubruknya dan mencengkram ke arah lehernya.
"Kakak beruang, jangan ...!" Sin Liong membentak.
Beruang itu terkejut dan ragu-ragu sehingga kesempatan itu dapat
dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh kebelakang. Dia dan pembantu
utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang
menunggang beruang itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biarpun
pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu tidak lagi berani menyerang
karena dia maklum bahwa selain beruang raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu
memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.
Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat itu.
"Hentikan pertempuran...!" Dia berseru berkali-kali namun percuma
saja, para bajak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang kasar yang
pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk.
Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan panjang dan suara itu
segera disusul suara berdengung-dengung dan berdesis-desis. Dapat dibayangkan
betapa kagetnya hati Sin Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang
kecil yang berbisa. Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya berdatangan
dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah digerakan oleh suara melengking
itu, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan!
Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung beruang dan kini beruang
itu pun terkejut dan ketakutan, seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti
bahwa bahaya maut datang mengancamnya.
"Uhhh... apa yang terjadi...?" Soan Cu mengeluh dan siuman
dari pingsannya.
Melihat dara itu sudah siuman. Sin Liong agak lega. "Bagaimana
lukamu?"
"Nyeri sekali, panas... eh, siapa yang memimpin binatang-binatang
berbisa itu?" Soan Cu turun dari pondongan Sin Liong. "Cepat
pergunakan obat penolak ini..." Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak
dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan obat bubuk di sekeliling mereka bertiga,
yaitu Soan Cu, Sin Liong dan beruang betina.
Soan Cu berkata lagi, "Sin Liong tolong... kau tangkap Si Mata
Satu itu...aku membutuhkan obat penawar racun am-gi-nya (senjata
gelapnya)...."
Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita kenyerian
hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata rahasia yang
mengandung racun luar biasa sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat
kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan, matanya terbelalak
ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan
binatang-binatang berbisa. Maka ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut
sekali, mengira bahwa pemuda itu akan menyerangnya. Dia tadi sudah mengambil
kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mengayun senjatanya
menghantam ke arah Sin Liong. Pemuda ini tadi melepaskan pedangnya, melihat
betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya, membiarkan
senjata berat itu lewat dan secepat kilat kedua tangannya menyambar dan sebelum
Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh
pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak
kecil saja. Percuma dia meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti
terbang, kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan Soan Cu. Koan
Sek menggigil.
Selain dia maklum betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri
sekali menyaksikan apa yang terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu. Terdengar
jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka telah mundur dan menonton
sambil tertawa-tawa. Akan tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi
penyerangan binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya.
Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat mereka panik. Mengerikan sekali
melihat mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis mengerung-ngerung
karena tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh.
"Cepat bertindak, halau mereka, Soan Cu!" Sin Liong berkata
dengan alis berkerut. Biarpun yang dikeroyok binatang-binatang itu adalah kaum
bajak, namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu.
Soan Cu menggeleng kepala. "Tak mungkin. Mereka digerakan oleh
suara melengking itu..."
"Suara apa itu? Siapa yang membunyikan?"
Soan Cu tersenyum dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya
seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung.
"Siapa lagi? Satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah
Kong-kong... augghh ..." Dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin
Liong.
"Aduh celaka..., binatang-binatang itu...." Tok-gan-hai-liong
Koan Sek menggigil dan dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana
pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang untuk berusaha mengusir
lebah-lebah putih yang mengeroyoknya.
"Kalau kau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami nasib yang
sama," Kata Sin Liong, menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak.
"Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini."
Koan Sek memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa
ular-ular beracun yang bermacam-macam warnanya itu benar saja membalik lagi
ketika mendekati garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih yang terbang dekat,
agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu pun terbang membalik, mengamuk
dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran.
Saking ngerinya melihat betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena
kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa pembantunya yang juga merupakan
sutenya melolong-lolong dan bergulingan, dikeroyok banyak sekali binatang yang
mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan dia menjatuhkan
diri berlutut!
Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang terjadi
disekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia akan
meloncat dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaanya yang kejam, membunuh
para bajak seperti itu. Akat tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan
sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek itu pun tidak tampak. pula,
mana mungkin dia berani meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala
bajak? Maka pemuda ini merasa seperti disayat-sayat jantungnya menyaksikan
pembunuhan yang amat kejam itu, melihat betapa dua puluh empat orang bajak
menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolong-lolong, akhirnya
suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang disembelih,
kemudian tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa
yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging mereka!
Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini datang ke
tempat itu sambil merangkak dengan susah payah, tubuhnya kelihatan lemah dan
kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia meniup sebatang alat tiup
terbuat daripada batang alang-alang, menyerupai suling kecil. Pantas saja
suaranya melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggauta Pulau Neraka
segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang dan kini
binatang-binatang itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek
merobah suara tiupan sulingnya. Akhirya yang tinggal hanya mayat-mayat dua
puluh empat orang bajak dalam keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang
penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam pertempuran.
"Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?" Ouw Kong
Ek dituntun anak buahnya datang mendekat.
Sin Liong mengerutkan alisnya. "To-cu, engkau sungguh kejam,
membunuh mereka seperti itu."
Kakek itu terbelalak. "Aku? kejam? Dan mereka ini...?" Dia
menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut. "Dan...hei, siapa dia ini?
Ah, bukankah dia ini pemimpin mereka?" Ouw Kong Ek sudah melangkah maju
menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat
"Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan tetapi nyawa
cucumu berada didalam tangannya!"
"Soan Cu...!" Ouw Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong
oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu. "Mengapa dia?"
"Terkena senjata beracun." Kemudian dia memandang Koan Sek
dan membentak, "hayo kau berikan obat penawar senjata gelapmu!"
Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalaman,
seorang yang menjelajah di dunia kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali.
Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga sutenya, tewas secara
mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya. Akan tetapi
sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali
keberaniannya dan dia tersenyum.
"Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan
siapa kalian ini?" tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa jerih
sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan
tandingannya itu.
"Kau belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah
ketuanya." Dia menuding kepada Ouw Kong Ek. "Sedangkan Nona ini
adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat penawarnya."
"Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi obat penawarnya. Aihh,
kiranya kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya
seperti iblis pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda,
mudah saja mengobati luka Nona ini, akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri?
Anak buahku telah tewas semua dan aku dalam cengkraman kalian!"
"Engkau... engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!" Ouw
Kong Ek membentak.
"Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku tidak takut mati
setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman terutama sekali cucumu.
Kalau orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja
seperti dia ini, apalagi kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha!
biarlah aku mati ditemani oleh dara remaja ini!"
Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling
batang alang-alang itu hancur di tangannya. Melihat kemarahan ketua Pulau
Neraka itu, Sin Liong Berkata, "Ouw-tocu apa yang dikatakan benar. Sudah
kuperiksa luka cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang
belum pernah aku melihatnya. Maka, biarlah kita menukar keselamatannya dengan
keselamatan Soan Cu. Betapapun juga, nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari
pada kehidupan seorang sesat seperti dia."
"Ha-ha-ha, itu baru omongan yang tepat!" Tok-gan-hai-liong
Koan Sek yang merasa "mendapat angin" berkata dengan dada
dibusungkan. Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau Es berada di
tangannya. Apalagi yang ditakutinya?
"Iblis keparat! Hayo kau berikan obat untuk cucuku dan kau boleh
minggat dari sini!" Ouw Kong Ek membentak.
"Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang
tolol." Dia lalu menoleh kepada Sin Liong. "Orang muda apakah
kedudukanmu di Pulau Neraka ini?"
Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia mendengar ketua Pulau
Neraka menyebut taihiap (pendekar besar) kepada pemuda ini. Dan kalau ada yang
dipercaya di situ. Maka satu-satunya orang adalah pemuda ini.
"Aku bukan penghuni Pulau Neraka aku adalah seorang dari Pulau
Es...."
"heeeehhh...??"
0 komentar:
Posting Komentar