advertisement
Bukek Siansu Jilid 13 - "Ahhh, engkau terlalu memuji, Soan Cu. Sebetulnya adalah
Kong-kongmu yang sengaja mengalah kepadaku," kata Sin Liong, dan mukanya
menjadi merah. Dia maklum bahwa Soan Cu seorang dara remaja yang berhati polos
dan wajar, maka di depan semua orang tanpa segan-segan menyatakan kekagumannya
dan memegang kedua tangannya begitu saja.
Sampai tiga bulan lamanya Sin Liong dan Swat Hong di Pulau Neraka.
Dengan teliti dan hati-hati Sin Liong melakukan penyelidikan tentang segala
macam racun yang terdapat di pulau itu, kemudian dia mencarikan obat penawarnya
dan menulis serta melukiskan nama dan bentuk daun, akar, bunga, atau buah yang
berkhasiat sebagai penawar racun-racun itu. Sibuklah ketua Pulau Neraka, dan
para pembantunya mencarikan bahan-bahan obat itu dan setelah tiga bulan,
barulah lengkap catatan Sin Liong.
Ouw Kong Ek dan semua penghuni Pulau Neraka merasa berterima kasih
sekali kepada Sin Liong, apalagi setelah terbukti banyak penghuni yang sembuh
dari penderitaan penyakit akibat keracunan setelah menggunakan obat-obat
seperti yang ditunjuk oleh pemuda itu. Dia dianggap sebagai seorang dewa
penolong mereka dan diperlakukan dengan sikap penuh hormat.
Setelah "terpaksa" tinggal di Pulau Neraka selama tiga bulan,
akhirnya Swat Hong mendapatkan kenyataan bahwa Soan Cu adalah seorang remaja
yang benar-benar tulus, jujur dan wajar sehingga mudah saja di antara mereka
terjalin persahabatan yang akrab. bahkan karena dara Pulau Neraka itu dengan
terang-terangan tanpa dibuat-buat dan tanpa usaha menarik hati Sin Liong
menyatakan suka dan cintanya kepada Sin Liong, Swat Hong menyambut pernyataan
itu dengan hati terharu.
Diam-diam menaruh hati kasihan kepada dara Pulau Neraka ini karena dia
tahu bahwa hati suhengnya itu jauh daripada cinta! Suhengnya belum pernah mengacuhkan
tentang hubungan di antara mereka, juga suhengnya sama sekali tidak kelihatan
menaruh hati kepada Soan Cu. Dianggapnya suhengnya itu terlalu
"dingin" dan sudah seringkali dia sendiri merasa kecewa melihat
suhengnya sebagai seorang pemuda yang tidak ada semangat! Padahal dia sendiri
belum yakin apakah dia mencintai suhengnya, sungguhpun dia merasa suka sekali
kepada pemuda itu namun sebagai seorang dara remaja, tentu saja dia merasa
tidak puas menyaksikan sikap pemuda yang "dingin" saja terhadapnya.
Sebagai seorang wanita muda yang sehat dan normal, tentu saja Swat Hong juga
ingin agar semua orang, terutama kaum pria, memandangnya dengan kagum dan suka,
bahkan dia pun seperti semua wanita di dunia ini agaknya, akan merasa bangga
kalau semua orang laki-laki jatuh cinta kepadanya!
Hari keberangkatan mereka meninggalkan Pulau Neraka pun tibalah. Sin
Liong dan Swat Hong diantar oleh semua penghuni Pulau Neraka sampai ke pantai,
dimana telah tersedia sebuah perahu yang lengkap dengan layar, dayung dan bekal
makanan. Soan Cu mengantar dengan mata berlinang air mata. Semenjak tadi dara
ini menangis, bahkan rewel kepada kakeknya hendak ikut pergi bersama Sin Liong
dan Swat Hong.
"Hushhh, apakah kau gila?" demikian kakeknya menjawab.
"Kau hendak ikut ke Pulau Es? tidak tahukah kau bahwa semua penghuni Pulau
Neraka dilarang menginjakkan kaki ke Pulau Es? Begitu kau tiba di sana, kau
akan dijatuhi hukuman sebagai seoran pelanggar hukum!"
Juga Sin Liong dan Swat Hong melarang dengan alasan bahwa Swat Hong
sendiri sedang menghadapi malapetaka, bahkan dia bersama suhengnya sedang
berusaha mencari ibunya. Selama tiga bulan ini, Ouw Kong Ek sudah mengerahkan
pembantunya untuk mencari Liu Bwee, bekas istri Raja Han Ti Ong, ke pulau-pulau
kosong di sekitar Pulau Neraka, namun hasilnya sia-sia belaka. Tentu saja para
penghuni Pulau Neraka yang mencari itu tidak berani terlalu mendekat Pulau Es.
Setelah perahu yang ditumpanginya Sin Liong dan Swat Hong pergi Jauh,
Soan Cu menjatuhkan dirinya menangis.
"Kong-kong, akupun mau pergi dari sini. Aku tidak tahan lagi
tinggal lebih lama di Pulau Neraka tanpa adanya mereka berdua! Aku harus pergi,
aku harus pergi mencari ayahku, seperti Swat Hong yang pergi mencari
ibunya!"
Kong-kongnya hanya menggeleng kepala, menghela napas dan menggandeng
cucunya yang tercinta itu kembali ke tengah pulau. Hati orang tua ini khawatir
sekali karena dia tahu bahwa cucunya telah mulai dewasa dan telah tergoda oleh
cinta sehingga merasa tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka. Dia
maklum bahwa agaknya takan lama lagi cucunya itu tentu akan nekat meninggalkan
pulau dan kalau hal yang dikhawatirkan itu terjadi, apalagi artinya hidup
baginya di pulau itu? Puteranya telah lenyap dan satu-satunya orang yang
selamanya ini membuat hidupnya berarti hanyalah Soan Cu.
Ketika perahu meeka mendarat di Pulau Es, Sin Liong dan Swat Hong
saling pandang dengan hati yang berdebar. Mereka sudah menjelajahi seluruh
pulau di sekitar Pulau Es untuk mencari ibu Swat Hong, namun sia-sia belaka.
Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke Pulau Es, dengan harapan
mudah-mudahan ibu dara itu sudah kembali ke Pulau Es.
"Bagaimana kalau ibu tidak berada di sana? Bukankah berarti bahwa
aku telah melanggar janjiku untuk mewakili ibu yang dibuang ke Pulau
Neraka?" Swat Hong bertanya ketika perahu mereka tadi sudah mendekati
Pualu Es.
"Jangan khawatir, Sumoi. Suhu adalah ayahmu sendiri, dan betapapun
marahnya, aku percaya bahwa suhu akan dapat memaafkanmu. Aku percaya akan
kebijaksanan Suhu, dia bukanlah seorang yang berbudi rendah...."
"Tapi dia telah terkena racun yang hebat, racun yang seratus kali
lebih kejam daripada racun yang paling jahat di pulau Neraka! Dia telah terkena
hasutan mulut wanita jahat itu..."
"Ssttt, Sumoi, jangan mempersulit keadaan dengan menyangka yang
bukan-bukan. Sudalah, kekhawatiranmu itu hanyalah permainan pikiran yang
membayangkan hal yang belum terjadi. Singkirkan saja kekhawatiran kosong itu
dan mari kita hadapi kenyataan. Percayalah, apa pun yang akan terjadi, aku
tidak akan membiarkan engkau terancam bencana. Mari kita hadapi apa saja yang
menimpa kita berdua."
"Suheng... betulkah? Betulkah kau akan membela dan melindungi
aku?"
"Tentu saja, Sumoi."
"Menghadapi Ayah sekalipun?"
"Menghadapi siapa saja karena aku yakin bahwa engkau tidak
mempunyai kesalahan apa pun."
"Kalau begitu, aku menjadi besar hati, Suheng. mari kita
mendarat."
Makin tegang hatinya dan juga terheran-heran ketika dia melihat betapa
beberapa orang penghuni Pulau Es kebetulan berada di situ, segera berlari pergi
menuju ke tengah pulau, bahkan tidak berhenti ketika dia dan suhengnya
memanggil mereka.
Makin tidak enak mereka, namun dengan tenang Sin Liong mengajak
sumoinya untuk menuju ke Istana Pulau Es di tengah pulau itu, menemui Raja Han
Ti Ong dan bertanya tentang Liu Bwee. Tak lama kemudian, keduanya berhenti
tiba-tiba ketika melihat raja itu sendiri berlari-lari datang bersama
permaisuri dan pembantu-pembantu yang terpercaya. Tadinya Swat Hong merasa girang,
wajahnya berseri karena dia mengira bahwa ayahnya datang menyambutnya dengan
girang melihat dia pulang. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ayahnya sudah
tiba di depan mereka, langsung raja Han Ti Ong menudingkan telujuknya ke arah
mereka sambil membentak,
"Manusia-manusia rendah! kalian masih berani menginjakkan kaki di
Pulau Es? Membikin kotor pulau ini? keparat!"
"Ayah...!!"
"Suhu...!!"
"Plak! Plak!!"
Tubuh Sin Liong dan Swat Hong terguling ketika tangan Raja itu dengan
kecepatan kilat telah menampar mereka. Dengan alis berdiri Raja Han Ti Ong
menudingkan telunjuknya bergantian ke arah muka dua orang muda yang menjadi
kaget setengah mati dan merangkak bangun itu.
"Jangan sebut aku Ayah dan Suhu! Kalian berdua telah minggat
dengan diam-diam, perbuatan yang tak tahu malu dan mengotorkan nama keluarga
Han! Masih berani datang dan menyebut Ayah dan Suhu kepadaku? Huh!!"
"Ayahhhh....apa...apa yang terjadi....? Mana Ibuku...?"
"Ibumu seorang yang hina, dan engkau anaknya pun tidak berbeda
banyak!"
"Ayah...!"
"Diam! Dan minggat engkau dari sini sebelum kubunuh!"
"Ayah, kalua begitu bunuk saja aku! Aku tidak berdosa...!"
Swat Hong yang berlutut itu menangis sesungguhnya.
"Bagus! Kau minta mati?"
"Suhu...!"
Suara Sin Liong ini mengandung wibawa sedemikian hebatnya sehingga Han
Ti Ong sendiri sampai terkejut menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri
puterinya. Sepasang mata Sin Liong mengeluarkan sinar yang luar biasa dan
sejenak Han Ti Ong ragu-ragu. Teringatlah dia akan keadaan dahulu ketika anak
ajaib ini menyuruhnya menolong The Kwat lin, menyuruhnya berhenti untuk
menguburkan mayat-mayat. Seperti itu pula kekuatan mujijat yang keluar dari
sepasang mata itu. Sepasang mata yang sedikitpun tidak membayangkan takut, atau
marah, atau kekerasan, hanya membayangkan kelembutan yang mengharukan.
"Suhu, harap suhu bersabar dulu. Menjatuhkan hukuman tanpa
memberitahu kesalahan orang, sungguh tidak adil sekali, sungguhpun Sumoi adalah
puteri Suhu sendiri."
Bangkit kembali marah Han Ti Ong. "Sin Liong, bagus perbuatanmu,
ya? Kau masih berpura-pura lagi? Dia pergi tanpa pamit, hal itu masih belum
apa-apa, akan tetapi dia pergi lalu kau susul, bersamamu pergi sampai
berbulan-bulan, pantaskah itu? Kalian tidak tahu malu, dan menodakan nama baik
keluarga Kerajaan Han!"
Diam-diam Sin Liong terheran. mengapa suhunya berubah seperti ini?
Tentu saja dia tidak tahu betapa para keluarga yang membenci Liu Bwee telah
menggunakan kesempatan selagi terjadi peristiwa penghukuman atas diri Liu Bwee
itu untuk membakar hati raja ini, terutama sekali melalui mulut permaisuri!
"Ayah, jangan menuduh yang bukan-bukan. Aku memang pergi dan
bertemu dengan suheng, akan tetapi apakah salahnya dengan itu?"
"Hemm, apa, salahnya, ya? Tidak salahkah kalau seorang pemuda dan
seorang dara berdua saja sampai hampir setengah tahun lamanya? Mingkinkah tidak
akan terjadi apa-apa antara kalian, di tempat sunyi, hanya berdua saja!
Hem...hemmm... siapa percaya tidak akan terjadi apa-apa yang kotor?" ucapan
ini keluar dari mulut permaisuri, The Kwat Lin yang tersenyum mengejek.
"Ibu, kalau Enci Hong dan Suheng melakukan hubungan gelap,
kawinkan saja mereka, mengapa ribut-ribut?" Tiba-tiba Bu Ong, putera raja
yang baru berusia kurang lebih delapan tahun itu, berkata dengan suara nyaring.
"Hussshhh! Tutup mulutmu!" Kwat Lin membentak puteranya yang
segera cemberut, tapi memandang kepada Swat Hong dan Sin Liong dengan pandang
mata mengejek.
Hampir saja Swat Hong tak dapat percaya akan apa yang didengarnya. Ayah
dan ibu tirinya menuduh dia berjinah dengan Sin Liong! Dengan dada sesak dan
kemarahan yang meluap-luap, Swat Hong lupa diri dan meloncat bangun, menjerit
dengan kata-kata yang seperti dilontarkan kepada ayahnya,
"Ayah! Mengapa ada fitnah sekeji ini? Ayah, insyaflah, Ayah telah
dikelabui, Ayah telah mabuk oleh rayuan..."
"Plak! Desss!!" Tubuh Swat Hong terlempar dan
terguling-guling ketika terkena tamparan dan pukulan tangan ayahnya sendiri.
"Suhu, ini tidak adil sama sekali!"
"Plak! Desss!!!" Tubuh Sin Liong juga terjungkal, Akan tetapi
pemuda ini sudah meloncat bangun kembali. Sedikit pun tidak merasa takut,
bahkan kini dia memandang tajam kepada Han Ti Ong.
"Suhu, andaikata Suhu memukul tee-cu sampai mati sekalipun, sudah
sepatutnya karena tee-cu hanyalah seorang murid yang telah menerima banyak
kebaikan dari Suhu dan tee-cu rela membalasnya dengan nyawa. Akan tetap, Sumoi
adalah puteri Suhu sendiri, darah daging suhu sendiri! Mengapa Suhu begitu
tega? Di manakah rasa kasih di hati Suhu?"
"Keparat!"
Han Ti Ong memaki dengan suara gemetar saking marahnya. Melihat betapa
Sin Liong berani menantangnya untuk membela Swat Hong makin besar
kepercayaannya akan desas-desus bahwa puterinya main gila dengan muridnya ini.
"Kau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau dia orang lain, aku tidak akan
perduli apa yang dilakukannya. Justru karena dia anakku dan aku cinta kepada
anakku, maka aku perlu menghajarnya!"
"Hemmm, begitulah cinta di hati Suhu? Cinta suhu siap untuk
berubah menjadi kemarahan, kebencian yang meluap karena Suhu merasa bahwa
puteri Suhu tidak menyenangkan hati suhu? itu bukan cinta, Suhu! Suhu hanya
mementingkan diri sendiri, kalau disenangkan hati Suhu, biar orang lain
sekalipun akan Suhu perlakukan dengan baik, akan tetapi kalau hati Suhu
dikecewakan, biar anak sendiri akan dibunuh!"
"Plak-plak! Dess...!" Kembali tubuh Sin Liong terjungkal dan
kini darah mrngucur dari mulut dan hidungnya.
"Suheng...! Ahhh, Ayah... Jangan...!" Swat Hong sudah
meloncat ke depan dan menubruk suhengnya.
"Anak durhaka, murid murtad! Dess!" kini Swat Hong yang
mengeluh dan terjungkal terkena tendangan ayahnya yang sedang marah itu.
Masih untung bagi mereka berdua bahwa Han Ti Ong hanya berniat
menghajar dan menghukum, kalau berniat membunuh, tentu mereka sudah tak benyawa
lagi. Saking marahnya, biarpun melihat murid dan puterinya sudah beberapa kali
dihantam dan ditendangnya sampai mulut dan hidung mengeluarkan darah dan muka
mereka bengkak-bengkak, Han Ti Ong masih saja menghajar mereka.
"Ongya, harap ampunkan mereka...." Tiba-tiba beberapa orang
pembantu utama berlutut di depan Raja yang marah ini dan menyabarkan hatinya.
Han Ti Ong berdiri dengan napas terengah-engah, mata terbelalak dan
muka merah sekali. dia menjadi hampir putus napasnya saking marahnya.
"Hemmm, mereka ini bocah-bocah kurang ajar yang layak
dibunuh!" katanya.
"Ongya, sejak dahulu belum pernah ada hukuman dilaksanakan tanpa
diadili lebih dulu, harap Ongya ingat akan keadilan Kerajaan Pulau Es yang
sudah terkenal semenjak ratusan tahun," kata seorang pembantu yang sudah
berusia lanjut.
Han Ti Ong menghela napas panjang dan dia teringat. Sebetulnya, dia
sedang berada dalam keadaan duka dan kecewa. duka mengingat akan istrinya, Liu
Bwee, yang kini menimbulkan penyesalan di dalam hatinya karena dia pun mulai
meragukan kesalahan istrinya itu. Kecewa karena serangkaian peristiwa yang
tidak menyenangkan hatinya, mengganggu ketentraman hidupnya di Pulau Es.
"Anak durhaka, untung engkau belum kubunuh! Kau boleh membela
diri, kalau memang masih ada yang akan kau katakan!"
Dengan tubuh sakit-sakit dan hampir pingsan, Sin Liong masih dapat
membantu Sumoinya, bangkit duduk, bahkan tidak memperdulikan keadaan dirinya
sendiri, dia menyusuti peluh, air mata dan darah dari muka sumoinya, kemudian
menarik sumoinya untuk berlutut di depan raja yang sedang marah itu.
"Sumoi, laporkanlah semuanya kepada Suhu..." bisiknya.
"Apa gunanya? Biarlah aku dibunuh! Biarlah, Ibu lenyap tak
berbekas dan akan dibunuhnya... tentu akan puas
hatinya...hu-hi-huuuuukkk...." Swat Hong menangis terisak-isak. Melihat
keadaan puterinya ini, tersentuh juga rasa hati Raja Han Ti Ong.
"Sin Liong, hayo ceritakan apa yang terjadi! kami semua menuduh
kalian berdua selama berbulan-bulan dan tentu kalian telah melakukan perbuatan
yang tidak senonoh. Mengakulah! Awas, kalau kau membohonng, akan kubunuh kau
sekarang juga!"
"Suhu boleh membunuh teecu kalau teecu berbohong. Bahkan kalau
teecu tidak membohong sekalipun, teecu menyerahkan nyawa teecu kepada suhu.
Sebetulnya, ketika melihat sumoi pergi membuang diri ke Pulau Neraka dan
melihat Subo juga pergi, teecu merasa kasihan dan berkhawatir sekali. Maka
teecu diam-diam lalu mengejar dan menyusul ke Pulau Neraka." kemudian
dengan panjang lebar dan jelas Sin Liong menceritakan semua pengalaman mereka
di Pulau Neraka dan mengapa mereka sampai berbulan-bulan berada di pulau itu.
Berkerut Raja Han Ti Ong. Di lubuk hatinya, dia percaya kepada muridnya
ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membohong dengan sikap
seperti yang diperlihatkan muridnya. Tidak, tentu muridnya tidak berbohong.
Akan tetapi hatinya masih marah dan ia makin marah ketika mendengar betapa
Pulau Neraka telah berani menahan puterinya sebagai sandera!
"Swat Hong! Benarkah cerita Sin Liong?" bentaknya kepada dara
yang masih menangis sesenggukan itu.
"Apa gunanya Ayah bertanya kepadaku? Lebih baik Ayah menyelidiki
sendiri ke Pulau Neraka. Kalau aku dan suheng berbohong, boleh bunuh seribu
kali juga tidak apa." Memang sejak dahulu Swat Hong bersikap manja kepada
ayah bundanya, pula dia memiliki watak keras, tidak takut mati, maka dalam
keadaan seperti itu pun dia bersikap berani dan menantang!
"Siapkan pasukan, tiga puluh orang untuk ikut bersamaku ke Pulau
Neraka!" Raja itu memerintah kepada pembantunya dengan suara marah dan
pada hari itu juga dia berangkat bersama tiga puluh orang pasukan menuju ke
Pulau Neraka!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya para penghuni Pulau Neraka ketika
diserbu oleh pasukan Pulau Es yang dipimpin Oleh Raja Han Ti Ong sendiri! Ouw
Kong Ek sendiri yang maju dan berusaha melawan, dalam belasan jurus saja telah
dirobohkan dan dipaksa menceritakan apa yang terjadi ketika puteri Raja Pulau
Es itu berada di Pulau Neraka.
Dengan kebencian dan dendam yang makin mendalam, Ouw Kong Ek
menceritakan keadaan sebenarnya, tepat seperti yang telah didengar oleh Han Ti
Ong dari mulut Sin Liong. Maka mulailah raja ini merasa menyesal mengapa dia
telah terburu nafsu menghajar, bahkan hampir saja membunuh Sin Liong dan Swat
Hong yang sebetulnya tidak berdosa. Mulailah dia teringat bahwa kemarahanya itu
timbul karena bujukan dan kata-kata yang membakar dari permaisurinya. Dia
menjadi marah sekali dan kemarahannya itu dilampiaskannya di Pulau Neraka.
Pulau itu diobrak-abrik, sebagai hukuman telah berani menahan puterinya. Bahkan
kitab catatan Sin Liong tentang racun dan pengobatanya, dihancurkan dan
dibakarnya! Setelah puas melampiaskan kemarahanya, Han Ti Ong memimpin
pasukannya meninggalkan Pulau Neraka, meninggalkan para penghuni yang banyak
menderita luka lahir batin itu dan Raja ini telah menanamkan dendam yang makin
menghebat di dalam hati para penghuni Pulau Neraka.
Sepekan kemudian, barulah rombongan Han Ti Ong tiba kembali di Pulau Es
dan wajah Raja ini seketika pucat setelah dia mendengar berita yang lebih hebat
dan mengejutkan lagi, yaitu bahwa sehari setelah dia dan pasukanya berangkat,
permaisuri dan pangeran telah pergi meninggalkan Pulau Es! Dan belum pulang.
Makin terpukul lagi bathin Raja Han Ti Ong ketika dia mendapat kenyataan bahwa
kitab-kitab pusaka Pulau Es telah lenyap, berikut banyak harta benda berupa mas
dan permata yang disimpan didalam kamarnya! Hampir saja dia roboh pingsan
mendapat kenyataan bahwa permaisurinya, The Kwat Lin, gadis yang ditolongnya
itu, ternyata telah berkhianat!
"Mengapa tidak kalian larang mereka pergi? Mengapa? Sin Liong,
engkau muridku, mengapa engkau mendiamkan saja pergi membawa pusaka-pusaka
kita?" dalam bingung dan marahnya dia menegur Sin Liong.
"Suhu, Subo pergi hanya memberi tahu bahwa Subo bersama Sute
hendak menyusul ke Pulau Neraka. Siapa yang berani menghalangi Subo? Kami semua
tidak ada yang mengira bahwa Subo tak kan kembali, dan tidak ada yang tahu
bahwa Subo membawa sesuatu, harap maafkan teecu."
Han Ti Ong membanting-banting kakinya, lalu berlari memasuki kembali
istana setelah tadi dia memeriksa dan melihat kehilangan pusaka Pulau Es.
Ketika dia memanggil dua orang muda menghadap, Sin Liong dan Swat Hong melihat
perubahan hebat terjadi pada diri raja sakti ini. wajahnya menjadi suram dan
gelap, sepasang mata yang biasanya bersinar dan berpengaruh itu, menjadi redup
seperti lampu kekurangan minyak. Dan rambut yang tadinya hanya sedikit
putihnya, mendadak berubah hampir seluruhnya, dan suaranya tidak bersemangat
ketika berkata,
"Sin Long..., Swat Hong..., kalian ampunkan aku..."
"Suhu...!" Sin Liong berlutut dan menundukan muka.
"Ayah... jangan berkata begitu Ayah...!" Swat Hong meloncat
menubruknya.
Ayah dan anak itu saling rangkulan dan Sin Liong makin menundukan
mukanya ketika mendengar suhunya menangis mengguguk seperti anak kecil! Setelah
Han Ti Ong dapat menguasai kembali hatinya dia mencium dahi puterinya dan
menyuruhnya duduk kembali. Swat Hong menyusuti air matanya dan berlutut di dekat
Sin Liong.
"Aku telah bedosa. Sekarang baru aku tahu...aku telah berdosa.
Mungkin sekali... tidak, aku yakin sekarang, bahwa ibu Swat Hong tidak bersalah
apa-apa, hanya terkena fitnah... aih, apa yang telah kulakukan? Dan aku hampir
saja membunuhmu, Sin Liong, dan kau Swat Hong anakku. Orang macam apa aku ini?
Dan aku mengaku cinta kepada anakku? Huh, huh, engkau benar, Sin Liong. Tidak
ada cinta di dalam hatiku yang kotor, yang ada hanya nafsu berahi sehingga
mudah saja aku dipermainkan oleh wanita itu. Aihhhh....kalian maafkan aku. Swat
Hong, hanya satu pesanku kepadamu, anakku. Kau... kau menjadilah jodoh Sin
Liong. Jadilah kalian suami istri, baru akan terobati hatiku..."
"Suhu...!"
"Ayah...!"
"Muridku....anakku....,maukah kalian melegakan hatiku? Aku ingin
menebus kesalahanku... aku ingin melihat kalian menjadi suami istri, kalian
anak-anak malang..."
"Suhu, teecu mohon ampun. Teecu...tidak ada dalam hati teecu untuk
memikirkan soal jodoh..."
"Ayah, mengenai jodoh tidak dapat ditentukan begitu saja. Biarkan
kami menentukannya sendiri..."
Han Ti Ong menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, kemudian
bangkit berdiri, membalikan tubuh dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan
dua orang muda yang masih berlutut itu. Semenjak saat itu, sampai berhari-hari
lamanya, Raja itu tidak pernah keluar dari kamarnya sehingga membuat gelisah
semua pembantunya. Keadaan di Pulau Es tidak seperti biasa, semua penghuni
dapat merasakan ini. Semenjak terjadinya peristiwa yang memalukan dan
menyedihkan menimpa keluarga Raja Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi dan semua
wajah para penghuni kelihatan muram. bahkan cuaca juga seolah-olah berubah
suram, seringkali malah menjadi gelap oleh mendung tebal. Hati semua orang
merasa gelisah tanpa mereka ketahui sebabnya, seolah-olah merupakan tanda
rahasia bahwa akan terjadi hal-hal lebih hebat lagi.
Peristiwa yang menyedihkan yang menimpa Han Ti Ong bisa menimpa diri
setiap orang, dan memang kita sebagai manusia hidup selalu terlupa bahwa
mengejar kesenangan sama artinya dengan memanggil kesengsaraan!
Kita hidup dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik, lebih
menyenangkan dari pada keadaan seperti apa adanya. Kita tidak pernah membuka
mata, tidak pernah menghayati keadaan saat ini, tidak dapat melihat bahwa saat
ini mencakup segala keindahan. Dengan membandingkan keadaan kita dengan keadaan
lain, kita selau menganggap bahwa keadaan buruk tidak menyenangkan, dan kita
selalu memandang jauh kedepan, mencari-cari dan menghayalkan yang tidak ada,
keadaan yang kita anggap lebih menyenangkan. Karena kebodohan kita inilah maka
kita hidup dikejar-kejar oleh kebutuhan setiap saat, detik demi detik kita
mengejar kebutuhan.
Kebutuhan adalah keinginan akan sesuatu yang belum tercapai, yang kita
kejar-keja. Lupa bahwa kalau yang satu itu dapat tercapai, didepan masih
menanati serbu yang lain yang akan mejadi keinginan dan kebutuhan kita
selanjutnya. Maka, berbahagialah dia yang tidak membutuhkan apa-apa! Bukan
berarti menolak segala kesenangan, melainkan tidak mengejar apa-apa sehingga kalau
ada sesuatu yang datang menimpa diri, bukan lagi merupakan kesenangan atau
kesusahan, melainkan dihadapi sebagai suatu yang sudah wajar dan semestinya
sehingga tampaklah keindahan yang murni!
Demikian pula keadaan Raja Han Ti Ong. Dia seorang yang sakti dan
bijaksana namun tiba saatnya dia lengah dan menganggap bahwa dia menemukan
kebahagiaan dalan diri The Kwat Lin. Padahal yang dia temukan hanyalah
kesenangan yang timbul dari kenikmatan badani, dari terpuaskannya nafsu. Dia
seolah-olah hidup dialam khayal, di alam mimpi. Setelah dia sadar dari mimpi,
terasa bahwa yang manis menjati pahit bukan main, baru sadar bahwa perubahan
dari senang ke susah sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan! Dan
mengalah, suka dan duka hanyalah dwi muka (kedua muka) dari sebuah tangan yang
sama!
Perahu kecil itu terayun-ayun kekanan kiri seperti menari-nari karena
tidak dikuasai oleh layar maupun dayung, melainkan sepenuhnya dikuasai oleh air
laut yang tenang. Dua orang yang duduk diperahu itu seperti dua buah arca, diam
dan pandang mata mereka melayang jauh ke kaki langit, melayang-layang di
permukaan laut seperti mencari-cari sesuatu yang hilang. Dan memang fikiran Sin
Liong dan Swat Hong, dua orang di perahu itu, sedang mencari-cari jawaban
pertanyaan hati mereka sendiri. pulau Es hanya kelihatan sebagai sebuah garis
mendatar putih dekat kaki langit. mereka berangkat pagi-pagi meninggalkan Pulau
Es, setelah tiba di tempat jauh yang sunyi ini, mereka menggulung layar dan
membiarkan perahu mereka dibuai gelombang kecil. Mereka sudah lama berdiam diri
seperti itu, dibuai oleh lamunan masing-masing, lamunan yang timbul karena
keadaan di Pulau Es yang menyedihkan.
"Suheng..."
Suara panggilan Swat Hong ini lirih saja, namun karena sejak tadi
mereka tidak mendengar suara apa-apa, maka suara panggilan ini seolah-olah
mengandung getaran hebat yang memenuhi seluruh ruang kesunyian.
Sin Liong menoleh dan dia pun seolah-olah baru sadar dari alam mimpi.
"Hemmmm...?" jawabannya masih ragu-ragu.
"Suheng mengajakku meninggalkan pulau dan setelah tiba disini,
mengapa suheng tidak lekas bicara melainkan melamun saja?"
"Aku terpesona akan keindahan alam yang sunyi ini, Sumoi...."
"Aku pun tadi terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu karang
menonjol di depan itu, aku tersadar. Apakah aku akan menjadi setua batu karang
itu yang kerjanya hanya termenung di tempat sunyi! Suheng, kau tadi bilang
bahwa untuk membicarakan urusan kita, engkau mengajakku ketengah laut. Mengapa?"
"Engkau sudah mengerti sendiri. Fitnah yang dilontarkan kepada
kita, bahwa ada terjadi sesuatu yang rendah di antara kita, membuat aku merasa
tidak enak kalau mengajak kau bicara berdua saja di tempat sunyi di atas pulau
itu. Dapat menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Karena itulah maka kuajak
kesini, agar kita dapat bicara dengan tenang dari hati ke hati tanpa ada yang
mendengar dan melihat. Pula, kuharap ditempat yang sunyi ini, yang membuat kita
seolah-olah berada di dalam alam lain, kita akan menemukan ilham..."
Swat Hong tertawa. Timbul kembali kegembiraan dara ini setelah dia
tidak berada di Pulau Es yang membuat dia selama ini ikut muram dan berduka.
"Wah, Suheng! Kadang-kadang kau bicara seperti seorang pendeta saja! Apa
sih yang akan dibicarakan sampai-sampai kau membutuhkan ilham segala?"
"Mari kita bicara tentang cinta, Sumoi."
Wajah dara muda jelita itu terheran, matanya memandang terbelalak dan
perlahan-lahan kedua pipinya menjadi agak kemerahan. "Aihh... apa
maksudmu, Suheng?"
0 komentar:
Posting Komentar