advertisement
Bukek Siansu Jilid 10 - Ruangan itu luasnya lebih dari sepuluh meter
persegi, dikelilingi banyak orang yang memegang bermacam senjata dan yang
sikapnya semua penuh curiga dan permusuhan, kecuali Bouw Tang Kui, Sia Gin Hwa,
Lu Kiat dan belasan orang lagi yang belum lama dibuang kesitu sehingga mereka
ini mengenal Sin Liong sebagai murid Han Ti Ong yang selalu baik kepada mereka,
bahkan banyak di antara mereka yang pernah diobati oleh pemuda ini.
"Hayo berlutut di depan tocu!" kata Si Brewok sambil
mendorong Sin Liong ke depan.
Akan tetapi Sin Liong dengan tenang berdiri di depan To-cu itu dan
memandang penuh perhatian. Orang ini sudah tua, sedikitnya tentu ada enam puluh
tahun usianya. Kepalanya besar sekali, tubuhnya kurus kecil sehingga kelihatan
lucu, seperti seekor singa jantan yang duduk di kursi! Sepasang matanya
bersinar-sinar, mulutnya menyeringai. Sebetulnya wajahnya tampan, akan tetapi
karena sikapnya yang ganas itu membuat wajahnya kelihatan menyeramkan dan
menakutkan. Pakaiannya tidak seperti pakaian sebagian besar penghuni Pulau
Neraka yang butut, melainkan pakaian dari kain yang baru dan bersih. Kursinya
terbuat dari tulang-tulang berukir, dan di kedua lengan kursinya dihias dengan
rangka ular dengan moncongnya ternganga lebar memperlihatkan gigi yang runcing
melengkung. Di sebelah kanan ketua Pulau Neraka ini duduk seorang anak
perempuan yang tadinya hampir membuat Sin Liong salah kira. Anak itu usianya
sebaya dengan Swat Hong, seorang anak perempuan yang cantik dan
tersenyum-senyum, sikapnya kelihatannya gembira dan mungkin karena sebaya maka
kelihatanya mirip dengan Swat Hong. Hampir saja Sin Liong tadi memanggilnya
ketika mula-mula memasuki ruangan. Ketika melihat betapa pemuda tawanan itu
memandangnnya penuh perhatian, anak perempuan itu tersenyum-senyum.
Melihat Sin Liong tidak mau berlutut di depannya, kakek itu memandang
tajam, kemudia berkata berlahan, suaranya rendah, "Hemmm, kau tidak mau
berlutut, ya? Hendak kulihat kalau kedua lututmu patah, kau berlutut atau
tidak?"
Berkata demikian, tiba-tiba tangan kakek itu menyambar sebatang toya
dari tangan seorang penjaga, menekuk toya itu sehingga patah tengahnya dan
sekali dia menggerakan tangan, sepasang potong toya itu menyambar ke arah kedua
kaki Sin Liong!
Pemuda itu terkejut, akan tetapi bersikap tenang. Dia maklum bahwa
ketua Pulau Neraka itu bermaksud menggunakan lemparan tongkat untuk membikin
sambungan lututnya terlepas. Maka dia cepat menggerakan kedua kakinya, meloncat
ke atas, kemudian setelah melihat kedua toya berkelebat ke bawah kaki dia
menggunakan kedua kakinya menginjak. Sepasang tongkat pendek itu menancap di
atas lantai dan pemuda itu berdiri di atas kedua ujung tongkat dengan tubuh
tegak dan bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu!
"Waduhhh, dia hebat sekali, kong-kong (Kakek)!" anak
perempuan yang tadi tersenyum-senyum itu bersorak penuh kagum, padahal anak
buah Pulau Neraka memandang marah karena mengangap bahwa pemuda itu mengejek
ketua mereka.
"Hebat apa! Permainan kanak-kanak seperti itu!" Kakek
berkepala besar itu mendengus marah.
"Kong-kong juga bisa? Ajarkan aku kalau begitu!" anak
prempuan itu berkata dengan sikap dan suara manja.
"Hushh! Diamlah kau!" kakek itu membentak dan sejak tadi
matanya tidak pernah berpindah dari Sin Liong. Dibentak seperti itu, anak
perempuan itu cemberut dan mukanya merah, menahan tangis. Sin Liong merasa
kasihan lalu meloncat turun dan berkata menghibur,
"Adik yang manis, jangan berduka. Biarlah kalau ada kesempatan aku
akan mengajarkannya kepadamu."
Anak perempuan itu memandang Sin Liong dengan mata terbelalak, kemudian
lenyaplah kemuraman wajahnya yang manja menjadi berseri-seri kembali.
"Orang muda yang bersikap dan bermulut lancang! Siapa engkau yang
mengandalkan sedikit kepandaian untuk mengacau Pulau Neraka?" Kakek itu
membentak, menahan kemarahannya karena dia merasa direndahkan sekali ketika
serangan sepasang tongkatnya tadi gagal dan dihadapi oleh pemuda itu secara
luar biasa.
Sin Liong cepat memberi hormat dengan menjura dalam-dalam, kemudian dia
berkata dengan suara tenang,
"Harap To-cu suka memaafkan kedatanganku ke Pulau Neraka ini.
Seperti telah kukatakan kepada semua penghuni Pulau Neraka kedatanganku sama
sekali tidak mengandung niat buruk atau hendak bermusuhan. Aku bernama Kwa Sin
Liong dan ...."
"Dia murid Han Ti Ong!" tiba-tiba Si Brewok berkata lantang.
Ucapan ini disambut dengan suara berisik dari semua oang yang berada di
situ karena mereka sudah menjadi marah sekali. Semua orang yang berada disitu
adalah orang-orang buangan dari Pulau Es, semenjak raja pertama sehingga sudah
tinggal disitu selama tiga keturunan, ada orang buangan baru dan ada pula yang
merupakan turunan dari orang-orang buangan lama, akan tetapi kesemuanya
mempunyai rasa benci dan dendam pada satu nama, yaitu Pulau Es! Maka begitu
mendengar pemuda tampan dan tenang ini adalah murid Han Ti Ong, raja terakhir
dari Pulau Es, dapat dibayangkan kemarahan hati mereka. Dengan pandang mata
mereka yang liar mereka hendak mencabik-cabik dan membunuh pemuda itu yang
dianggapnya seorang musuh besar, dan andaikata mereka itu tidak takut kepada
ketua mereka, tentu mereka telah menyerbu untuk melaksanakan niat yang
terbayang dalam pandang mata mereka itu.
"Akan tetapi dia selalu menentang Han Ti Ong, menentang pembuangan
ke Pulau Neraka!" terdengar suara beberapa orang membela, yaitu suara Bouw
Tang Kui, Lu Kiat, Sia Gin Hwa dan beberapa orang buangan baru yang lain.
"Bunuh saja dia!"
"Seret murid Han Ti Ong!"
"Jadikan dia mangsa ular!"
Kakek bekepala besar itu mengangkat kedua lengannya ke atas dan
membentak, "Diam...!!"
Sin Liong kembali terkejut. Ketika mengeluarkan suara bentakan tadi
ketua Pulau Neraka agaknya telah mengerahkan khikangnya sehingga dia sendiri
yang berdiri di depan kakek itu merasa betapa kedua kakinya tergetar!
Mengertilah dia bahwa ketua Pulau Neraka ini benar-benar memiliki ilmu
kepandaian tinggi dan tahulah dia bahwa dia telah memasuki sarang naga dan
berada dalam keadaan terancam. Namun Sin Liong tidak merasa takut sedikitpun
juga karena dia merasa bahwa dia tidak melakukan suatu kesalahan terhadap
mereka ini. Maka kembali dia menjura kepada ketua Pulau Neraka sambil berkata,
"To-cu, sekali lagi kujelaskan bahwa kedatanganku ini sama sekali
tidak mengandung niat buruk dan kalau tidak ada perlu sekali pasti aku tidak
akan berani menginjakan kaki ke pulau ini. Aku datang untuk mencari Sumoiku
yang bernama Han Swat Hong puteri Suhu....." Sin Liong menghentikan
kata-katanya karena teringat bahwa dia telah kelepasan bicara, akan tetapi
karena sudah terlanjur maka tak mungkin kata-kata itu ditariknya kembali.
"Puteri Han Ti Ong...??" Ketua Pulau Neraka berseru keras
sekali sampai mengagetkan semua orang. "Kau mencari puteri Han Ti Ong di
sini?"
Sin Liong berkata, "Benar, To-cu. Karena aku menduga bahwa dia
berada di sini maka aku menyusul ke sini."
"Tangkap puteri Han Ti Ong!"
"Bunuh dia!"
"Gantung puterinya!"
Kini Sin Liong mengangkat kedua lengannya dan sambil menggerakan
khikangnya dia beseru, "Harap Cu-wi diam!"
Dan diamlah semua orang. Di antara mereka yang memiliki kepandaian
tinggi, termasuk ketua Pulau Neraka, kagum sekali karena orang muda yang belum
dewasa benar ini ternyata memiliki kekuatan khikang yang amat hebat!
"Harap Tocu tidak salah sangka. Puteri Han Ti Ong itu juga menjadi
orang buangan."
Ucapan Sin Liong ini tentu saja mengejutkan dan mengherankan hati semua
orang sehingga mereka tidak dapat mengeluarkan kata-kata melainkan hanya
memandang kepada Sin Liong dengan mata terbelalak.
"Kau bohong!" Kakek berkepala besar itu menghardik.
"Mana mungkin Han Ti Ong membuang puterinya sendiri ke Pulau Neraka?"
"Agaknya Tocu telah mengerti akan kerasnya peraturan hukum di
Pulau Es, dan sebetulnya yang dianggap melanggar hukum adalah istri suhu
sendiri, istri tua, yang aku yakin hanyalah karena fitnah belaka. Suhu telah
menjatuhkan hukuman kepada Subo dan Sumoi lalu mewakili ibunya untuk membuang
diri ke Pulau Neraka, maka aku menyusul ke sini untuk mengajaknya pulang ke
Pulau Es."
Tiba-tiba ketua Pulau Neraka tertawa bergelak, tertawa penuh
kegembiraan sampai kedua matanya mengeluarkan air mata!
"Huah-ha-ha-ha! Ha-ha-ha, betapa lucunya! Rasakan kau sekarang Han
Ti Ong, Raja keparat! Rasakan kau betapa perihnya orang tertimpa kesengsaraan
karena keluarga berantakan. Ha-ha-ha!"
Semua orang yang melihat dan mendengar kata-kata ketua Pulau Neraka ini,
kontan tertawa-tawa semua, mentertawakan Raja Pulau Es! Biarpun mereka belum
sempat membalas dendam kepada Raja Pulau Es, mendengar nasib buruk Raja itu
sudah merupakan hiburan besar yang amat menyenangkan hati mereka. Hanya anak
perempuan itu saja yang tidak ikut tertawa karena dia agaknya tidak mengerti
apa-apa, dan pada saat itu dia hanya saling pandang dengan Sin Liong yang juga
terheran-heran.
"Hei, Kwat Sin Liong! Betapa baiknya ceritamu, akan tetapi aku
masih belum percaya kalau tidak melihat sendiri puteri Han Ti Ong datang ke
pulau ini. kita tunggu dan lihat saja. Setelah aku melihat puteri Han Ti Ong
berada di pulau ini, barulah kita akan bicara lagi. Tangkap dia dan masukkan
dalam kamar tahanan sambil menanti munculnya puteri Han Ti Ong!"
Si Brewok dan beberapa orang yang agaknya menjadi pembantu utama ketua
Pulau Neraka sudah melangkah menghampiri Sin Liong dengan sikap mengancam.
Pemuda ini maklum bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyerah sambil menanti
munculnya Sumoinya karena sebelum dia bertemu dengan Sumoinya, melawan hanya
akan menimbulkan permusuhan yang tidak ada artinya saja. Maka dia mengangkat
kedua tangannya dan berkata, "Aku tidak akan melawan, kecuali kalau kalian
menggunakan kekerasan. Aku menyerah dan mau menanti di kamar tahanan sampai
Sumoiku muncul."
Melihat sikap tenang dan ucapan yang berwibawa ini, belasan orang yang
mengurung Sin Liong dengan sikap mengancam tadi kelihatan ragu-ragu. Akan
tetapi Sin Long lalu melangkah ke depan dan berkata, "Marilah bawa aku ke
kamar tahanan."
"Jangan ganggu dia, biar dia mengaso di kamar tahanan dan layani
baik-baik sampai puteri Han Ti Ong mucul. kalau dia membohong, hemm, baru kita
akan berpesta membunuhnya!"
Ketua Pulau Neraka berkata sambil terkekeh-kekeh karena hatinya senang
sekali mendengar betapa Han Ti Ong sampai membuang istrinya sendiri ke Pulau
Neraka, kemudian puterinya malah membuang diri ke Pulau Neraka. Biarpun dia
belum percaya benar akan cerita ini sebelum dia menyaksikan buktinya, namun
berita itu saja sudah mendatangkan rasa senang di dalam hatinya.
Dengan sikap gagah dan tenang sekali Sin Liong digiring ke dalam kamar
tahanan, diikuti oleh pandang mata penuh khawatir dari anak perempuan tadi.
Setelah rombongan itu lenyap, anak perempuan itu mencela ketua Pulau Neraka,
"Kong-kong kenapa dia ditahan? Dia luar biasa, berani dan pandai
sekali!"
"Hushh! Dia orang Pulau Es, dia murid Han Ti Ong, karena itu dia
adalah musuh kita. Mengerti?"
Anak perempuan itu cemberut, lalu meninggalkan kakek itu sambil
bersungut-sungut sedangkan kakeknya tertawa bergelak dengan hati senang. Dia
lalu memberi isyarat memanggil seorang kepercayaannya, lalu berbisik-bisik
sambil tersenyum-senyum. Pembantunya juga tertawa, mengangguk-anguk lalu pergi.
Kakek ini, Ketua Pulau Neraka yang memiliki kepandaian tinggi, sama sekali
tidak curiga kepada cucunya sendiri, tidak tahu bahwa cucunya itu tadi
menyelinap dan mendengarkan perintah yang dia berikan kepada orang
kepercayaannya.
Sin Liong adalah seorang pemuda yang tidak pernah mempunyai prasangka
buruk terhadap orang lain. Dia belum banyak mengenal kepalsuan watak manusia
dan biarpun terhadap orang-orang Pulau Neraka, dia tetap menaruh kepercayaan.
Maka diapun percaya penuh akan kata-kata ketua Pulau Neraka dan dengan suka
rela dia menyerahkan diri, tidak melawan ketika digiring memasuki kamar
tahanan!
Setelah berada di dalam kamar di bawah tanah yang sempit itu, dengan
jendela dan besi dari baja, dan ruji baja yang kuat memenuhi jendela sebagai
jalan hawa, dia segera duduk bersila. Dia tak menaruh khawatir akan keadaan
dirinya, akan tetapi dia merasa gelisah mengapa sumoinya belum tiba di Pulau
Neraka? Dia percaya bahwa ketua Pulau Neraka tidak membohonginya. Kalau benar
bahwa Swat Hong telah berada di Pulau Neraka, tentu tidak seperti ini sikap
mereka terhadap dirinya. Kalau begitu, jelas bahwa Sumoinya belum tiba di Pulau
Neraka, padahal telah berangkat lebih dahulu. Ke manakah perginya sumoinya itu?
Tengah malam telah lewat dan keadaan sunyi sekali dalam kamar tahanan
itu. Tidak ada penjaga di luar pintu atau jendela, akan tetapi dia tahu bahwa
di pintu masuk lorong tahanan itu terdapat beberapa orang penjaga yang selalu
siap dengan senjata di tangan. Tiba-tiba dia mendengar suara wanita yang
marah-marah di sebelah luar dan suara para penjaga ketakutan.
"Kalian berani melarangku masuk?" terdengar suara wanita itu.
"Nona, tahanan ini adalah orang penting! dan...."
"Dan kauanggap aku bukan orang penting? Kaukira aku mau apa? Aku
mau mengejeknya dan memakinya, dia adalah musuh besarku. Apakah kau berani
melarangku? Coba kau melarang dan aku akan mengatakan kepada Kong-kong bahwa
kalian berani kurang ajar kepadaku hendak menggodaku, aku mau melihat apakah
kepala kalian masih akan menempel di leher!"
"Ah, tidak... bukan begitu...."
"Maafkan, Nona...."
"Silahkan masuk, silahkan…."
"Awas kalau ada yang mengikuti aku dan mengintai, berarti dia mau
kurang ajar dan akan kuberitahukan kepada Kong-kong!"
Sin Liong sudah menduga siapa wanita yang bicara di luar dan
ribut-ribut dengan para penjaga itu, akan tetapi begitu dara itu muncul di
bawah sinar lampu di luar ruji jendelanya, hampir saja dia berteriak memanggil
karena mengira bahwa Swat Hong yang muncul itu. Di bawah sinar lampu yang tidak
begitu terang memang gadis cucu ketua Pulau Neraka ini hampir sama dengan Swat
Hong. Setelah melihat jelas bahwa yang datang adalah cucu ketua Pulau Neraka
dan mengingat akan kata-kata gadis ini di luar tadi bahwa kedatangannya dengan
niat mengejek dan memakinya, Sin Liong tetap duduk bersila dan bahkan
memejamkan matanya, pura-pura tidur.
"Ssssttt..."
Sin Liong tidak menjawab, bergerak sedikitpun tidak. Perlu apa melayani
seorang bocah yang hanya datang hendak mengejek dan memakinya? Demikian
pikirnya sungguhpun hatinya terasa tidak enak juga harus mendiamkan saja orang
yang susah payah datang sampai ribut mulut dengan para penjaga. Tentu akan
kecewa hatinya, pikir Sin Liong dan diam-diam dia mengintai dari balik bulu
matanya yang direnggangkanya sedikit.
"Pssstttt... kau tidak tidur, bulu matamu bergerak-gerak, jangan
kau tipu aku...." anak perempuan itu berkata lagi dengan suara bisik-bisik
dan meruncingkan bibirnya di antara ruji-ruji jendela.
Sin Liong menarik napas panjang dan membuka matanya. "Hah, kau
boleh mengejek dan memaki sesukamu, kemudian pergilah agar aku dapat mengaso
benar-benar," katanya.
"Hi-hik!" Gadis itu menahan ketawanya, menutupi mulutnya yang
kecil. "Kiranya engkau sama bodohnya dengan para penjaga itu, percaya saja
apa yang kukatakan di luar tadi!"
Sin Liong bangkit berdiri dan menghampiri jendela kamar tahanan. Mereka
saling berhadapan dan saling pandang melalui ruji-ruji jendela.
"Apa yang kaumaksudkan, Nona?"
Mulut yang tersenyum itu kini cemberut dan terdengar suaranya manja,
"Kau tadi menyebutkan Adik yang manis. Mengapa sekarang menjadi Nona? kau
benar pandai mengecewakan hati orang!"
Mau tidak mau Sin Liong tersenyum. Bocah ini manja dan lincah,
mengingatkan dia kepada Han Swat Hong. Banyak persamaan antara kedua orang
perempuan itu.
"Baiklah, Adik yang manis. sebenarnya, mau apa kau datang ke sini
kalau bukan untuk mengejek dan memaki aku yang dianggap musuh oleh
kakekmu?"
"Aku datang untuk bercakap-cakap."
"Hemm, waktu dan tempatnya tidak tepat untuk bercakap-cakap. Aku
adalah seorang tahanan dan engkau adalah cucu To-cu di sini, tempat ini di
kamar tahanan yang kotor dan sempit dan sekarang sudah lewat tengah malam.
Harap engkau kembali ke kamarmu dan tidur yang nyenyak. jangan-jangan kau akan
dimarahi Kong-kongmu."
"Aku tidak takut! Aku sengaja datang ke sini untuk bercakap-cakap
denganmu. Siapa berani melarangku?"
Sikapnya menjadi galak, matanya bersinar-sinar dan Sin Liong menarik
napas panjang. Sejak lama dia memperoleh kenyataan betapa ganjilnya watak
wanita. Dia melihat watak-watak yang aneh dan sukar dimengerti yang dilihatnya
pada diri Sia Gin Hwa yang menyeleweng dari suaminya, berjinah dengan Lu Kiat,
pada diri Liu Bwee ibu Swat Hong yang tadinya periang lalu berubah pemurung dan
berhati begitu sabar dan mengalah terhadap suaminya yang menyakitkan hatinya,
pada diri The Kwat Lin yang juga amat berubah setelah menjadi istri raja, pada
diri Swat Hong yang telah nekad membuang diri ke Pualu Neraka, dan kini dia
berhadapan dengan seorang gadis yang juga berwatak aneh sekali.
"Baiklah, jangan marah karena tidak ada yang melarangmu di sini.
Kalau kau ingin bercakap-cakap, nah, bercakaplah dan aku akan
mendengarkan."
Gadis itu melongo. "Bercakap apa?"
Diam-diam Sin Liong merasa geli. Benar-benar seorang gadis yang masih
seperti kanak-kanak dan mungkin semua sikapnya tadi, ketika bergembira dan
ketika marah, tidaklah setulusnya hati maka demikian mudah berubah.
"Bercakap apa saja sesukamu, misalnya siapa namamu, siapa pula
nama Kong-kongmu dan keadaan di pulau ini dan lain-lain."
Wajah itu berseri kembali, gembira setelah ingat bahwa sesungguhnya
banyak sekali bahan untuk dibicarakan.
"Namaku Soan Cu, Ouw Soan Cu...."
"Namamu indah." Sin Liong memuji untuk menyenangkan hatinya.
Dan memang hati Soan Cu senang sekali mendengar pujian ini.
"Benarkah? Benarkah namaku indah?" Dengan penuh gairah dia
lalu menceritakan riwayatnya secara singkat.
Ketua atau Majikan Pulau Neraka itu bernama Ouw Kong Ek bukanlah
seorang buangan dari Pulau Es, melainkan keturunan orang buangan yang semenjak
ratusan tahun menjadi ketua di situ karena memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Kakek dari Ouw Kong Ek, seorang buangan dari Pulau Es yang berilmu tinggi,
adalah seorang pertama yang menjadi "Ketua" di Pulau Neraka, kemudian
menurunkan kedudukan ini kepada anaknya sampai kepada Ouw Kong Ek. Ouw Kong Ek
sendiri mengambil seorang buangan dari Pulau Es, seorang bekas pelayan
permaisuri Raja Pulau Es yang dijatuhi hukuman buang karena fitnah dan
sesungguhnya dia tidak mau melayani seorang pangeran yang tergila-gila
kepadanya, menjadi istrinya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Ouw
Sian Kok. Akan tetapi istrinya meninggal dunia ketika Ouw Sian Kok menikah
dengan seorang gadis Pulau Neraka dan Ketua Pulau Neraka ini tinggal menduda.
Dia mencurahkan pengharapanya kepada putera tunggalnya yang mewarisi semua
ilmunya dan yang diharapkan kelak akan menggantikan kedudukanya kalau dia sudah
mengundurkan diri.
Namun nasib buruk menimpa keluarga Ouw. Ketika istri Ouw Sian Kok
melahirkan seorang anak, yaitu Soan Cu, ibu muda ini meninggal dunia. Ouw Sian
Kok demikian berduka sehingga ingatannya terganggu, menjadi gila dan melarikan
diri dari Pulau Neraka, tak seorangpun tahu kemana perginya orang gila itu.
"Demikianlah riwayatku yang tidak mengembirakan," Soan Cu
mengakhiri ceritanya. Sejak kecil aku tidak pernah melihat wajah ibu dan
ayahku. Ayah sampai sekarang tidak pulang dan tidak ada yang tahu berada di
mana. Aku dipelihara dan dididik oleh Kong-kong yang mengharapkan kelak aku
menggantikan kedudukan ketua di sini. Akan tetapi aku tidak sudi!"
"Mengapa tidak suka, Soan Cu?"
"Siapa sudi mengurusi orang-orang gila itu! Mereka semua gila dan
jahat, karena itu aku suka kepadamu Sin Liong. Engkau lain dari pada mereka,
engkau berani dan baik. Maka aku datang untuk menolongmu. Ketahuilah, sebentar
lagi, kalau kau dikira sudah tidur, engkau akan dibunuh!"
Sin Liong terkejut akan tetapi tetap bersikap tenang. "Benarkah?
Mengapa aku dibunuh? Bukankah Kong-kongmu berjanji akan menunggu sampai Sumoiku
tiba di Pulau Neraka?"
"Uhh, kau percaya kepada Kong-kong! Hmm, dia hanya
membohong."
"Ah, mengapa begitu? Sebagai seorang ketua tidak sepatutnya kalau
dia menipu."
"Membohong dan menipu merupakan pebuatan yang menguntungkan dan
bahkan dianggap baik dan layak di sini! itu adalah tanda dari kecerdikan
seseorang!"
"Pantas kau tadi pun membohongi penjaga." Sin Liong mencela.
"Memang, kalau tidak membohong, mana bisa masuk dengan mudah? Dan
kau tentu akan celaka kalau kau tidak membohong."
"Hmmm..., alasan dicari-cari dan ngawur. Jadi mereka hendak
membunuhku? Mudah saja, apa dikira aku begitu mudah dibunuh?"
"Kau tidak tahu kecerdikan Kong-kong, Sin Liong. Kalau digunakan
kekeras, agaknya kau akan melawan dan sudah melihat kau tadi sudah lihai. Akan
tetapi, mereka akan mengerahkan binatang-binatang berbisa untuk mengeroyokmu
dan membunuhmu di kamar sempit ini! Kalau segala macam ular, kalajengking,
kelabang, lebah dan lain binatang berbisa itu datang memenuhi tempat ini dan
mengeroyokmu, apa yang akan dapat kau lakukan untuk menyelamatkan diri?"
"Hemm, aku akan berusaha membela diri, kalau aku gagal, aku akan
mati dan habis perkara. tidak ada hal yang menggelisahkan hatiku."
"Kau sombong! Kau tidak minta tolong kepadaku?"
"Andaikata aku minta tolong juga, kalau kau tidak mau menolong,
apa artinya? Tanpa kuminta sekalipun, kalau kau mau menolong, bagaimana
caranya? Sudahlah, kau hanya akan menyusahkan dirimu sendiri saja, Soan Cu.
Betapapun juga terima kasih atas kedatanganmu dan kebaikan hatimu. Kau seorang
dara yang cantik dan baik budi, sayang kau berada diantara orang-orang liar
itu. Pergilah, jangan sampai kakekmu melihat engkau berada disini."
Soan Cu mengeluarkan sebuah bungkusan. "Inilah yang akan
menyelamatkanmu. Kau pergunakan obat bubuk ini untuk menggosok semua kulit
tubuhmu yang tampak, dan sebarkan sebagian di sekelilingmu. Tidak akan ada
seekor pun binatang berbisa yang berani datang mendekat, apalagi menggigitmu.
Nah, sebetulnya kedatanganku hanya untuk menyerahkan ini, akan tetapi kita
terlanjur ngobrol panjang lebar. Selamat tinggal, Sin Liong."
Sin Liong menerima bungkusan itu, mengulurkan tangan dari antara ruji
jendela dan memegang lengan dara itu.
"Nanti dulu, Soan Cu."
"Ada apa lagi?" Gadis itu membalikan tubuh dan mereka saling
berpegangan tangan. Hal ini dilakukan oleh Sin Liong karena dia merasa terharu
juga oleh pertolongan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu.
"Soan Cu, tahukah engkau apa yang akan terjadi padamu kalau sampai
Kong-kongmu mengetahui akan perbuatanmu ini?"
"Menolong engkau? Ah, paling-paling dia akan membunuhku!"
"Hemm, begitu ringan kau memandang akibat itu? Soan Cu, mengapa
kau melakukan ini untukku? Mengapa kau menolongku dengan mempertaruhkan
nyawa?"
"Sudah kukatakan tadi. Kau lain dari pada semua orang yang kulihat
di pulau ini. Aku suka padamu dan aku tidak ingin mendengar apalagi melihat
engkau mati. Sudalah, hati-hati menjaga dirimu, Sin Liong!" Gadis itu
meloncat dan berlari keluar.
Sin Liong berdiri temenung sejenak, kemudian kembali ketengah kamar
tahanan dan duduk bersila menenangkan hatinya. Andaikata tidak ada Soan Cu yang
datang memberikan obat penawar dan pengusir binatang berbisa, dia pun tidak kan
gentar dan belum tentu dia akan celaka oleh binatang-binatang itu, sungguhpun
dia sendiri belum mau membayangkan apa yang akan dilakukanya kalau serangan itu
tiba. Apalagi sekarang ada obat bubuk itu. Dia teringat betapa penghuni Pulau
Neraka dapat menjelajahi hutan yang penuh binatang berbisa dengan enaknya karena
tubuh mereka sudah memakai obat penawar. Agaknya inilah obat penawar itu. Dia
membuka bungkusan dan melihat obat bubuk berwarna kuning muda yang tidak akan
kentara kalau dioleskan di kulit tubuhnya. Sin Liong bersila dan mengatur
pernapasan, melakukan siulian (samadhi) lagi.
Pendengarannya menjadi amat terang dan tajam sehingga dia dapat
menangkap suara mendesis dan suara yang dikenalnya sebagai suara lebah yang
datang dari jauh, makin lama makin mendekat itu. Tahulah dia bahwa apa yang
diceritakan oleh Soan Cu memang tidak bohong. Sekali ini agaknya anak itu tidak
membohong! Maka dia lalu membuka bungkusan, menggosok kulit tubuhnya yang tidak
tertutup pakaian dengan obat itu. Mukanya sampai ke leher, tangan dan kakinya,
digosoknya sampai rata. Kemudian sambil membawa bungkusan yang terisi sisa obat
itu, dia menanti.
Tak lama kemudian, suara itu menjadi makin dekat dan tiba-tiba saja
munculah mereka! Diam-diam Sin Liong bergidik juga. Tentu dia akan melompat
kalau saja dia tidak mempunyai obat penolak itu. Dari bawah pintu, puluhan ekor
ular kecil dan kelabang besar, kalajengking yang besarnya sebesar ibu jari,
merayap dengan cepat memasuki kamar, berlomba dengan lebah-lebah putih yang
beterbangan masuk melalui jendela.
Sin Liong cepat menyebarkan bubuk obat ke sekeliling di atas lantai,
dan menaburkan sebagian ke atas, ke arah lebah-lebah yang berterbangan. Dia
tersenyum kagum melihat akibatnya. Semua binatang berbisa itu, dari yang paling
kecil sampai yang paling besar, tiba-tiba serentak membalik saling terjang dan
saling timpa, lari cerai berai meninggalkan kamar. Lebah-lebah putih juga
terbang dengan kacau, menabarak dinding dan banyak yang jatuh mati, yang sempat
terbang keluar jendela saling tabrak seperti mabok, dan sebentar saja suara
binatang-binatang itu sudah menjauh.
Akan tetapi mendadak Sin Liong meloncat berdiri ketika medengar suara
lain yang membuat jantungnya berdebar. Suara seorang wanita memaki-maki,
"Iblis kalian semua! Manusia-manusia gila! Kalau tidak dapat membasmi
kalian, jangan sebut aku Han Swat Hong!"
Sin Liong meloncat ke arah jendela, kedua tangannya bergerak dan
terdengar suara keras ketika ruji-ruji jendela jebol semua. Dia meloncat dan
keluar dari kamarnya, terus berlari keluar melalui lorong. Setibanya di luar,
tampaklah olehnya Swat Hong berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak
pinggang, dua orang anggota Pulau Neraka roboh dan mengaduh-aduh di bawah
sedangkan belasan orang lain mengurung gadis itu. Sin Liong menggeleng-geleng
kepala. Sumoinya memang galak dan pemberani. Bukan main gagahnya. Dikurung oleh
orang-orang Pulau Neraka itu masih enak-enak saja, bahkan tidak mencabut
pedang, padahal semua yang mengurungnya memegang senjata.
0 komentar:
Posting Komentar