advertisement
Bukek Siansu Jilid 09 - Dan pada suatu hari terjadilah suatu hal yang
sudah lama diduga-duga akan terjadi hal yang menjadi akibat daripada keadaan
yang ditekan-tekan di dalam istana yang dimulai dengan masuknya The Kwat Lin
yang kini telah menjadi permaisuri itu ke Pulau Es. Pagi hari itu, Sin Liong
tengah duduk seorang diri di tempat yang menjadi tempat kesukaannya bersama
Swat Hong, yaitu di tepi pantai yang paling sunyi, pantai yang tak pernah
tertutup salju karena pasir berwana putih yang terjadi dari pecahan batu karang
dan segala macam kulit kerang dan kepompong itu seolah-olah selalu mengeluarkan
hawa hangat. Selagi dia duduk termenung itu terdengarlah olehnya suara tambur
dipukul gencar, tanda bahwa pagi hari itu diadakan persidangan pengadilan yang
amat penting, sidang yang diadakan kurang lebih tiga bulan semenjak tiga orang
pesakitan terakhir itu di buang ke Pulau Neraka.
Suara tambur itu seolah-olah menghantami isi dada Sin Liong, karena
suara itu suara yang paling tidak disukainya, suara yang menandakan bahwa akan
ada orang lagi yang dihukum! Maka dia tidak bergerak, mengambil keputusan tidak
akan menonton karena menonton berarti hanya akan menghadapi hal yang
menyakitkan hatinya. Akan tetapi dia meloncat bangun ketika mendengar suara
panggilan Swat Hong, suara panggilan yang lain dari biasanya karena suara dara
itu mengandung isak tangis yang mengejutkan.
"Kwa-suheng...!!"
Sin liong terkejut melihat dara itu berlari-lari kepadanya sambil
menangis dan dengan wajah yang pucat sekali.
"Ada apakah, Sumoi?" tegurnya sebelum dara itu tiba di
depannya.
"Suheng..., celaka... Ibuku..."
Biarpun hatinya berdebar penuh kaget dan kejut, Sin Liong bersikap
tenang ketika dia memegang kedua pundak Sumoinya dan bertanya, "Ada apakah
dengan ibumu? Tenanglah, Sumoi."
Swat Hong menahan isaknya. "Mereka... mereka menangkap Ibuku dan
membawanya ke sidang pengadilan..."
Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah keterlaluan ini, pikirnya. Rasa
penasaran membuat dia berlaku agak kasar. Digandengnya tangan Sumoinya, ditariknya
dara itu dan dia berkata, "Mari kita lihat!"
Ketika dua orang itu tiba di ruangan pengadilan, mereka mendapat
kenyataan bahwa keadaan berlainan sekali dengan sidang pengadilan yang
sudah-sudah karena suasana amat sunyi. Tidak ada seorang pun diperbolehkan
mendekati ruangan pengadilan, bahkan ketika Sin liong dan Swat Hong tiba
disitu, mereka dihadang oleh beberapa orang penjaga,
"Maaf, atas perintah Sribaginda, tidak ada yang boleh memasuki
ruang sidang pengadilan hari ini," kata mereka.
Dengan kedua tangan di kepal, Swat Hong melompat maju, matanya melotot
dan mukanya merah sekali,
"Apa kalian bilang? Kalian berani melarang aku memasuki ruangan?
Apakah kalian sudah bosan hidup?"
Sin Liong cepat memegang lengan sumoinya karena dia maklum bahwa kalau
sumoinya ini sudah marah, tentu akan hebat akibatnya. Juga para penjaga itu
mundur ketakutan karena mereka mengerti betapa lihainya Sang Puteri ini.
"Harap Saudara sekalian melaporkan kepada atasan Saudara Bahwa
kami akan memasuki ruang sidang," kata Sin Liong dengan tenang kepada para
penjaga.
"Akan tetapi kami hanya mentaati perintah. Bagaimana kami berani
melanggar?" jawab kepala penjaga dengan muka bingung.
"Aku tahu. Ibuku yang diadili, Bukan? Nah, dengar kalian! Apa pun
yang akan terjadi dengan ibuku, aku harus hadir, kalau perlu aku akan bunuh
kalian semua agar dapat masuk!" Kembali Swat Hong membentak.
"Saudara sekalian harap mundur dan biarkan kami masuk. Akibatnya
biarkan kami berdua yang menanggungnya," kembali Sin Liong berkata dan
keduanya memaksa masuk. Para penjaga tidak ada yang berani melarang akan tetapi
mereka cepat-cepat lari untuk melapor kedalam.
Han Ti Ong mengerutkan alisnya ketika melihat Sin Liong dan Swat Hong
memasuki ruang sidang, akan tetapi dia hanya mengangguk kepada para penjaga
yang kebingungan. Hal ini melegakan hati para penjaga dan mereka cepat-cepat
meninggalkan ruangan itu untuk menjaga di luar, karena mereka pun tidak boleh
mendengarkan sidang yang sedang mengadili isteri raja!
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Swat Hong melihat ibunya dengan
tenang berlutut di depan meja pengadilan bersama seorang laki-laki muda yang
berpakaian sebagai pelayan dalam istana. Hatinya menduga dan dia merasa ngeri
karena melihat ibunya dan pemuda itu berlutut di situ, dia seolah-olah melihat
Sia Gin Hwa dan Lu Kiat, dua orang pesakitan yang saling berjinah itu! Akan
tetapi dia tidak percaya! Tak mungkin ibunya...! Akan tetapi dia menjadi lemas
dan menurut saja ketika Sin Liong menariknya dan mengajaknya duduk dideretan kursi
pinggiran yang sekali ini sama sekali kosong. Di belakang meja panjang hanya
duduk jaksa, hakim, Raja Han Ti Ong, permaisurinya dan Han Bu Ong, bocah
berusia delapan tahun yang mengenakan pakaian indah dan duduk dengan agungnya
di dekat ibunya, matanya memandang kearah Sin Liong dan Swat Hong dengan
angkuh.
Kemudian terdengarlah suara nyaring Sang Jaksa, suara yang bagi telinga
Swat Hong terdengar seperti sambaran pedang yang menusuk-nusuk hatinya dan bagi
Sin Liong seperti guntur di tengah hari!
"Liu Bwee, sebagai bekas istri Sribaginda dari seorang anak
nelayan biasa menjadi seorang mulia terhormat, ternyata membalas budi
Sribaginda dengan aib dan noda yang hina, telah ditangkap karena melakukan
perjinahan dengan seorang pelayan muda. Dosa ini amat besar karena selain
menimbulkan aib dan malu kepada Sribaginda, juga kalau diketahui dunia luar
akan mencemarkan nama Kerajaan Pulau Es. Oleh karena itu, sepatutnya dia
dijatuhi hukuman yang seberat mungkin."
"Bohong...! Ibu tidak mungkin...." Swat Hong menjerit dan
hendak melompat maju menyerang jaksa yang berani mengeluarkan ucapan menuduh
ibunya seperti itu akan tetapi Sin Liong menangkap lengannya untuk mencegah
sumoinya bergerak.
"Swat Hong! Berani engkau kurang ajar di depan Ayah?"
Terdengar Han Ti Ong membentak dengan penuh wibawa.
"Ayah, tuduhan itu fitnah belaka! Tidak mungkin ibu melakukan hal
yang kotor itu. Mana buktinya? Siapa saksinya?" kembali Swat Hong
menjerit-jerit.
"Hong-ji, jangan begitu. Ibumu tidak berdosa, akan tetapi kita
harus tunduk kepada peraturan dan hukum, anakku. Tenanglah." Ucapan ini
keluar dari mulut Liu Bwee yang menoleh ke arah Swat Hong, suaranya lirih dan
jelas, namun mengandung kedukaan yang merobek hati.
"Liu Bwee, engkau telah mendengar tuduhan atas dirimu. Apakah
pembelaanmu?" terdengar suara hakim tua itu dengan halus dan lirih seperti
biasanya, namun penuh wibawa karena dalam sidang ini, dialah orang yang paling
kuasa.
"Saya tidak akan membela diri, hanya seperti dikatakan anakku
tadi, agar tidak mendatangkan penasaran, harap suka disebutkan siapa saksinya
dan apa buktinya yang memperkuat tuduhan terhadap diriku," kata Liu Bwee
dengan tenang dan suara halus.
Jaksa yang termasuk orang di antara anggauta keluarga raja yang tidak
senang kepada Liu Bwee karena dia dahulupun mengharapkan agar Han Ti Ong
memilih anak perempuannya, segera berkata lantang, "Buktinya? Engkau
ditangkap ketika berada di dalam kamar dengan A Kiu, padahal dia bukanlah pelayanmu.
Apalagi yang kalian kerjakan kalau bukan berjinah? Seorang wanita dan seorang
laki-laki yang tidak ada hubungan apa-apa berada di dalam kamar berdua saja!
selain itu, perjinahan kalian juga telah ada yang menyaksikan."
Wajah Swat Hong sebentar pucat dan sebentar merah. Tak dapat dia
menahan kemarahanya. Ibunya dituduh berjinah dengan seorang pelayan!
"Bohong! itu bukan bukti!! Kalau memang ada yang menyaksikan, hayo
siapa yang menyaksikan?" teriaknya, tidak memperdulikan cegahan Sin Liong
yang masih memegang lengannya karena khawatir kalau-kalau dara ini mengamuk.
"Akulah saksinya!" tiba-tiba terdengar suara kecil merdu dan
Han Bu Hong telah bangkit berdiri dengan sikap menantang. Mulut anak ini
tersenyum mengejek dan matanya bersinar-sinar. "Enci Hong, akulah yang
telah melihat ibumu dan pelayan itu di atas ranjang...."
"Ssssttt, diam...!" Permaisuri menarik puteranya.
Akan tetapi hakim telah berkata lagi, "Sudah terbukti kesalahan
besar yang dilakukan Liu Bwee. Kesalahan paling besar yang dapat dilakukan oleh
seorang wanita..."
"Nanti dulu!" Dengan muka pucat sekali Swat Hong memotong
kata-kata hakim. "Tidak adil kalau begini! kita belum mendengar keterangan
A Kiu. Hai, A Kiu, aku percaya bahwa engkau seorang manusia yang menjujung
kegagahan, tidak mungkin seorang pria penghuni Pulau Es Seperti engkau
menjatuhkan fitnah sebagai seorang pengecut hina dina. Hayo ceritakan
sesungguhnya apa yang terjadi!" Suara Swat Hong ini nyaring sekali dan
muka A Kiu menjadi pucat, kepalanya makin menunduk.
Suasana menjadi hening dan akhirnya terpecah oleh suara Raja, "A
Kiu, kau diperkenankan untuk bicara!"
Tubuh itu menggigil, muka yang tampan itu pucat sekali ketika diangkat
memandang Raja, kemudian melirik ke arah Liu Bwee yang masih bersikap tenang
dan agung berlutut di sebelahnya. Ketika dia melirik ke arah Swat Hong yang
berdiri dengan sikap angkuh memandang kepadanya, A Kiu mengeluh lirih, kemudian
menelungkup dan berkata dengan suara mengandung isak, "Hamba tidak
berdaya... hamba memang berada di kamar itu... tapi... tidak seperti kesaksian
Pangeran kecil... hamba terpaksa karena..."
"Berani kau mengatakan puteraku bohong?" Jeritan ini keluar
dari mulut permaisuri dan hawa pukulan yang dahsyat sekali menyambar ketika
permaisuri menggerakan tangan kirinya ke arah A Kiu.
"Dess...! Aungghh...!" Tubuh A Kiu terlempar bergulingan dan
rebah tak bernyawa lagi, dari mulut, hidung dan telinganya mengalir darah.
Hebat sekali pukulan jarak jauh yang di lakukan permaisuri itu, mengenai kepala
A Kiu yang tentu saja tidak kuat menahannya
Hakim dan jaksa saling pandang, sedangkan Raja menegur Permaisurinya,
"Kau terlalu lancang...."
"Apakah aku harus diam saja kalau seorang rendah macam dia
menghina putera kita?" Permaisuri membantah dengan suara agak ketus.
Raja diam saja dan menarik nafas panjang. Dia merasa bingung dan
berduka sekali harus menghadapi perkara ini, lalu memberi isyarat kepada hakim
sambil berkata, "Lanjutkan."
Hakim menelan ludah beberapa kali, kemudian berkata lantang, "
Saksi utama yang mejadi pelaku perjinahan telah terbunuh karena berani menghina
Pangeran. Akan tetapi dia mengaku telah berada di kamar itu, maka sudah jelas
dosa yang dilakukan oleh Liu Bwee. Karena itu sudah adil kalau dia harus
dijatuhi hukuman berat. Liu Bwee, pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau
Neraka kepadamu!"
"Ibuuuu..!!" Swat Hong meronta dan melepaskan diri dari Sin
Liong, meloncat dan menubruk ibunya.
"Sssst, tenanglah, Hong-ji...." ibunya terbisik dengan sikap
masih tenang saja, sungguhpun wajahnya kelihatan makin berduka.
"Tenang? Tidak! ibu tidak boleh dihina sampai begini!" Swat
Hong lalu bangkit berdiri, menghadapi ayahnya dan berkata lantang, "ibuku
telah dijatuhi hukuman tanpa bukti dan saksi yang jelas. Akan tetapi keputusan
telah dijatuhkan dan saya tidak rela melihat ibu dibuang ke Pulau Neraka. Saya
sebagai anak tunggalnya, yang takkan mampu membalas budinya dengan nyawa, saya
yang akan mewakilinya, memikul hukuman itu. Saya yang akan mejadi penggantinya
ke Pulau Neraka, maka harap Sribaginda bersikap bijaksana, membiarkan ibu yang
sudah mulai tua ini menghabiskan usianya di Pulau Es. Ibu, selamat
tinggal!"
"Hong-ji...!" ibunya memekik, akan tetapi Swat Hong sudah
meloncat dan lari keluar dari tempat itu dengan cepat.
Sin Liong memandang dengan alis berkerut. Tak disangkanya hal yang
sudah dikhawatirkannya akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan, suatu
yang akan meledak, ternyata sehebat ini.
"Hong-ji... ah, Hong-ji, Anakku...!" Liu Bwee tak dapat
menahan lagi tangisnya. Dia maklum bahwa untuk mengejar anaknya dia tidak
mungkin dapat karena kepandaian puterinya itu sudah tinggi sekali, juga dia
sebagai seorang pesakitan, tentu saja tidak berani melanggar hukum dan lari
dari tempat itu. "Aduh, anakku... Swat Hong... Swat Hong... apa yang mereka
lakukan atas dirimu...?" ibu yang hancur hati ini meratap.
Hakim menjadi bingung dan beberapa kali menoleh kearah Raja seolah-olah
hedak minta keputusan Han Ti Ong. Raja ini menggigit bibir, jengkel dan marah
karena tak disangkanya bahwa urusan akan berlarut-larut seperti ini. Ketika dia
menerima laporan tentang istri pertamanya Liu Bwee yang berjinah dengan seorang
pelayan muda, hatinya panas dan marah sekali. Akan tetapi dia masih hendak
membawa perkara ini kepengadilan agar diambil keputusan yang seadil-adilnya.
Siapa mengira terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Permaisurinya
membunuh pelayan muda, kemudian kini Swat Hong membela ibunya, bahkan
menggantikan ibunya "membuang diri" ke Pulau Neraka. maka kini
melihat betapa hakim menjadi bingung dan minta keputusannya, dia memukulkan
kepalan kanan ke telapak kiri sambil berkata, "Sudahlah, sudahlah! Biar
kupenuhi permintaan Swat Hong. Anak yang keras kepala itu sudah menggantikan
ibunya ke Pulau Neraka. Sudah saja! Aku perkenankan Liu Bwe tinggal terus
disini!"
Setelah berkata demikian, dia menggandeng tanggan Bu Ong dan
permaisurinya, bangkit berdiri dan hendak meninggalkan tempat yang tidak
menyenangkan itu. Akan tetapi Liu Bwee juga bangkit berdiri dan wanita ini
berkata lantang, sambil menatap wajah suaminya dengan mata tajam.
"Biarpun anakku telah menebus dosa yang tidak kulakukan dan aku
telah diperbolehkan tinggal di sini, akan tetapi apa artinya hidup disini
bagiku setelah anakku pergi ke Pulau Neraka? Tidak, aku tidak akan sudi tinggal
di sini lagi. Aku mulai saat ini tidak menganggap diriku sebagai penghuni Pulau
Es. Aku juga mau pergi dari sini!"
Setelah berkata demikian, Liu Bwee lalu meloncat dan pergi. Setelah dia
bukan pesakitan lagi, setelah dia bukan terhukum, dia berani pergi, bahkan
dengan sikap tidak menghormat lagi kepada Raja yang pernah menjadi suami dan
pujaan hatinya selama bertahun-tahun itu.
"Hmm, sesukamulah!' kata Han Ti Ong perlahan dan dengan wajah
muram raja ini memasuki istana bersama permaisuri dan Pangeran Bu Ong.
Sampai ruangan persidangan itu kosong dan mayat A Kiu dibawa pergi, Sin
Liong masih duduk di situ. Di dalam hatinya, dia merasa menyesal melihat sikap
Raja Han Ti Ong, gurunya yang di cintainya itu. Tahulah dia bahwa perubahan
pada diri gurunya itu terutama sekali terjadi karena hadirnya The Kwat Lin yang
kini telah menjadi permaisurinya. Diam-diam dia merasa menyesal sekali.
Bukankah dia sendiri yang dahulu minta kepada gurunya membawa pendekar wanita
Bu-tong-pai itu ke Pulau Es? Kini, wanita itu menjadi selir gurunya, dan
setelah The Kwat Lin menjadi permaisuri, kebahagiaan ibu Swat Hong menjadi
musnah! Bahkan kini berekor seperti ini, dengan larinya Swat Hong menggantikan
ibunya ke Pulau Neraka sedang ibu dara itu sendiri pergi entah ke mana!
Dialah, langsung atau tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, tidak
mungkin dia menegur gurunya, Juga permaisuri tidak dapat dipersalahkan.
Betapapun juga, dia harus memperlihatkan tanggung jawabnya atas kerusakan hidup
Swat Hong dan ibunya. Kalau dia mendiamkan saja, seolah-olah dia ikut pula
persekutuan untuk merusak hidup ibu dan anak itu.
"Pulau Neraka kabarnya merupakan tempat berbahaya sekali. Aku
harus menyusul Swat Hong dan melindunginya." Demikian dia mangambil
keputusan dalam hatinya dan dia tidak lagi berpamit kepada gurunya karena
maklum gurunya sedang berada dalam kedukan dan kepusingan. Pula, Sin Liong
sudah biasa meninggalkan pulau itu mencari tetumbuhan obat, maka kepergiannya
dengan sebuah perahu meninggalkan Pulau Es tidak ada yang menaruh curiga.
Dengan tenaganya yang amat kuat Sin Liong mendayung perahunya sehingga
perahu meluncur amat cepatnya menuju ke Pulau Neraka. Dia sudah tahu dimana
letaknya pulau itu, dari keterangan yang diperolehnya ketika dia bertanya-tanya
kepada para penghuni Pulau Es. Bahkan diam-diam pernah pula seorang diri
mendayung perahu mendekati Pulau Neraka ini akan tetapi hanya melihat dari jauh
dan dia merasa ngeri sekali. Pulau itu dari jauh tampak kehitaman seperti pulau
yang pantas di huni oleh setan dan iblis. Pantainya penuh dengan batu-batu
karang yang runcing dan tajam, amat berbahaya apalagi kalau ombak sedang besar.
Sama sekali tidak tampak ada penghuninya sehingga ketika itu Sin Liong
menduga-duga bahwa orang-orang buangan yang dibuang dari Pulau Es tentu telah
tewas di jalan, tentu tewas di atas pulau itu. Maka dia menentang keras dalam
hatinya kalau melihat di Pulau Es diadakan pengadilan dan diputus akan hukuman
buang ke Pulau Neraka, karena baginya, dibuang ke Pulau Neraka sama dengan
menghadapi kematian yang mengerikan, baik di dalam perjalanan menuju ke pulau
itu atau setelah berhasil mendarat. Dan kini Swat Hong telah pergi ke Pulau
Neraka mewakili ibunya! Dia kagum dan khawatir. Kagum akan keberaniannya dan
kebaktian sumoinya terhadap ibunya, akan tetapi khawatir sekali akan
keselamatan sumoinya yang belum dewasa benar itu. Sumoinya baru berusia empat
belas tahun! biarpun dia tahu bahwa ilmu kepandaian sumoinya sudah hebat dan
cukup untuk dipakai menjaga diri, namun betapapun juga sumoinya itu masih
kanak-kanak! Sin Liong sama sekali tidak ingat bahwa usianya sendiri hanya satu
tahun lebih tua dari pada usia Swat Hong!
Perjalanan dari Pulau Es ke Pulau Neraka melalui lautan yang penuh
dengan gumpalan-gumpalan es yang mengapung di permukaan laut, gumpalan es yang
kadang-kadang sebesar gunung dan celakalah kalau sampai perahu tertumpuk oleh
gumpalan es menggunung itu yang kadang-kadang bergerak, digerakan oleh angin.
Celaka pula kalau sampai terjepit di antara dua gumpalan es yang begitu saling
menempel tentu akan melekat dan membuat perahu terjepit di tengah-tengah. Akan
tetapi, Sin Liong sudah banyak mendengar tentang ini maka dia tahu pula caranya
menghindarkan perahunya dan tidak mendekat gumpalan-gumpalan es yang berbahaya,
melainkan mencari jalan di celah-celah yang agak lebar. Kemudian dia tiba di
daerah lautan yang penuh dengan ikan hiu. Ratusan ikan hiu yang hanya tampak
siripnya itu berenang di kanan kiri dan belakang perahunya.
Betapapun juga tinggi ilmunya, ngeri juga hati Sin Liong karena dia
tahu bahwa sekali perahunya terguling, kepandaianya tidak akan berguna banyak
dalam melawan ratusan ikan buas itu di dalam air! Cepat ia mengeluarkan
bungkusan yang sudah dibawanya sebagai bekal, membuka bungkusan dan menaburkan
sedikit bubuk hitam di kanan kiri, depan belakang perahunya. Tak lama kemudian,
ikan-ikan hiu itu pergi berenang pergi dengan cepat seperti ketakutan setelah
mencium bau bubukan hitam yang disebarkan oleh Sin Liong. Pemuda ini sudah
mendengar akan bahaya ikan-ikan buas, maka dia telah membawa bekal racun
bubukan hitam yang sering kali dipergunakan oleh para penghuni Pulau Es untuk
mengusir ikan-ikan buas di waktu mereka mencari ikan.
Beberapa jam kemudian, kembali dia menghadapi ancaman ikan-ikan kecil
yang banyak sekali jumlahnya, mungkin laksaan. Ikan-ikan sebesar ibu jari kaki,
akan tetapi keganasannya melebihi ikan hiu. Ikan-ikan ini bahkan berani
menyerang orang di atas perahu dengan jalan meloncat dan menggigit. Sekali
mulut yang penuh gigi runcing seperti gergaji itu mengenai tubuh, tentu
sebagian daging dan kulit terobek dan terbawa moncongnya! Apalagi kalau sampai
orang jatuh ke dalam air. Dalam waktu beberapa menit saja tentu sudah habis
tinggal tulangnya dikeroyok laksaan ikan buas ini. Kembali Sin Liong dengan
cepat menyebar obat bubuk hitam beracun itu dan ikan-ikan kecil itupun lari
cerai berai tidak berani lagi mendekati sampai perahu meluncur meninggalkan
daerah berbahaya itu.
Setelah melalui perjalanan yang amat sulit akhirnya menjelang senja,
sampai juga perahu Sin Liong di pantai Pulau Neraka. Tetapi seperti dugaannya,
pulau itu memang mengerikan sekali. Hutan yang terdapat di pulau itu amat besar
dan liar, pohon-pohon aneh dan menghitam warnanya memenuhi hutan yang
kelihatannya sunyi dan mati. Namun, dibalik kesunyian itu Sin Liong merasakan
seolah-olah banyak mata mengamatinya dan maut tersembunyi disana-sini, siap
untuk mencengkram siapa pun yang berani mendarat!
Melihat keadaan pulau ini makin berdebar hati Sin Liong, penuh
kekhawatiran terhadap keselamatan Swat Hong. Apakah dara itu sudah berhasil
mendarat? Tentu Swat Hong dapat mencapai pulau ini, karena dara itupun tahu
jalan ke situ dan mengerti pula tempat-tempat berbahaya yang dilaluinya tadi
sehingga seperti juga dia, tentu Swat Hong telah membawa bekal obat pengusir ikan-ikan
buas tadi dengan cukup. Akan tetapi dia tidak melihat sebuah pun perahu di
pantai Pulau Neraka. Apakah ada penghuninya? Atau semua orang buangan telah
mati terkena racun yang kabarnya memenuhi pulau ini?
Karena khawatir kemalaman sebelum dapat menemukan Swat Hong, Sin Liong
lalu meloncat ke darat dan menarik perahunya ke atas. Kemudian dia membalik dan
memasuki hutan. Baru saja dia berjalan beberapa langkah, terdengar suara
berdengung-dengung dan entah dari mana datangnya, tampak ratusan ekor lebah
berwarna putih menyambar-nyambar dan mengeroyoknya! Dari bau yang tercium
olehnya, tahulah Sin Liong bahwa lebah-lebah itu mengandung racun yang amat
jahat maka tentu saja dia terkejut sekali! Cepat dia lari dari tempat itu,
namun lebah-lebah itu mengejar terus, beterbangan sambil mengeluarkan suara
berdengung-dengung yang mengerikan.
Sin Liong cepat menanggalkan jubah luarnya dan memutar jubah itu di
sekeliling tubuhnya. Dari putaran jubah ini menyambar angin dahsyat dan
lebah-lebah itu terdorong jauh oleh hawa yang menyambar dari putaran jubah. Sin
Liong tidak tega untuk membunuh lebah-lebah itu maka dia hanya menggunakan hawa
putaran jubahnya untuk mengusir. Namun, binatang-binatang kecil itu hanya tidak
mampu mendekati dan menyerang tubuh Sin Liong, akan tetapi sama sekali tidak
terusir, bahkan kini makin banyak dan terbang mengelilingi Sin Liong dari jarak
jauh sehingga tidak terjangkau oleh hawa pukulan jubah. Melihat ini, Sin Liong
kaget. betapapun kuatnya tidak mungkin baginya untuk berdiri di situ sambil
memutar jubahnya semalam suntuk, bahkan selamanya sampai lebah-lebah itu
terbang pergi! lalu teringatlah dia akan senjata yang paling ampuh. Api! Dengan
tangan kiri terus memutar jubah melindungi tubuhnya, Sin Liong lalu
mengumpulkan daun kering dan mencari batu yang keras. Dengan pengerahan
tenaganya, dia menggosok dua batu itu sehingga timbul percikan bunga api yang
membakar daun kering. Diambilnya sebatang ranting kering dan dibakarnya ranting
ini.
Benar saja. Dengan ranting yang ujungnya menyala ini dipegang tinggi di
atas kepala, tidak ada lebah yang berani mendekatinya. Dia melanjutkan
perjalanan, dan terus menerus menyalakan api di ujung ranting yang dikumpulkan
dan dibawanya.
Dapat dibayangkan betapa ngeri hatinya ketika melihat banyak sekali
binatang berbisa di sepanjang jalan. Ular-ular kecil, kalajengking, lebah-lebah
dan sebangsanya merayap-rayap lari ketika dia datang dengan obor di tangan.
Untung dia membawa ranting bernyala. Semua binatang berbisa itu takut terhadap
api. Andaikata dia tidak membawa api tentu dia telah dikeroyok oleh
binatang-binatang kecil yang semuanya berbisa itu, dari atas dan bawah!
lebah-lebah itu terus mengikutinya, akan tetapi dari jarak jauh, terbukti dari
suara yang berdengung-dengung itu masih terus berada di belakangnya.
Tiba-tiba terdengar suara bersuit panjang dan lebah-lebah itu
beterbangan makin dekat, kembali mengurungnya dan kelihatan seperti marah.
Bahkan ada beberapa ekor yang meluncur dekat sekali, akan tetapi menjauh lagi
ketika Sin Liong menggunakan api di ujung ranting untuk mengusirnya. Suitan
terdengar berkali-kali dan lebah-lebah itu makin marah dan mengamuk, juga
tampak oleh Sin Liong betapa binatang kecil lainya yang banyak terdapat di
hutan itu mulai mendekatinya, namun masih takut-takut oleh api di ujung
ranting.
"Siuuuttt..." tiba-tiba tampak benda hitam menyambar kearah
ujung rantingnya.
Maklumlah Sin Liong bahwa sambitan yang amat kuat itu bermaksud
memadamkan api di ujung ranting. Tentu saja dia tidak mau terjadi hal ini, maka
cepat ia menari kebawah ranting terbakar itu dan menggunakan tangan kirinya
menyambar benda yang dilontarkan. Kiranya segumpal tanah hitam! Mengertilah dia
bahwa ada orang yang membokonginya dan orang itu agaknya yang bersuit-suit
tadi. Suitan yang agaknya merupakan perintah kepada binatang-binatang itu untuk
mengeroyoknya!
"Haiiii, Saudara penghuni Pulau Neraka! Harap jangan menyerang.
Aku Kwa Sin Liong datang dengan maksud baik! Aku hanya mau mencari Sumoiku di
sini!"
Hening sejenak. Suitan-suitan tidak terdengar lagi dan lebah-lebah itu
kembali menjauh, demikian ular, kelabang dan lain binatang kecil. Terdengar bunyi
tampak kaki menginjak daun-daun kering dan tak lama kemudian muncullah belasan
orang yang bertelanjang kaki, berpakaian tidak karuan, bermuka menyeramkan itu
kotor tidak terawat, mata mereka merah dan bergerak liar seperti mata
orang-orang gila. Dengan gerakan perlahan, pandang mata penuh curiga, belasan
orang itu menghampiri dan mengurung Sin Liong. Pemuda itu tersenyum ramah,
bersikap tenang dan mengangkat ranting menyala tinggi-tinggi untuk
memperhatikan wajah mereka.
"Harap Cuwi (Anda Sekalian) sudi memaafkan kedatanganku yang
tiba-tiba ini. Akan tetapi sesungguhnya aku, Kwa Sin Liong, tidak berniat buruk
terhadap Pulau Neraka apalagi terhadap penghuninya. Aku datang untuk mencari
sumoiku yang bernama Han Swat Hong, yang mungkin sudah mendarat di pulau
ini."
Seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok sehingga yang
tampak hanya matanya dan sedikit hidungnya melangkah maju dan menegur, suaranya
parau dan kasar.
"kau dari mana?"
"Dari Pulau Es...."
Belasan orang itu mendengus dan kelihatan marah sekali. Si Brewok
mengangkat tinggi senjata golok besarnya dan membentak, "kalau begitu kau
harus mampus!"
"Nanti dulu, harap Cuwi bersabar." Sin Liong cepat berseru
dan mengangkat tangan kirinya ke atas, "Aku bukan musuh dari Cuwi, sudah
kukatakan bahwa aku datang bukan untuk bermusuh, mengapa Cuwi hendak
membunuhku?"
Pada saat itu, muncul pula lima orang, dan terdengar seruan heran dari
seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar, "Ehh, bukankah ini
Kwa-kongcu dari Pulau Es?"
Sin Liong memandang dan merasa girang sekali ketika mengenal orang itu
yang bukan lain adalah Bouw Tang Kui, penghuni Pulau Es yang dihukum buang ke
Pulau Neraka karena telah mencuri batu mustika hijau!
"Bouw-lopek!" serunya girang. "Aku datang untuk mencari
Swat Hong yang juga sudah dibuang ke sini!"
"Apa??" Bouw Tang Kui berteriak, lalu berkata kepada Si
Brewok yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu. "Dia adalah seorang
yang telah membelaku, membela Lu Kiat dan Sia Gin Hwa ketika dijatuhi hukuman
buang. Dia seorang pemuda yang tak setuju dengan hukum di Pulau Es, biarpun dia
adalah murid Raja Han Ti Ong sendiri."
"Apa...??" Mereka kelihatan terkejut mendengar ini.
"Muridnya...?"
"Benar," jawab Bouw Tang Kui. "Dan kita bukanlah
lawannya."
Si Brewok meragu. "Kalau begitu, kita bawa dia kepada To-cu
(Majikan Pulau)!"
Bouw Tang Kui melangkah maju. "Harap Kongcu menurut saja kami
hadapkan kepada To-cu sehingga Kongcu dapat bicara sendiri dengannya."
Sin Liong mengangguk. Memang menghadapi orang-orang kasar ini akan
berbahaya sekali karena mereka sukar diajak bicara. Kalau dia dapat bicara
dengan Majikan Pulau yang tentu merupakan tokoh yang paling pandai, dia akan
dapat minta keterangan apakah Swat Hong telah berada di pulau itu. Dia mengangguk
dan beberapa orang penghuni Pulau Neraka lalu menyalakan obor. Sin Liong
sendiri membuang rantingnya, mengenakan lagi jubahnya dan mengikuti rombongan
belasan orang itu memasuki hutan. Di sepanjang jalan dia melihat tempat-tempat
berbahaya, lumpur-lumpur yang tertutup rumput tinggi, pasir-pasir berpusing
yang dapat menyedot apa saja yang menginjaknya, pohon-pohon yang aneh dengan
buah-buah yang kelihatan lezat namun dari baunya dia tahu bahwa buah itu
mengandung racun jahat, dan lain-lain. Benar-benar pulau yang amat aneh dan
berbahaya, fikirnya. Pantas kalau disebut Pulau Neraka, dan diam-diam dia
mencela kekejaman Kerajaan Pulau Es yang membuang orang-orang bersalah ke
tempat seperti ini.
Dari keadaan orang-orang yang menangkapnya ini, hanya Bouw Tang Kui
seorang yang kelihatan masih normal. Hal ini mungkin karena raksaksa ini baru
beberapa bulan saja dibuang ke sini, sedangkan yang lain-lain, biarpun dapat
mempertahankan hidupnya, namun telah berubah menjadi orang-orang liar yang
agaknya telah berubah pula watak dan ingatanya! Dan selain menjadi orang-orang
yang tidak normal agaknya mereka telah menguasai ilmu yang dahsyat dan
mengerikan, yaitu ilmu menguasai binatang-binatang berbisa di pulau itu.
Buktinya, biarpun mereka berjalan di hutan penuh binatang berbisa itu tanpa
sepatu tidak ada seekor pun yang berani menyerang mereka. Akhirnya dengan
menggunakan ketajaman pandang mata dan penciuman hidungnya Sin Liong maklum
bahwa orang-orang ini telah menggunakan semacam obat yang agaknya
digosok-gosokan ke seluruh kaki mereka sehingga binatang itu menyingkir begitu
mereka mendekat.
0 komentar:
Posting Komentar