advertisement
Bukek Siansu Jilid 08 - Han Ti Ong tersenyum, "Persis sekali
dengan seranganmu tadi, akan tetapi jauh lebih lihai karena sekali serang
berhasil, bukan? Nah, kalau engkau memiliki kesempurnaan dalam jurus ini tadi,
bukankah mudah kau mengalahkan musuhmu?"
Kwat Lin tertegun, akan tetapi dia masih belum puas. "Saya ingin
mencoba lagi!"
"Boleh, boleh. kauseranglah aku sepuluh jurus yang paling lihai
dan aku tanggung bahwa engkau akan kukalahkan dengan jurusmu yang sama."
Dengan pengerahan tenaga dan memilih jurus-jurus terampuh, Kwat Lin
menyerang lagi, akan tetapi setiap kali menyerang satu jurus, dia menjerit
lirih karena benar saja, dia selalu dikalahkan oleh jurusnya sendiri. Jurus itu
digerakan oleh Han Ti Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian cepat dan
mengandung tenaga mujijat sehingga biarpun dia mengenal jurusnya sendiri, dia
tidak sempat lagi mengelak atau menangkis! Setelah sepuluh kali dia terkena
sentuhan ujung batu atau usapan tangan kiri lawan yang lihai ini dia menjadi
yakin, lalu menjatuhkan diri berlutut.
"Saya menerima penawaran Paduka!"
Han Ti Ong memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya bangun berdiri.
Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan wajah raja itu berseri melihat
betapa wajah Kwat Lin menjadi merah sekali dan ada kedukaan hebat tersembunyi
dibalik kemerahan wajah karena malu itu. dengan mesra Han Ti Ong mengusap pipi
halus kemerahan itu dan berkata lirih, "Aku tahu, Kwat Lin. Peristiwa
terkutuk menimpa dirimu membuat kau jijik terhadap pria dan muak terhadap
hubungan antara pria dan wanita. Akan tetapi, aku bukanlah pria yang
mengutamakan hubungan badani saja, Kwat Lin. Aku akan menghapus kejijikan dan
kemuakan itu. Percayalah, aku cinta dan iba kepadamu. Keputusan yang kau ambil
ini tepat sekali dan tidak akan mendatangkan sesal di kemudian hari. Mari, mari
kita mengumumkan pernikahan kita. Semoga engkau berbahagia." Han Ti Ong
mencium dan mengecup mesra dan halus pinggir mata Kwat Lin, kemudian
menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan memasuki istana dari pintu
belakang yang menembus ke "Taman" itu.
Tentu saja tidak ada kehebohan terjadi ketika Han Ti Ong mengumumkan
keputusanya mengambil The Kwat Lin, sebagai istri ke dua, sunguhpun hal ini
mendatangkan bermacam-macam tanggapan dalam hati para penghuni Pulau Es. Pesta
diadakan, pesta yang sederhana saja tetapi cukup meriah. Sebagian besar
penghuni Pulau Es bersuka cita dan mengharapkan bahwa dari pernikahan ini, raja
akan dikurniai seorang putera. Juga terjadi bermacam tanggapan di kalangan
keluarga raja. Ada kekecewaan akan tetapi ada pula harapan. Kecewa karena
sekali lagi Raja Han Ti Ong mengambil "orang luar" sebagai selir,
akan tetapi timbul harapan karena mungkin melalui istri ke dua ini mereka dapat
"memukul" Liu Bwee yang mereka benci.
Ternyata kemudian oleh Kwat Lin bahwa semua ucapan yang dikeluarkan
oleh Raja Pulau Es itu ketika meminangnya bukan hanya bujukan kosong belaka.
Raja itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan hal ini terasa olehnya setelah
dia menyerahkan dirinya menjadi selir Raja Han Ti Ong. Dengan sepenuh jiwa
raganya, Han Ti Ong mencurahkan kasih sayang kepadanya sedemikian besarnya
sehingga lambat laun dia pun jatuh cinta kepada suaminya ini. Dan dia yang
tadinya hendak belajar ilmu silat sebagai dorongan terutama dengan mengorbankan
dan menyerahkan diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta kasih
yang amat mesra dan mendalam, mulailah berbalik pikir. Apalagi setelah sembilan
bulan kemudian semenjak dia menjadi selir, dia melahirkan seorang anak
laki-laki.
Kwat Lin merasa betapa hidupnya berubah sama sekali, kalau dulu dia
hanya seorang pendekar wanita yang seringkali menghadapi banyak kesengsaraan
hidup, kini menjadi seorang yang mulia dan terhormat, bahkan dia mendapat
kenyataan bahwa suaminya benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa
tingginya! Timbullah keinginan hatinya untuk mengangkat diri menjadi
permaisuri, dan dia merasa berhak karena bukankah dia yang mempunyai keturunan
laki-laki, dan selain menjadi permaisuri, juga menjadi pewaris semua ilmu
kesaktian dari Pulau Es. Kalau sudah demikian, baru dia akan mencari dan
membunuh Pat-jiu Kai-ong. Kebenciannya terhadap kakek iblis jembel itu kini
menjadi tipis sekali. Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga malam
kakek itu mempermainkanya, merengut kehormatan dengan memperkosa secara amat
menghina akan tetapi ada segi lain yang membuat dia diam-diam berterima kasih
kepada kakek itu. Kalau tidak ada peristiwa hebat itu, agaknya selama hidupnya
dia tidak akan dapat bertemu dengan Han Ti Ong, apalagi menjadi istrinya dan
sekaligus pewaris ilmu-ilmunya!
Sin Liong belajar ilmu silat dengan tekun bersama sumoinya, Swat Hong
yang lincah jenaka. Dan mulai tampaklah bakatnya yang luar biasa. Tidak
mengherankan kalau para tokoh kang-ouw ingin memiliki bocah ini dan menjadikan
Sin Liong sebagai bahan perebutan, karena dia pantas disebut Sin-tong. Han Ti
Ong sendiri yang merupakan manusia luar biasa dan memiliki kecerdasan yang
disebut Kwee-bak-put-bong (sekali melihat tidak bisa lupa lagi), diam-daim
menjadi kagum sekali karena dia harus akui bahwa dalam hal kecerdasan dan
kekuatan pikiran, dia masih kalah oleh muridnya ini! Yang amat mengagumkan
hatinya adalah betapa di balik semua bakat yang luar biasa ini terpendam watak
yang amat luar biasa, watak yang penuh kehalusan, kelembutan dan kasih sayang
dan iba terhadap orang lain yang amat mendalam, di samping watak yang wajar
seadanya. Benar-benar seorang bocah yang ajaib!
Diam-diam Sin Liong mengerti bahwa diangkatnya Kwat Lin menjadi istri
Han Ti Ong, biarpun hal ini merupakan hal yang lumrah bagi seorang raja, namun
akan mendatangkan banyak ketidak baikan, terutama di pihak ibu sumoinya.
Apalagi ketika dia melihat sikap dan perubahan pada diri bekas pendekar wanita
Bu-tong-pai itu Akan tetapi karena dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak
tahu apa-apa dan yang sama sekali tidak berhak mencampuri "Urusan
dalam" suhunya, maka tentu saja dia hanya berdiam diri, hanya mengikuti
perkembangan keadaan dengan hati tidak enak.
Yang dikhawatirkan oleh anak yang belum tahu apa-apa memang sungguh
terjadi. Semenjak mengambil Kwat Lin sebagai isteri kedua, Liu Bwee menderita
tekanan batin yang amat hebat. Mula-mula tidak terasa olehnya ketika suaminya
makin jarang bermalam didalam kamarnya karena hal ini dianggapnya lumrah
setelah suaminya memiliki isteri lain yang baru. Akan tetapi perasaan
kewanitaannya yang halus segera dapat menangkap kehambaran cinta kasih yang
dicurahkan suaminya kepadanya. Dan terutama sekali setelah The Kwat Lin
mengandung, suaminya tidak pernah datang lagi menginap dikamarnya, dan kalau
sekali-sekali datang, tidak ada cumbu rayu dan kemesraan sama sekali, hanya
untuk menanyakan kesehatan dan agaknya suaminya datang hanya demi kesopanan
belaka!
Hati seorang wanita amatlah halusnya, mudah tersinggung, mudah gembira,
mudah marah, mudah berduka, mudah jatuh cinta dan mudah pula membenci! setelah
Kwat Lin melahirkan seorang anak laki-laki, mulailah hati Liu Bwee digerogoti
iri dan hal ini mendatangkan kebencian hebat. Dia mulai merasa tersiksa
batinya, merasa kesepian, rasa rindu yang makin menghimpit terhadap belaian
kasih sayang suaminya membuat Liu Bwee makin tersiksa, menambah kebenciannya
terhadap Kwan Lin yang makin dipuja suaminya itu. Liu Bwee bukan seorang wanita
yang gila akan kedudukan. Dia tidak mengejar kedudukan dan dia sama sekali
tidak khawatir akan menurunya derajatnya apabila madunya itu diangkat menjadi
permaisuri karena mempunyai seorang putera. Akan tetapi Liu Bwee adalah seorang
wanita yang haus akan kasih sayang, maka dapat dibayangkan betapa hebat
penderitaan batinnya setelah cintanya disia-siakan oleh suaminya yang telah
jatuh di bawah telapak kaki Kwat Lin.
Melihat penderitaan batin yang dialami oleh Liu Bwee ini, diam-diam
bersoraklah para keluarga raja. Bagi mereka, biarpun putera raja bukan
keturunan dari seorang ibu yang masih berdarah "agung" seperti
mereka, namun masih lebih baik dari pada kalau dilahirkan oleh seorang ibu
seperti Liu Bwee, hanya anak seorang nelayan Pulau Es rendah! Pula kebencian
mereka yang terdorong oleh iri hati terhadap Liu Bwee membuat mereka condong
kepada Kwan Lin sehingga kelahiran Han Bu Ong, nama putera itu, disambut dengan
penuh kegembiraan oleh keluarga raja dan juga oleh semua penghuni Pulau Es
sebagai penyambutan terhadap lahirnya seorang putera raja yang akan menjadi
pangeran mahkota!
Tujuh tahun telah lewat semenjak Sin Liong berada di Pulau Es.
Dipandang begitu saja, agaknya keadaan Pulau Es dan kerajaan kecilnya selama
tujuh tahun itu tidak terjadi perubahan sesuatu, para penghuninya masih hidup
dengan tenang dan tentram penuh kedamaian seperti puluhan, bahkan ratusan tahun
yang lalu. Raja Han Ti Ong tidak kalah bijaksana dalam mengendalikan
pemerintahan kecilnya sehingga para penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi hanya sedikit sekali. Namun sesungguhnya
terjadi perubahan yang amat besar dan banyak!
The Kwat Lin yang kini menjadi permaisuri, diangkat secara resmi oleh
Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee tergeser menjadi istri selir, bukan
hanya menjadi wanita pertama yang paling tinggi tingkat kedudukanya, namun juga
telah menjadi seorang wanita yang memiliki kesaktian hebat, hanya kalah oleh
suaminya dan beberapa tokoh lain di Pulau Es. Namun, hasratnya untuk membalas
dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong agaknya telah lenyap sama sekali! Dia kelihatan
hidup bahagia tenggelam dalam belaian penuh kasih sayang dari suaminya dan
melihat puteranya yang kini telah berusia enam tahun dan menjadi seorang anak
laki-laki yang tampan dan sehat biarpun tubuhnya agak kecil, sebagai pangeran,
tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sejak kanak-kanak.
Sin Liong telah memperoleh kemajuan yang mentakjubkan dan mengagumkan
Han Ti Ong sendiri. Semua ilmu yang diajarkan oleh raja itu, sekali dilatih
dapat dilakukan dengan hampir sempurna! Tentu saja dalam waktu beberapa tahun
dia telah jauh melampaui tingkat kepandaian sumoinya, dan setelah dia berusia
empat belas tahun, Sin Liong telah jauh meninggalkan tingkat sumoinya. Bukan
hanya dalam hal ilmu silat, akan tetapi juga dalam ilmu sinkang dia maju pesat
karena tanpa diperintah oleh suhunya, dengan tekun Sin Liong berlatih seorang
diri di bawah hujan salju yang amat dingin sehingga dia dapat menampung inti
sari tenaga im-kang yang amat hebat. Selain tekun mempelajari ilmu silat yang
diturunkan oleh suhunya tanpa ada yang disembunyikan itu, Sin Liong juga rajin
sekali membaca kitab-kitab yang banyak terdapat didalam kamar perpustakaan
istana. Dia dikenal oleh semua ahli sastra di Pulau Es dan mereka ini amat
kagum dan suka kepada Sin Liong melihat ketekunan bocah ajaib ini. Tidak ada
bosannya Sin Liong membaca kitab-kitab kuno dan setiap bertemu hurup baru yang
tidak dikenalnya, dia mencatatnya untuk kemudian ditanyakan kepada para ahli
itu. Dengan cara demikian, biarpun tidak dibimbing langsung, namun Sin Liong
telah dapat memperkaya perbendaharaan kata-kata sehingga dia mampu membaca
kitab-kitab yang paling kuno di dalam perpustakaan itu.
Kitab kuno tidaklah seperti kitab biasa, karena selain huruf-hurufnya
kuno, juga huruf-huruf itu mengandung arti yang amat mendalam. Karena inilah,
maka kitab-kitab yang amat kuno di pulau itu jarang atau hampir tidak pernah
dibaca orang. Han Ti Ong sendiri segan membaca kitab-kitab itu, karena selain
sukar, juga isinya hanyalah sajak-sajak kuno yang dianggapnya tidak ada gunanya
dan melelahkan otaknya. Namun semua kitab itu "dilalap" semua oleh
Sin Liong! Bukan ini saja, namun anak ajaib ini dapat menemukan sesuatu yang
tersembunyi didalam sajak-sajak itu!
Dia menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan
"rangka" terselubung di dalam huruf-huruf kuno yang sukar dimengerti
itu, bahkan menemukan pula ilmu yang masih dirahasiakan oleh Han Ti Ong, ilmu
yang selama ratusan tahun mengangkat nama Pulau Es, yaitu ilmu inti sari dasar
gerakan semua ilmu silat. Dengan ilmu ini yang sudah dikuasainya, maka Han Ti
Ong dapat mengalahkan tujuh orang tokoh sakti dengan jurus-jurus, jurus ilmu
silat mereka sendiri ketika Han Ti Ong menolong Sin Long di Jeng-hoa-sian.
Kini, secara tidak disengaja, bahkan di luar kesadaran Sin Liong sendiri, bocah
ajaib ini telah menemukan ilmu itu "terselip" dan terselubung di
antara sajak-sajak kuno yang kelihatanya tidak ada gunanya itu. Selain
memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silat, juga selama berada di Pulau Es, Sin
Liong memperoleh kesempatan memperdalam ilmunya mengenal daun dan tumbuhan obat
dengan jalan menyelidikinya di pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Es.
Dia memang mendapat tugas untuk mencari bahan-bahan obat di pulau-pulau
itu untuk kepentingan para penghuni Pulau Es, Dan dalam kesempatan melaksanakan
tugasnya ini, Sin Liong tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyelidiki lebih
banyak lagi tetumbuhan dan khasiatnya untuk kesehatan tubuh manusia. Dengan
adanya Sin Liong di Pulau Es, banyaklah sudah penghuni yang terhindar dari
bahaya penyakit, dan untuk ini, Han Ti Ong merasa berterima kasih sekali
sehingga dia tidak segan-segan menurunkan ilmu pengobatan tusuk jarum kepada
muridnya itu. Selain Sin Liong, tentu saja Swat Hong sebagai puteri raja, juga
memperoleh kemajuan pesat dan dalam usia tiga belas tahun itu dia telah
memiliki ilmu kepandaian yang sukar dicari tandinganya.
Dengan demikian, hampir semua orang di Pulau Es memperoleh kemajuan
masing-masing. Raja Han Ti Ong memperoleh kebahagiaan cinta kasih dalam diri
Kwat Lin yang telah menjadi permaisurinya. The Kwat Lin sendiri yang tadinya
mengalami malapetaka yang dianggapnya lebih hebat daripada kematian sendiri,
telah memperoleh banyak keuntungan, memperoleh cinta kasih yang mesra,
kedudukan tinggi sekali, dan ilmu kepandaian yang amat hebat pula. Hanya
seorang saja yang sama sekali tidak memperoleh kemajuan lahir maupun batin
yaitu Liu Bwee! Dia menderita makin hebat, terutama batinnya karena semenjak
beberapa tahun ini, suaminya sama sekali tidak pernah lagi mendekatinya!
Lenyaplah wataknya yang periang dan kini Liu Bwee lebih banyak mengurung
dirinya di dalam kamar, menyulam atau membaca kitab. Dia seolah-olah menjadi
seorang pertapa dan biarpun wajahnya tidak membayangkan sesuatu, masih tetap
cantik manis dan pakaiannya selalu bersih, namun sesungguhnya hatinya terluka
dan selalu meneteskan darah, batinnya terhimpit dan terbakar oleh rindu yang
tak kunjung henti, kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria yang tak
pernah terpuaskan.
Keadaan di dalam istana dengan adanya penderitaan Liu Bwee, dengan
adanya para anggauta keluarga istana yang masih menaruh benci kepadanya dan
tidak melihat kesempatan untuk menjatuhkan wanita ini karena Liu Bwee selalu
bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu, merupakan api dalam sekam yang
setiap saat tentu akan berkobar atau meledak. Hal ini tidak saja dirasakan oleh
semua angauta keluarga raja, bahkan dirasakan pula oleh Sin Liong dan Swat
Hong.
Sering kali Sin Liong kehilangan kejenakaan Swan Hong yang merupakan
ciri khas dara ini. Kalau dia melihat dara itu termenung seorang diri, dia menarik
nafas panjang dan sekali waktu dia menegur, "Eh, Sumoi. Kenapa kau
termenung dan wajahmu suram? lihat, hari tidak sesuram wajahmu, sinar matahari
mencairkan salju dengan cahaya yang keemasan!"
Swat Hong memandang pemuda itu dan menarik nafas panjang. "Betapa
aku tidak akan muram menyaksikan keadaan yang begini dingin di dalam istana,
Su-heng? Ayah memang masih biasa dan baik kepadaku, juga ibu baik kepadaku.
Akan tetapi antara Ayah dan Ibu seolah-olah terdapat jurang pemisah yang amat
dalam. Tidak pernah lagi aku menyaksikan keduanya beramah tamah dan bersendau
gurau seperti dahulu lagi. Apakah karena Ibu Permaisuri...?"
"Ssst, Sumoi. Kita tidak mempunyai hak untuk bicara mengenai
orang-orang tua itu. Hal itu adalah urusan mereka sendiri."
"Aku mengerti, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan hebat
bersembunyi di balik senyum Ibu kepadaku. Aku tahu betapa dia rindu kepada
Ayah, rindu yang membuatnya seperti gila...."
"Hushh...."
"Aku tidak membohong, Suheng. Seringkali aku mendengar Ibuku
mengigau memanggil nama Ayah dan menangis dalam tidur. Ibu selalu gelisah kalau
tidur dan biarpun dia hendak menyembunyikannya dariku, namun aku tahu betapa
Ibu menderita sengsara batin yang hebat, menderita rindu yang menghancurkan
batinnya...." Dara itu kelihatan berduka sekali, kemudian berkata lagi,
"Suheng, apa sih perlunya orang saling mencinta kalau akibatnya hanya
mendatangkan rindu dan kecewa?"
"Itu bukan cinta, Sumoi, Ahh, kau takan mengerti dan semua orang
takan mengerti karena sudah lajim menganggap hawa nafsu sama dengan cinta. Hawa
nafsu menuntut pemuasan, menuntut kesenangan dan ingin memilikinya untuk diri
sendiri. Dan semua inilah yang menimbulkan kecewa dan duka, Sumoi."
Sumoinya terbelalak. "Aihh, kau bicara seperti kakek-kakek saja!
Dari mana memperoleh filsafat macam itu, Suheng?" Karena tertarik, dara
yang muda ini sudah melupakan kedukaanya dan menjadi riang gembira lagi,
matanya memandang suhengnya dengan berseri penuh godaan.
"Dari... hemm, kukira dari kesadaran, Sumoi. Bukan filsafat. Aku
sudah kenyang membaca filsafat, dan apa artinya filsafat kalau hanya untuk
dihafal? Tidak ada bedanya dengan benda mati yang hanya diulang-ulang, dipakai
perhiasan, dijadikan alat untuk terbang melayang diawang-awang yang kosong.
Terlalu banyak kitab kubaca sudah, dan mungkin juga karena memperhatikan
keadaan mendatangkan kesadaran." Dia menarik napas panjang.
"Suheng, kau tadi mencela aku yang kau katakan murung. Akan tetapi
aku juga seringkali melihat engkau seperti orang berduka. Apakah kau tidak
senang tinggal di Pulau Es?"
"Aku suka sekali tinggal di sini, Sumoi. Kurasa jarang terdapat
tempat seindah ini, masyarakat setenteram ini. Akan tetapi, kalau aku melihat
hukuman-hukuman yang dibuang ke Pulau Neraka..."
"Aih, hal itu bukan urusan kita, Suheng. Bukankah kau tadi juga
mengatakan bahwa urusan antara Ayah dan Ibu bukan urusanku? Maka urusan hukuman
itu pun sama sekali bukan urusan kita."
"Kau keliru, Sumoi. Urusan Ayah Bundamu memang merupakan urusan
pribadi mereka. Akan tetapi urusan orang-orang terhukum adalah urusan umum,
urusan kita juga. Aku merasa tidak senang sekali dengan adanya peraturan itu.
Aku akan berusaha untuk mengingatkan Suhu...."
"Tapi Ayah seorang Raja, Suheng!"
"Raja pun manusia juga."
"Tapi Raja hanyalah menjalankan hukum yang berlaku, Suheng."
"Hukum pun buatan manusia. Benda Mati!"
Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul. Sejenak dua orang muda-mudi
itu memperhatikan dan wajah Sin Liong menjadi muram. "Nah, ada lagi sidang
pengadilan yang akan menjatuhkan hukuman. Entah siapa lagi sekarang yang
melakukan pelanggaran. Mari kita lihat, Suheng!"
Sin Liong digandeng tangannya oleh Swat Hong yang menariknya ke arah
bangunan di samping istana, bangunan yang dijadikan ruang sidang pengadilan di
mana dijatuhkan hukuman terhadap mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran.
Ketika mereka tiba di situ, banyak sudah penghuni Pulau Es yang menonton diluar
ruangan, dan tentu saja dua orang muda-mudi itu mudah untuk memasuki ruang
sidang dan duduk di atas kursi yang berderet di pinggiran.
Ruangan itu luas sekali, lantainya halus dan bersih. Isi ruang hanyalah
sebuah meja panjang dan di belakang meja panjang ini terdapat lima buah kursi
dan di kanan kiri, di pinggir juga terdapat kursi-kursi, sedangkan di depan
meja, di bagian tengah tetap kosong. Pada saat Sin Liong dan Swat Hong tiba di
ruangan itu, di belakang meja telah duduk hakim, yaitu seorang kakek tua
keluarga kerajaan yang biasa bertugas sebagai hakim, sedangkan di sebelah
kanannya, di kursi kebesaran, tampak duduk Han Ti Ong sendiri bersama
permaisurinya. Hal ini merupakan keanehan karena biasanya raja hanya datang
tanpa permaisurinya dan duduk bersama dengan para pangeran lain. Agaknya
permaisuri Raja Han Ti Ong sekarang ini ingin pula melihat pengadilan dilakukan
di Pulau Es.
Para pesakitan yang sudah berlutut di depan meja, di atas lantai, hanya
tiga orang. Seorang laki-laki tinggi besar penuh brewok yang matanya lebar dan
gerak-geriknya kasar, seorang laki-laki muda yang tampan dan seorang wanita
yang usianya empat puluhan, namun masih cantik dan wanita ini berlutut di
samping laki-laki muda yang kelihatan ketakutan, tidak seperti laki-laki tinggi
besar dan Si Wanita yang kelihatan tenang-tenang saja.
Dengan suara lantang jaksa penuntut membacakan tuntutan kepada
laki-laki tinggi besar yang sudah berlutut ke depan setelah namanya dipanggil,
yaitu Bouw Tang Kui.
"Bouw Tang Kui telah berkali-kali diperingatkan karena sikapnya
yang kasar, suka menggunakan kepandaian menghina yang lemah dan suka mencuri.
Terakhir ditangkap karena melakukan pencurian, mengambil batu hijau mustika
penyedot racun ular milik orang lain. Karena kejahatannya membahayakan Pulau
Es, dapat menimbulkan kekacauan dan permusuhan, maka hukuman yang paling berat
patut dijatuhkan atas dirinya, selain untuk memberantas kejahatan dari
permukaan pulau juga sebagai contoh kepada semua penghuni pulau."
Hening sejenak, kemudian terdengar suara hakim tua yang lemah dan agak
gemetar, "Bouw Tang Kui, kau sudah mendengar tuduhan atas dirimu. Kau
diperkenankan membela diri."
Bouw Tang Kui yang berlutut itu memberi hormat kepada raja, kemudian
dengan suaranya yang kasar dan nyaring berkata, "Hamba mengaku telah
melakukan perbuatan itu karena hamba ingin memiliki mustika batu hijau. Hamba
telah menerima banyak budi dari Sri baginda, kalau sekarang dianggap berdosa,
hamba siap menerima segala macam hukuman yang dijatuhkan kepada hamba."
Hakim berfikir sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata,
"Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Bouw Tang
Kui."
Suasana menjadi hening. Keputusan hukuman ini merupakan yang lebih
hebat dari pada penggal kepala. Banyak di antara mereka yang mendengarkan,
menahan nafas dengan muka pucat, ada yang menaruh hati kasihan kepada Bouw Tang
Kui. Akan tetapi pesakitan itu sendiri setelah memandang kepada raja, lalu
berkata, suaranya penuh pahit getir, "Hukuman apa pun bagi hamba tidak
terasa berat, yang terasa berat adalah bahwa hamba dipaksa untuk memusuhi Pulau
Es yang hamba cintai!"
"Jadi engkau menerima keputusan hukuman?" hakim bertanya.
"Hamba mene...."
"Nanti dulu!!" tiba-tiba terdengar suara nyaring dan Han Ti
Ong sendiri mengangkat muka memandang tajam ketika melihat Sin Liong telah
berdiri dari kursinya dan mengeluarkan seruan itu. "Harap Suhu dan para
Cu-wi sekalian maafkan saya. Akan tetapi pesakitan berhak untuk dibela dan saya
hendak membelanya. Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap berdosa dan memang dia
telah melakukan pelanggaran. Akan tetapi patutkah kalau kesalahannya itu lalu
dijadikan tanda bahwa dia seorang jahat yang tidak bisa diampuni lagi? Saya
hendak bertanya, siapakah di antara Cu-wi sekalian yang tidak pernah melakukan
kesalahan?"
"Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan karena kita
semua manusia, maka kita pun tentu pernah melakukan kesalahan. Siapakah yang
mau kalau kesalahan yang dilakukannya itu lalu dijadikan tanda bahwa selamanya
dia akan bersalah atau berdosa, dan patut dihukum tanpa ampun lagi? Kesalahan
yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui adalah sebuah penyelewengan biasa yang
dilakukan oleh manusia yang berbatin lemah. Manusia yang berbatin lemah dan
melakukan penyelewengan sama saja dengan seorang yang sedang menderita semacam
penyakit, hanya bedanya, yang sakit bukan tubuhnya melainkan hatinya. Akan
tetapi, setiap orang sakit bisa sembuh! Maka, menghukumnya dengan hukuman keji
itu sama dengan membunuhnya!"
Hening sekali keadaan di situ setelah pemuda tanggung ini mengeluarkan
pembelaanya.
"Akan tetapi di sini sudah diadakan hukum sejak ratusan tahun dan
kita semua harus tunduk kepada hukum!" kata Han Ti Ong ketika melihat
betapa hakim ragu-ragu untuk menjawab. Dia maklum bahwa Sin Liong disuka banyak
orang di situ, dan selain ini, agaknya para pejabat itu juga sungkan mendebat
karena pemuda itu adalah murid raja. Karena inilah maka Han Ti Ong sendiri yang
mengeluarkan suara membantah.
"Harap Suhu memaafkan teecu kalau teecu terpaksa mendebat. Saudara
Bouw melanggar hukum yang dianggap berdosa, lalu menurut hukum harus dibuang ke
Pulau Neraka. Dari manakah timbulnya pelanggaran yang disebut dosa? Kalau tidak
ada hukum, mana mungkin ada dosa? Kalau tidak ada larangan, mana mungkin ada
pelanggaran? Hukumlah yang menciptakan dosa dan pelanggaran, hukum adalah keji
karena hukuman yang dijatuhkan sebetulnya lebih kotor daripada dosa itu
sendiri! Kalau dia dianggap bersalah lalu dibuang ke Pulau Neraka, bukankah hal
itu membuat dia menjadi makin jahat dan mendendam? Andaikata seorang penderita
sakit, penyakitnya menjadi makin parah! Apakah hukuman pembuangan ke Pulau
Neraka itu akan menginsafkannya? Suhu, sudah berkali-kali teecu menyatakan
bahwa hukuman seperti ini tidak patut dilakukan di….. Lebih baik menuntut
mereka yang tersesat agar kembali ke jalan benar dari pada menghukum mereka
dengan kekerasan yang akan membuat mereka menjadi lebih jahat lagi."
"Kwa Sin Liong, kau tak berhak untuk mencela hukum yang sudah
menjadi tradisi kami! Hakim, lanjutkan persidangan dan pembelaan yang dilakukan
atas diri Bouw Tang Kui tidak dapat diterima!" bentak Han Ti Ong yang
merasa tersinggung juga mendengar betapa peraturan yang dijunjung tinggi selama
ratusan tahun oleh nenek moyangnya itu kini disangkal dan dicela oleh seorang
bocah yang menjadi muridnya!
Sin Liong menghela nafas dan terpaksa dia duduk kembali.
"Ssttt, kau terlampau berani...." Swat Hong berbisik.
"Hemmm... tiada gunanya...." Sin Liong balas berbisik.
Suara jaksa yang lantang sudah memanggil nama dua orang pesakitan yang
lain, laki-laki tampan dan wanita cantik itu. Mereka maju dan berlutut di depan
pengadilan.
"Sia Gin Hwa dan Lu Kiat telah ditangkap karena melakukan
perjinaan. Karena Sia Gin Hwa telah menjadi istri syah dari Ji Hoat, maka
perbuatan itu merupakan perbuatan hina yang amat berdosa, melanggar larangan
keras yang telah disyahkan hukum. Karena itu, tidak ada pengampunan baginya dan
mohon pengadilan menjatuhkan hukuman terberat kepadanya. Adapun Lu Kiat,
biarpun masih muda dan belum beristri, namun dia telah berjinah dengan istri
orang, maka dia pun harus dijatuhkan hukuman yang layak. Kemudian terserah
kepada hakim."
Wanita itu menundukan mukanya yang menjadi merah sekali ketika
mendengar suara mengejek dari mereka yang menonton di luar ruangan sidang, akan
tetapi sikapnya masih tenang-tenang saja. Adapun Lu Kiat, pemuda itu menjadi
pucat wajahnya, akan tetapi dia juga menundukan mukanya, kelihatan gelisah
sekali.
"Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Sia
Gin Hwa dan hukuman rangket seratus kali kepada Lu Kiat!"
"Hamba tidak menerima!" Tiba-tiba Sia Gin Hwa berteriak.
"Yang melakukan perjinaan adalah hamba berdua, maka kalau dibuang pun
harus hamba berdua!"
"Tidak, hamba menerima hukuman rangket seratus kali!" teriak
pula Lu kiat.
"Laki-laki apa kau ini? Ketika merayuku, kau berjanji akan
bersama-sama menderita andaikata dibuang ke Pulau Neraka!" Sia Gin Hwa
memaki dan terjadilah ribut mulut antara mereka.
"Diam!!" Teriakan menggetarkan dari Han Ti Ong membuat mereka
berdiri menjatuhkan diri mohon pengampunan.
"Karena kalian melakukan perbuatan yang memalukan sekali,
menodakan nama baik Pulau Es, maka sepatutnya kalian berdua sama-sama dibuang
ke Pulau Neraka!" kata Raja itu dengan suara tenang namun penuh wibawa.
Sia Gin Hwa memegang tangan kekasihnya dan menangis sambil menciumi tangan itu,
akan tetapi wajah Lu Kiat menjadi makin pucat.
Kembali Sin Liong bangkit berdiri. "Maaf, Suhu. Teecu terpaksa
membantah lagi! Mereka memang telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum
yang ada, akan tetapi apakah perbuatan mereka itu sudah demikian jahatnya maka
sampai mereka dihukum buang? Teecu kira di balik perbuatan mereka itu tentu ada
sebab dan alasannya. Mereka menjadi korban nafsu, akan tetapi kalau seorang
istri sampai melakukan penyelewengan, tentu pihak suami juga ada kesalahannya.
Tidak perlukah diselidiki mengapa wanita ini yang telah bersuami sampai berjina
dengan pria lain? Mengapa dia sampai tidak dapat menahan dorongan nafsu berahi?
Tentu ada sebab-sebabnya."
" Sin Liong, engkau seorang bocah belum dewasa, tahu apa tentang
nafsu berahi?" bentak gurunya, agak tertegun juga karena dia mendapatkan
kebenaran tersembunyi di balik bantahan muridnya itu.
Terdengar suara ketawa ditahan di sana-sini, bahkan permaisuri sendiri
menahan senyumnya.
"Teecu...teecu...mengerti dari kitab...."
"Pembelaan seorang anak yang belum dewasa terhadap perjinaan yang
dilakukan orang dewasa tidak dapat diterima. Laksanakan hukumannya dan buang
mereka bertiga sekarang juga ke Pulau Neraka!" kata Han Ti Ong.
Persidangan dibubarkan dan tiga orang pesakitan itu lalu digiring
keluar untuk dilaksanakan hukuman atas diri mereka, yaitu dibuang ke Pulau
Neraka, hukuman yang paling mengerikan dan paling di takuti oleh semua penghuni
Pulau Es karena mereka semua tahu bahwa di buang ke Pulau Neraka berarti hidup
tersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kematian!
Peristiwa seperti inilah yang membuat hati Sin Liong memberontak. Dia
amat cinta dan kagum kepada suhunya, akan tetapi peraturan hukum di Pulau Es
ini dianggapnya terlalu kejam. Sebaliknya, Han Ti Ong yang maklum akan
kekecewaan hati muridnya yang dia kagumi dan cinta, berusaha menyenangkan hati
muridnya itu dengan menurunkan ilmu-ilmu simpanannya sehingga dalam waktu
setahun lagi saja ilmu kepandaian pemuda yang berusia lima belas tahun itu
menjadi makin hebat. Boleh dibilang dialah orang satu-satunya yang menjadi
pewaris ilmu-ilmu Pulau Es. Biarpun Permaisuri juga mewarisi banyak ilmu
dahsyat namun dibandingkan dengan Sin Liong dia kalah bakat sehingga kalah
sempurna gerakannya, apalagi dalam hal tenaga sinkang dia kalah jauh. Hal ini
adalah karena Sin Liong adalah seorang yang pada dasarnya memiliki batin kuat
dan tidak pernah terseret oleh nafsu, sebaliknya The Kwat Lin adalah seorang
wanita yang dibangkitkan nafsunya semenjak dia diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong.
0 komentar:
Posting Komentar