advertisement
Bukek Siansu Jilid 07 - Akan tetapi puterinya itu adalah seorang anak
yang amat cerdik, maka tentu saja tidak dapat dibohonginya semudah itu.
"Ibu ada apakah? Harap Ibu beritahu kepadaku, siapa yang
menyusahkan hati Ibu? Akan kuhajar dia!" Swat Hong mengepal kedua tinjunya
yang kecil seolah-olah orang yang menyusahkan hati ibunya sudah berada disitu
dan akan dihantamnya.
Melihat sikap anaknya ini, hati Liu Bwee terharu sekali dan ingin dia
menangis lagi, akan tetapi ditekannya perasaan harunya dan dia tertawa.
"Aih, Hong-ji, kalau ada yang kurang ajar kepada ibumu, apakah Ibumu tidak
dapat menghajarnya sendiri?"
Swat Hong tertawa. "Memang aku tahu bahwa kepandaian Ibu juga
hebat, biarpun tidak sehebat Ayah, akan tetapi tidak puas kalau aku tidak
menghajar dengan kedua tanganku sendiri kepada orang yang menyusahkan hati
Ibu."
"Anakku yang baik...!" Untuk menekan harunya, Liu Bwee
mengangkat tubuh anaknya, dipeluk, diciuminya kemudian dia membentak,
"Terbanglah!" dan melempar tubuh anak itu ke atas.
Swat Hong bersorak gembira. Itulah sebuah diantara permainan mereka.
Dia senang sekali kalau dilempar ke udara oleh ibunya, terutama kalau ayahnya
yang melakukannya karena lemparan ayahnya membuat tubuhnya "terbang"
tinggi sekali. Namun kini lemparan ibunya cukup menggembirakan hatinya karena
biarpun Ibunya tidak sekuat ayahnya, lemparannya cukup membuat tubuhnya
melambung tinggi melewati puncak pohon!
Ketika tubuhnya melayang turun, ibunya sudah siap menyambutnya, akan
tetapi dasar anak nakal, dia menggunakan kesempatan ini untuk berlatih! Dia
cepat membalikkan tubuh sehingga kedua kakinya diatas dan cepat dia menggunakan
kedua tangannya untuk menyerang ibunya, mencengkram ke arah ubun-ubun. Itulah
jurus terakhir yang dilatihnya dari ayahnya yang seharusnya dilakukan dengan
loncatan ke atas dan menyerang ubun-ubun kepala lawan, akan tetapi kini dilakukannya
ketika dia melayang turun!
"Haaiiiit...!!" Untuk memperingatkan ibunya, Swat Hong
menjerit sebelum menyerang.
Tentu saja Liu Bwee tidak perlu diperingatkannya lagi. Semenjak menjadi
isteri Pangeran Han Ti Ong, wanita puteri nelayan yang tentu saja seperti semua
penghuni Pulau Es telah memiliki dasar ilmu silat tinggi, telah digembleng oleh
suaminya dengan ilmu-ilmu simpanan yang tinggi sehingga dia menjadi seorang
yang sakti seperti semua keluarga kerajaan itu. Melihat kegembiraan puterinya,
dia pun cepat mengelak, dari samping dia menyambar kedua lengan anaknya dan
dengan bentakan nyaring kembali tubuh anaknya dilemparkan ke atas!
Tubuh itu melayang tinggi dan tiba-tiba dari atas Swat Hong berteriak
girang, "Heiii, Ibu... itu Ayah datang....!!"
Mendengar ini, Liu Bwee cepat lari kepinggir tebing tinggi dan
memandang ke laut. Wajahnya berseri-seri, jantungnya berdebar karena penuh
rindu kepada suaminya. Benar saja. Tampak sebuah perahu dan dia mudah mengenal
suaminya yang mendayung perahu itu dengan kekuatan dahsyat sehingga perahu
kecil meluncur seperti seekor ikan hiu yang marah. Akan tetapi alis wanita ini
berkerut ketika dia melihat dua orang lain di dalam perahu. Seorang wanita muda
yang cantik! Hatinya terasa tidak enak. Dia tidak akan mengikat suaminya, dan
sebagai seorang isteri pangeran calon raja tentu saja dia maklum bahwa suaminya
berhak mengambil selir-selir sebanyaknya. Akan tetapi entah mengapa, kedatangan
suaminya dengan dua orang itu, terutama seorang wanita cantik, mendatangkan
rasa gelisah yang aneh didalam hatinya.
"Ibuuuu.....tolong dulu aku...........!"
Teriakan Swat Hong ini mengejutkan hatinya. Dia menengok dan melihat
tubuh anaknya meluncur turun. Dia kaget dan baru sadar bahwa ketegangan
mendengar suaminya pulang membuat dia lupa kepada puterinya. Sungguhpun Swat
Hong telah memiliki ginkang yang cukup baik akan tetapi meluncur turun dari
tempat tinggi seperti itu ada bahayanya patah atau setidaknya salah urat. Untuk
meloncat sudah tidak ada waktu lagi, maka cepat dia menyambar sebuah ranting
kayu di dekat kakinya, melontarkan kayu itu dengan tepat melayang di bawah kaki
Swat Hong dan anak ini juga tidak menyia-nyiakan pertolongan ibunya. Dia
menginjak kayu itu dan tenaga luncuran kayu itu dapat menahan dan mengurangi
tenaga luncuran tunuhnya sendiri dari atas sehingga dia dapat meloncat kebawah
dengan aman. Seperti tidak pernah mengalami bahaya apa-apa, anak itu lalu lari
ke arah ibunya dan berteriak girang,
"Ayah datang, Ibu?"
Ibunya hanya mengangguk tanpa menoleh, tetapi memandang ke arah perahu
yang makin mendekat pantai.
"Heii, Ayah bukan datang sendiri! Ada seorang wanita dan anak
laki-laki bersama ayah di dalam perahu!"
Liu Bwe tetap tidak menjawab akan tetapi memandang tajam penuh selidik
ke arah perahu.
"Wah, jangan-jangan itu selir dan putera..ayah!" Swat Hong
yang memang berwatak terbuka itu berkata mengomel. Dia pun sudah tahu akan
kebiasaan para pangeran untuk mengambil selir, maka dia tidak akan merasa heran
pula kalau ayahnya juga mempunyai selir di luar pulau Es, biar pun hatinya
merasa tidak senang dan penuh iri memandang kepada anak laki-laki di dalam
perahu itu.
Mendengar ucapan yang tanpa disengaja oleh Swat Hong merupakan benda
tajam menusuk hatinya itu, Liu Bwee menjawab, "Perempuan itu masih terlalu
muda untuk menjadi ibu anak laki-laki itu, Sungguhpun bukan tidak mungkin dia
adalah selir Ayahmu karena dia memang cantik." Jawaban ini keluar dari
lubuk hati Liu Bwee sehingga keluar melalui mulutnya seperti tidak disadarinya.
Barulah dia kaget ketika kalimat itu telah terucapkan. Cepat dia menoleh ke
arah puterinya dan merasa menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang penuh
cemburu tadi. Segera digandengnya tangan anaknya dan untuk mengapus
kata-katanya dari hati anaknya dia berkata riang, "Ehh, kenapa kita disini
saja? Hayo kita sambut Ayahmu!"
Berlari-larianlah mereka menuruni tebing untuk menyambut kedatangan
Pangeran Han Ti Ong di pantai pasir. Sikap wanita yang penuh kegembiraan ini
menyembunyikan semua perasaanya sehingga Swat Hong sudah lupa lagi akan
kedukaan ibunya tadi.
Sebenarnya, memang amat giranglah hati Liu Bwee melihat kembalinya
suaminya sungguhpun kegembiraanya itu akan lebih besar andai kata suaminya
pulang sendirian saja. Semenjak suaminya pergi beberapa bulan yang lalu dia
mengalami penderitaan batin yang hebat. Memang dia maklum bahwa dirinya tidak
disukai oleh keluarga kerajaan, karena dianggap seorang wanita berdarah rendah.
Kebencian keluarga itu menjadi-jadi ketika mendapat kenyataan betapa Han Ti Ong
tidak mau mengambil selir. Hal ini dianggap oleh mereka bahwa Liu Bwee
menggunakan daya upaya untuk mengikat suaminya!. Apalagi karena Liu Bwee tidak
mempunya anak laki-laki, maka kebencian mereka makin bertambah. Sudah tentu
saja, yang merasa paling benci adalah mereka yang mengharap agar Han Tiong
pangeran calon raja itu memperistrikan puteri mereka!
Pada waktu itu, raja yang sudah tua menderita sakit dan sudah menjadi
dugaan umum bahwa usianya takkan bertahan lama lagi. Agaknya raja itu hanya
menantikan kembalinya puteranya yang menjadi putera mahkota, yaitu pangeran Han
Ti Ong untuk mewariskan singgasana kepada puteranya ini. Akan tetapi, karena
keadaan Han Ti Ong yang lain daripada para pangeran lain, suka merantau,
isterinya orang rendah dan hanya satu, tidak punya selir, tidak punya putera,
maka Liu Bwee maklum bahwa di antara keluarga raja terdapat persekutuan yang
menentang diangkatnya suaminya menjadi calon raja! Hal inilah yang mendukakan
hatinya. Dia menganggap bahwa dirinya menjadi penghalang bagi suaminya dan hal
inilah yang paling merusak hatinya. Maka dapat dibayangkan betapa gembira
hatinya melihat suaminya pulang!
Ketika ibu dan anak ini tiba dipantai, ternyata pasukan kehormatan
telah berbaris dan siap menyambut pulangnya pangeran yang dihormati itu. Tentu
saja Liu Bwee dan Swat Hong mendapat tempat kehormatan paling depan dan ketika
akhirnya perahu itu menempel dipantai dan Han Ti Ong melompat keluar sambil
tersenyum lebar, Swat Hong menjadi orang pertama yang berlari menyambut.
"Ayah....!!"
"Ha-ha, Hong-ji, kau makin cantik saja!" Han Ti Ong menerima
puterinya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu melemparkan tubuh anaknya
keudara. Sambil tertawa-tawa Swat Hong melayang turun dan langsung menyerang
ayahnya dengan jurus Kek-seng-jip-hai (Bintang Terompet Meluncur ke Laut )
seperti yang dilakukanya kepada ibunya tadi.
"Ha-ha-ha, bagus juga!"Ayahnya tertawa, menyambar kedua
lengan yang mencengkram ubun-ubunnya, lalu memondong puterinya, dan mencium
dahinya. Sambil memondong puterinya Han Ti Ong menghampiri istrinya yang sudah
maju menyambutnya, memandang penuh kemesraan dan berkata halus, "Harap kau
baik-baik saja selama aku pergi."
Liu Bwee memandang suaminya, tersenyum akan tetapi di balik senyum itu
tampak oleh Han Ti Ong ada sesuatu yang menggelisahkan hati istrinya, apalagi
ketika mendengar suara istrinya lirih.
"Ayahanda raja sedang menderita sakit parah."
Han Ti Ong mengangguk. Ucapan yang pendek itu sudah mencakup semua isi
hati istrinya. Dia sudah mengenal hati istrinya yang tercinta itu dan tahu dia
bahwa menjelang kematian ayahnya, ada hal-hal yang menggelisahkan istrinya.
Tentu saja tentang warisan tahta kerajaan dan istrinya yang datang dari
keluarga berdarah "rendah" itu tentu saja mengkhawatirkan bahwa
keturunan istrinya itu akan menjadikan persoalan bagi pengangkatan raja! Maka
dia memandang isterinya dengan sinar mata menghibur, kemudian seperti teringat
dia berkata, "Ahh, hampir aku lupa. Aku datang bersama seorang muridku,
namanya Sing Liong akan tetapi di daratan besar sana dia dikenal sebagai
Sin-tong."
"Hai, seorang sin-tong (anak ajaib)? Hemm, ingin aku tahu sampai
di mana keajaibannya!"
"Hong-ji, jangan!" ibunya menegur, akan tetapi anak itu
meloncat ke depan dan pada saat itu, Sin Liong sudah turun dari atas perahu.
Baru saja dia berjalan menghampiri gurunya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan
tahu-tahu seorang gadis cilik dengan gerakan seperti seekor burung garuda
menyambar telah menyerangnya dari depan, sebuah kaki kecil telah menghantam
dadanya.
"Bukk!!"
Tanpa dapat ditanyakan lagi, Sin Liong roboh terjengkang, dadanya
terasa nyeri dan napasnya sesak. Akan tetapi dia bangkit berdiri, mengebutkan
pakaianya yang menjadi kotor, memandang anak perempuan yang lebih muda daripada
dia itu, menggeleng kepala dan berkata tenang,
"Sungguh sayang sekali, seorang anak-anak yang masih bersih dikotori
kebiasaan buruk mempergunakan kekerasan untuk memukul orang tanpa sebab."
"Aihhh..." Swat Hong tertegun, lalu menoleh kepada ayahnya
yang terdengar tertawa keras, "Ayah, dia tidak bisa apa-apa, mengapa
disebut Sin-tong? Serangan biasa saja membuatnya roboh terjengkang!"
"Ha-ha-ha, kau lihat dia roboh, akan tetapi apakah kau tidak lihat
sesuatu yang ajaib? Dia tidak marah malah menyayangkan dirimu, bukankah itu
ajaib?"
"Anak yang luar biasa dia..." terdengar Liu Bwee berkata
lirih dan kini Swan Hong juga memandang Sin Liong. Akan tetapi dia masih merasa
tidak puas dan berkata,
"Dia tidak marah karena takut dan pengecut, Ayah!"
"He, Sin Liong, apakah engkau takut kepada Swat Hong ini?"
Han Ti Ong berteriak kepada Sin Liong.
Anak ini menggeleng kepala. "Suhu mengerti bahwa teecu tidak takut
terhadap apa pun dan siapa pun."
Swat Hong membusungkan dadanya yang masih gepeng itu, menegakkan
kepalanya dan menantang,
"Bocah sombong, kalau kau tidak takut, hayo kau lawan aku!"
Dia sudah siap memasang kuda-kuda.
Sin Liong menggeleng kepalanya. "Adik yang baik, aku tidak akan
menggunakan kepandaian apapun juga untuk melakukan kekerasan terhadap orang
lain, apalagi terhadap seorang anak-anak seperti engkau."
Gadis cilik itu sudah menerjang maju, dipandang oleh Sin Liong dengan
sikap tenang saja, berkedip pun tidak menghadapi serangan anak perempuan itu.
Tiba-tiba tubuh Swat Hong terhuyung ke belakang dan ternyata lengannya sudah
ditangkap oleh ibunya dan ditarik ke belakang.
"Swat Hong, kau terlalu sekali! Seharusnya kau minta maaf kepada
Suhengmu itu!"
Swat Hong menoleh, melihat ayahnya tersenyum, melihat pandang mata
semua orang dari prajurit sampai perwira penuh kagum terhadap Sin Liong.
Barulah dia ingat bahwa dia telah melanggar pelajaran pertama dari ayahnya,
bahkan dari semua penghuni pulau bahwa ilmu silat pulau Es tidak boleh
sembarangan dikeluarkan untuk menyerang orang tanpa alasan! Dan dia telah
menyerang Sin Liong tanpa sebab apa-apa, padahal Sin Lion adalah murid ayahnya
atau suhengnya (kakak seperguruan). Biarpun dia berwatak keras dan tidak
mengenal takut, akan tetapi sifatnya yang gembira dan mudah berubah membuat
Swat Hong dapat mengusir semua rasa penasaran dan sambil tersenyum dan muka
ramah dia menjura ke arah Sin Liong sambil berkata, "Suheng, harap maafkan
aku yang kurang ajar tehadap murid Ayah."
Sin Liong terkejut. Kiranya bocah ini puteri suhunya! Dia pun menjura
dan berkata, "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sumoi. Kepandaianmu memang
hebat, tentu saja aku bukan tandinganmu."
"Hi-hik, wah, dia baik sekali, Ayah!" Swat Hong lalu meloncat
menghampiri Sin Liong, menggandeng tangannya dan diajak lari ke pinggir di mana
dia menghujani Sin Liong dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Siapakah nama lengkapmu, Suheng? Dari mana kau datang? Bagaimana
kau dapat menjadi murid Ayah? Apa saja yang sudah diajarkannya kepadamu?
Mengapa pula kau disebut Sin-tong?"
Payah juga Sin Liong menghadapi hujan pertanyaan dari anak perempuan
yang baru saja menyerangnya seperti seekor burung garuda akan tetapi yang kini
sudah bersikap demikian ramah dan baik terhadapnya ini. Akan tetapi baru saja
dia memperkenalkan namanya, yaitu Kwan Sin Liong dan belum sempat menjawab
pertanyaan yang lain, perhatiannya, juga Swat Hong dan semua orang yang berada
disitu tertarik oleh keributan yang terjadi ketika Kwat Lin turun dari atas
perahu.
Begitu Kwat Lin turun dari perahu, wanita yang masih belum sadar betul
dari gangguan ingatannya karena malapetaka hebat yang menimpa dirinya, menjadi
perhatian semua orang. Wanita ini memang berwajah manis dan gagah, apalagi
ketika turun dari perahu itu rambutnya yang awut-awutan berkibar tertiup angin,
pakaiannya yang terlalu longgar itu membuat dia kelihatan makin aneh dan penuh
rahasia. Kwat Lin turun dengan sikap tenang, akan tetapi matanya bergerak liar
menyapu semua orang yang memandangnya, kemudian mata itu berhenti memandang
kepada Liu Bwee yang telah melangkah menghampirinya.
"Dia ini siapakah?" Liu Bwee bertanya tanpa mengalihkan
pandang matanya dari wajah pucat itu sambil didalam hatinya menduga-duga dan
menanti jawaban yang diharapkan dari suaminya karena pertanyaan itu
sesungguhnya diajukan kepada suaminya.
Akan tetapi sebelum Han Ti Ong menjawab, tiba-tiba Kwat Lin, wanita itu
membentak, "Manusia-manusia busuk! Kubunuh engkau!" Dan dia sudah
meloncat ke depan dan menyerang Liu Bwee dengan pukulan yang dahsyat.
"He, Twanio! jangan begitu...!!" Sin Liong berteriak
mencegah, namun terlambat karena Kwat Lin sudah menyerang dengan cepatnya.
Sedangkan para penghuni Pulau Es, termasuk Swat Hong dan Pangeran Han Ti Ong
sendiri, hanya memandang dengan tenang-tenang saja!
"Wuuuutttt... plak-plak...!"
Tubuh Kwat Lin terpelanting ketika pukulannya tertangkis oleh Liu Bwee
dan wanita ini sudah menampar pundaknya sebagai serangan balasan. Hal ini
membuat Kwat Lin yang memang belum sadar benar itu makin marah. Dengan nekat
dia melompat bangun dan menerjang lagi, Pangeran Han Ti Ong sudah
mendahuluinya, menotok pundaknya sambil berkata, "Tenanglah, Nona,"
Kwat Lin kembali roboh, akan tetapi tubuhnya disambar oleh Han Ti Ong.
Ternyata dia telah ditotok lemas. Dengan lambaian tangan, Pangeran itu
memanggil empat orang wanita pelayan yang kelihatan tangkas-tangkas.
"Dia sedang sakit ingatannya tidak sewajarnya." Ucapan ini
ditujukan kepada istrinya yang memandang marah. mendengar ini, Liu Bwee
mengangguk-angguk dan kemarahannya di wajahnya berubah menjadi iba.
"Bawa dia ke kamar tamu dan rawat dia baik-baik," kata Liu
Bwee kepada empat orang pelayan itu yang segera menggotong tubuh Kwat Lin pergi
dari situ.
Barulah Pangeran Han Ti Ong kini mempedulikan sambutan resmi dari para
pangeran dan pasukan penghormatan. Tadi dia seolah-olah menganggap mereka semua
itu seperti patung belaka. Dengan megah Pangeran itu lalu langsung diantar ke
kamar ayahnya Sang Raja yang sedang sakit dan yang telah lama menanti
kedatangan puteranya ini sedangkan Sin Liong langsung diajak oleh Swat Hong ke
bagian istana di mana dia dan ibunya tinggal, yaitu di bagian kiri istana
besar.
Tepat seperti telah diduga oleh semua penghuni Pulau Es, tiga hari
kemudian setelah pulangnya Pangeran Han Ti Ong, raja tua meninggal dunia
setelah sempat menyaksikan Han Ti Ong dinobatkan menjadi penggantinya, merajai
Pulau Es dalam upacara yang amat sederhana. Dapat dibayangkan betapa tidak puas
dan penasaran rasa hati para pangeran yang membenci Han Ti Ong karena usaha
mereka memanaskan hati mendiang ayah mereka tentang keadaan Han Ti Ong tidak
dipedulikan oleh raja tua itu. Dan untuk memberontak secara terang-terangan,
tentu saja mereka tidak berani karena di dalam pulau itu, pada waktu itu Han Ti
Ong merupakan orang yang paling sakti. Maka, mereka itu hanya diam saja biarpun
tidak pernah lengah barang seharipun untuk mencari peluang dan kesempatan yang
baik untuk menjatuhkan Han Ti Ong, atau lebih tepat lagi, menjatuhkan Lui Bwee
yang mereka anggap sebagai biang keladi dari "penyelewengan" Han Ti
Ong dari kebiasaan keluarga raja di Pulau Es!
Setengah bulan kemudian, berkat perawatan yang baik dari Liu Bwee dan
para pelayan, juga dengan pengobatan tusuk jarum oleh Raja Han Ti Ong sendiri,
ditambah obat-obatan berupa daun-daun yang dicari para anak buah Pulau Es atas
petunjuk Sin Liong, gangguan ingatan yang diderita oleh The Kwat Lin menjadi
sembuh.
Pada suatu pagi, wanita yang bernasib malang ini duduk seorang diri di
dalam taman istana, taman yang bukan berisi bunga bungaan hidup, melainkan
terisi ukir-ukiran bunga dari batu-batu beraneka warna, dihias salju dan patung
patung kayu. Sudah berhari-hari, dia duduk di taman ini dan didiamkan saja
karena menurut Raja Han Ti Ong, wanita malang ini harus dibiarkan pulih kembali
ingatannya dan tidak boleh diganggu. Namun, diam-diam dia sendiri melakukan
pengawasan karena entah bagaimana, makin lama dia menjadi tertarik dan tahu
bahwa dia jatuh hati kepada gadis ini!
Tiba-tiba Kwat Lin melompat bangun karena mendengar gerakan di
belakangnya. Sebagai seorang hali silat kelas tinggi, sedikit suara saja cukup
membuat dia siap waspada . Ketika dia membalik, dia melihat Han Ti Ong yang
berdiri di situ sambil memandangnya dengan senyum ramah.
The Kwat Lin yang kini sudah sembuh sama sekali, memandang penuh
keheranan lalu menegur,
"Siapakah engkau? Dan mengapa engkau bisa berada di tempat aneh
ini?"
Melihat sikap gadis ini dan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu,
legalah hati Raja Han Ti Ong. Sikap dan kata-kata itu sudah cukup membuktikan
bahwa Kwat Lin telah sembuh sama sekali, telah kembali kepada keadaan sebelum
mengalami tekanan batin hebat, maka tentu saja tidak mengenalnya dan tidak
mengerti mengapa dan bagaimana bisa berada di pulau itu.
"Nona, girang hatiku mendapat kenyataan bahwa Nona telah sembuh
dari lupa ingatan yang Nona derita belasan hari ini."
"Lupa ingatan? Sekaranglah aku kehilangan ingatan karena aku tidak
mengenal engkau dan tidak tahu mengapa dan bagaimana aku bisa berada di tempat
ini."
"Memang begitulah. Tadinya Nona lupa ingatan, dan baru sekarang
Nona sadar sehingga Nona lupa lagi apa yang Nona telah alami selama belasan
hari ini. Sungguh aku ikut merasa berduka dan terharu akan nasib Ca-sha
Sin-siap yang amat malang...."
Tba-tiba wajah itu menjadi merah sekali dan kemudian berubah pucat,
"Kau... kau tahu apa yang terjadi kepada kami...?"
Raja Han Ti Ong tersenyum dan memandang wajah yang mengguncangkan
hatinya itu dengan senyum mesra.
"Tentu saja, Nona. Aku dan muridkulah yang mengubur jenazah dua
belas orang suhengmu, dan aku dan muridku pula yang menolongmu membawa kesini
kemudian mengobatimu sehingga sembuh hari ini. Aku adalah Raja Han Ti Ong, raja
pulau ini dan kau berada di Pulau Es."
Mata yang indah ini terbelalak. "Apa...? Di... di Pulau Es... dan
aku telah mendengar nama besar Pangeran Han Ti Ong..."
"Sekarang telah menjadi Raja Han Ti Ong, raja sebuah pulau kecil
tak berarti, Nona, dan aku belum mengetahui namamu karena selama ini kau tidak
menyebut namamu."
Kwat Lin menjatuhkan diri berlutut dan menahan isaknya. "Saya
menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Paduka, dan maafkan kalau
saya tidak mengenal penolong saya. Saya bernama The Kwat Lin, orang termuda
Cap-sha Sin-hiap, dan...kalau paduka menaruh kasihan kepada saya, saya ingin
segera pergi dari sini ... sekarang juga...."
"Nona The, aku adalah seorang yang tidak bisa menyimpan rahasia
hati. ketahuilah, semenjak pertama kali melihatmu dan melihat penderitaanmu,
timbul rasa iba dan sayang di dalam hatiku. Karena itu, kalau kiranya engkau
suka aku akan merasa berbahagia sekali kalau Nona mau tinggal didalam istanaku
ini, sebagai seorang istriku, istri ke dua."
Kwat Lin terkejut sekali. Dia telah berhutang budi kepada raja ini, dan
sekarang raja ini secara demikian terus terang menyatakan cintanya dan ingin
mengambil dia sebagai isteri! Dia menjadi isteri raja? Dia yang telah dinodai
oleh Pat-jiu Kai-ong?
"Tidak! Maaf... saya... saya harus pergi sekarang juga. Hanya satu
tujuan hidup saya, dan Paduka tentu tahu... yaitu untuk membunuh iblis Pat-jiu
Kai-ong."
Han Ti Ong mengangguk-angguk. "Aku mengerti dan aku sudah menduga
bahwa seorang dara perkasa seperti engkau tentu saja tidak akan mau menerima
tawaranku dan tidak mungkin aku mengharapkan seorang dara seperti Nona akan
jatuh cinta begitu saja kepadaku. Akan tetapi aku pun tidak terlalu
mengharapkan yang ajaib. Aku jatuh cinta kepadamu, Nona, dan adanya aku berani
meminangnya secara terang-terangan, karena aku yakin Nona akan menerimanya
berdasarkan cita-cita tunggal Nona itulah. Bagaimana mungkin Nona akan membalas
dendam kepada Pat-jiu Kai-ong, sedangkan Cap-sha Sin-hiap saja tidak mampu
mengalahkannya. Akan tetapi kalau engkau menjadi istriku, hemmm...soal membalas
dendam kepada Pat-jiu Kai-ong sama mudahnya dengan membalikan telapak
tangan."
Ucapan ini berkesan mendalam, membuat Kwat Lin termangu-mangu. Dia
bukan gadis lagi dan tidak mungkin dia menjadi istri orang, dan baginya setelah
berhasil membalas dendam, hanya kematianlah yang akan mengakhiri noda yang
dideritanya. Akan tetapi, menjadi istri kedua Raja Han Ti Ong yang sakti, lain
lagi halnya, apa pula kalau orang sakti itu sendiri sudah tahu akan keadaannya.
"Apakah... apakah Paduka akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada
saya?" tanyanya dan kini dia mengangkat muka, memandang raja itu,
diam-diam harus mengakui bahwa laki-laki ini gagah dan tampan, sungguhpun
usianya tentu tidak kurang dari empat puluh tahun.
"Terserah kepadamu. kalau engkau suka memenuhi hasrat hatiku yang
ingin memperistrimu. Kalau kau menghendaki, dalam waktu pendek saja aku dapat
menangkap musuhmu itu dan menyeretnya kedepan kakimu. Atau, engkau boleh
mempelajari ilmu dan aku berani tanggung bahwa selama setahun saja engkau akan
mengalahkan musuhmu itu."
"Be...benarkah itu?"
"Nona The Kwat Lin. Han Ti Ong bukan orang biasa membohong, pula
aku tidak ingin mendapatkan dirimu dengan jalan membohong. Aku telah bicara
terus terang dan andaikata engkau menolak sekalipun, aku tidak akan memaksamu.
Sekarang juga, kalau engkau menolak, akan kusediakan perahu untukmu. Nah,
engkau yang memutuskan."
Tentu saja timbul keraguan hebat didalam hati Kwat Lin. Dia mengerti
betapa lihainya Pat-jiu Kai-ong. Tentu saja dapat pergi ke Bu-tong-pai dan
melaporkan malapetaka yang menimpa Cap-sha Sin-hiap itu kepada gurunya, ketua
Bu-tong-pai, Kui Bhok Sianjin. Akan tetapi, gurunya sudah tua sekali, dan belum
tentu gurunya mau mencampuri urusan dunia, biarpun murid-muridnya terbunuh.
Mengandalkan para saudara seperguruan, agaknya akan sukar mengalahkan Pat-jiu
Kai-ong, dan terutama sekali yang memperberat hatinya, kalau dia pergi ke
Bu-tong-pai, tentu semua orang akan tahu tentang malapetaka yang menimpa
dirinya, bahwa dia telah diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong, ke mana dia akan
menaruh mukanya kalau semua orang mengetahuinya akan hal itu? Sebaliknya, kalau
dia berada di Pulau Es, selain tak seorang pun akan tahu tentang hal yang
memalukan itu, juga dia akan mempunyai kesempatan besar untuk melakukan balas
dendam itu! Akan tetapi, benarkah pria di depannya ini akan mampu mengajarnya
sehingga dalam waktu setahun dia akan lebih pandai dari Pat-jiu Kai-ong? Dia
tidak akan puas kalau tidak dapat membunuh jembel iblis itu dengan tangannya
sediri. Biarpun dia sudah banyak mendengar nama besar Pangeran dari Pulau Es
yang kini menjadi raja itu, namun bagaimana dia dapat membuktikan kesaktiannya?
Apakah orang ini lebih lihai dari gurunya dan terutama sekali, lebih lihai dari
Pat-jiu Kai-ong?
Perlahan-lahan Kwat Lin bangkit berdiri dan sejenak memandang kepada
Han Ti Ong yang juga sedang memandangnya. Keduanya berpandangan dan akhirnya
Kwat Lin berkata, "Saya ingin sekali dapat membalas dendam dengan tangan
saya sendiri. Akan tetapi, bagaimanakah saya dapat yakin bahwa dalam setahun
saya dapat belajar di sini dan menangkan iblis itu?"
Han Ti Ong tersenyum dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik
jubahnya. "Inilah pedang yang kutemukan ketika aku dan muridku
menolongmu."
Kwat Lin menerima pedang itu dan air matanya turun bertitik akan tetapi
segera dihapusnya. Itulah Ang-bwe-kiam pedang dari twa-suhengnya!
"Engkau meragu, baiklah. Kau pergunakan pedangmu dan kau serang
aku untuk menguji apakah aku dapat melatihmu selama setahun sehingga kau lebih
lihai daripada Pat-jiu Kai-ong."
Kwat Lin menimang-nimang pedang Ang-bwe-kiam di tangannya. Pat-jiu
Kai-ong telah dikeroyok oleh dia dan dua belas orang suhengnya. Mereka telah
mainkan Ngo-heng-kiam, bahkan telah membentuk barisan Sin-kiam-tin ketika
mengeroyok kakek iblis itu namun akhirnya mereka semua kalah, sungguhpun
sejenak kakek itu terdesak. kini, kalau hanya dia seorang diri menyerang raja
ini, mana bisa dipakai ukuran apakah dia lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?
"Nona, jangan ragu-ragu. Percayalah, kalau engkau benar rajin
belajar, dalam waktu setahun engkau pasti akan dapat mengalahkan dia.
Hiat-ciang Hoat-sut dan Pat-mo-tung-hoat dari kakek itu sebetulnya kosong
saja," kata raja itu, seolah-olah dapat menbaca isi hati Kwat-lin. Dara
itu terkejut, kemudian mengambil keputusan untuk menguji orang ini sebelum dia
menyerahkan dirinya yang sudah ternoda itu menjadi istrinya sebagai penebus
latihan ilmu untuk membalas dendam.
"Baiklah, saya akan menguji kepandaian Paduka, harap Paduka
bersiap dan mengeluarkan senjata."
"Ha-ha-ha, Pat-jiu Kai-ong membutuhkan tongkatnya dan pukulan
beracunnya untuk mengalahkan Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi aku cukup
menggunakan ini." Dia meraih kebawah dan tangannya sudah membentuk batu
karang sedemikian rupa sehingga batu karang itu berbentuk panjang seperti
pedang!
"Harap Paduka siap!" Kwan Lin berseru dan tiba-tiba pedangnya
menyambar dengan cepat, melakukan tusukan ke arah leher sedang tangan kirinya
sudah memukul ke arah dada. Serangan berganda dengan pedang dan pukulan tangan
kiri ini merupakan jurus ampuh dari Ngo-heng-kiam-sut.
Tiba-tiba tubuh raja itu bergerak, serangan Kwat Lin telah dapat
dielakan dan pada detik berikutnya, leher dara itu tersentuh ujung batu karang
dan dadanya juga tersentuh kepalan tangan kiri Han Ti Ong. Kwat Lin menjerit
lirih karena maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan tadi dilanjutkan oleh
Han Ti Ong tentu dia telah roboh dan tewas seketika. Akan tetapi yang lebih
mengejutkan hatinya adalah gerakan raja itu.
"Paduka... Paduka mengunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air Tumpah
Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngo-heng-kiam-sut Bu-tong-pai!"
0 komentar:
Posting Komentar