advertisement
Bukek Siansu Jilid 18 - Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu
meninggalkan kamar lagi.Sebelum orang yang membunuh ayam jagonya dan yang
mengirim surat ancaman itu dapat ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak
bernafsu untuk bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu. Dia
percaya penuh bahwa menghadapi seorang pengacau saja, para pengawalnya akan
dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhati-hati dan ikut melakukan
penjagaan sendiri. Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh
bersenag-senang. Dia belum yakin benar apakah musuh gelap itu ada hubungannya
dengan Lu-san Lojin dan kedua orang anaknya, akan tetapi ada hubungan atau
tidak, setelah tiga orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya.
Dia harus berhati-hati, maklum bahwa dia mempunayi banyak musuh. Siapa tahu
kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga memusuhi. Andaikata
tidak sekalipun, mana bisa dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan
tampan itu?
"Aku tidak takut!" serunya kuat-kuat. "Datanglah kamu,
hai Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!"
Para pelayan sudah menyalakan lampu-lampu penerangan dan atas perintah
para pengawal, pelayan-pelayan ini menambah jumlah lampu sehingga keadaan di
seluruh gedung itu menjadi terang. Setelah menyuruh para pelayan membersihkan
meja di ruangan itu, dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan menekankan
agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan perondaan bergilir, Pat-jiu
Kai-ong lalu duduk bersila di dalam ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan
mempertajam pendengarannya sehingga biarpun dia berada di dalam istana, namun
dia ikut pula menjaga dan meronda mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk
menangkap semua suara yang tidak wajar di luar istana.
Malam makin larut dan keadaan sunyi sekali di istana itu dan
sekitarnya. Para pelayan yang mendengar dari para pengawal, dengan muka pucat
tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka
suara dan hanya saling pandang dengan mata penuh rasa takut. Para selir juga
berkelompok di dalam kamar Pat-jiu Kai-ong, agar terhibur dengan adanya Swi
Liang pemuda yang tampan itu. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa-malu-malu
membelai pemuda itu, memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan
rambutnya. Akan tetapi mereka tidak berani berbuat lebih dari itu, dan tidak
berani mengeluarkan suara. Juga para pengawal agaknya melakukan penjagaan
dengan teliti dan hati-hati, tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka
melakukan penjagaan tentu diisi dengan sendau gurau dan mengobrol.
Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati Pat-jiu Kai-ong.
Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian ini agar penjagaan dilakukan lebih
tertib dan rapi pula. dia merasa tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap
itu. Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya seberat mungkin!
Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang datangnya dari
dalam kamarnya! Pat-jiu Kai-ong cepat melompat dan hanya dengan beberapa kali
lompatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya kelima
orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan ketakutan, akan tetapi dua
orang muda yang tadi terbelenggu di atas pembaringannya, seperti dua tusuk
daging panggang yang dihidangkan di atas meja makan dan siap untuk
diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas!
"Apa yang terjadi? Keparat, diam semua! Jangan menangis, apa yang
terjadi?"
Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara
mereka bercerita dengan suara gagap, "Ada... ada... setan...., hanya
tampak bayangan berkelebat ke atas ranjang dan... dan mereka berdua...
tahu-tahu telah lenyap..."
"Tolol!!" Pat-jiu Kai-ong berkelebat keluar melalui jendela
kamar yang terbuka, terus berloncatan memeriksa sampai dia bertemu dengan para
pengawal di luar istana, namun dia tidak melihat jejak dua orang tawanan yang
lenyap itu. "Kalian tidak melihat orang masuk?" Bentaknya kepada para
pengawal.
"Tidak ada, Pangcu."
"Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu
lenyap?"
Kagetlah para pengawal itu dan Pat-jiu Kai-ong, dibantu oleh para
pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan di dalam istana. Mula-mula timbul
dugaannya bahwa tentu Lu-san Lojin dan dua orang anaknya itu benar-benar
mempunyai kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong mereka.
Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam kamar tahanan, Lu-san Lojin masih
menggeletak pingsan di atas lantai!
"Cepat lakukan penjagaan tadi. Tutup semua jalan masuk! Bagi-bagi
tenaga!" Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara yang agak parau karena
harus diakuinya bahwa jantungnya tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan
sepak terjang musuh gelap yang aneh dan amat luar biasa itu.
Setelah sekali lagi memeriksa sendiri dengan memepersiapkan tongkat
ditangan, sampai tidak ada lubang yang tidak dijenguknya di dalam dan di
sekitar gedungnya dan mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada orang bersembunyi
di dalam gedung, Pat-jiu Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti
dengan jantung berdebar. Malam telah makin larut dan musuh yang aneh itu telah
mulai memperlihatkan bahwa musuh itu memang ada dengan menculik dua orang
tawannan itu secara aneh. Biarpun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat
tinggi, namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang menculik pemuda-pemudi
itu di depan hidung mereka, sungguh merupakan hal yang amat aneh!
Pat-jiu Kai-ong bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam
otaknya. Siapakah Ratu Pulau Es? Apalagi dengan ratunya, dengan penghuni Pulau
Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu kali dengan Han Ti Ong ketika
memperebutkan Sin-tong. Dan di mana adanya pulau dongeng itu dia pun tidak
tahu. Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap permusuhan, dan
adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit hati itu seharusnya datang dari
dia, bukan dari pihak Pulau Es atau Han Ti Ong yang telah berhasil menangkan
perebutan atas diri Sin-tong! Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang mengaku
bernama Ratu Pulau Es? Siapakah yang bermain-main dengan dia? Melihat sepak
terjang orang rahasia ini, caranya membunuh ayam, dapat dipastikan bahwa orang
itu kejam dan aneh, ciri seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih
yang selalu datang secara berterang. Siapakah tokoh golongan hitam yang
memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang paling menonjol
adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si! Wanita itukah yang kini datang mengganggunya?
"Ha-ha-ha!" Dia tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar.
Mengapa dia takut? Andaikata Kia-mo Cai-li sendiri yang datang, diapun tidak
takut! Dan siapakah lain wanita di dunia Kang-ouw yang lebih mengerikan
daripada Kiam-mo Cai-li?
"Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari tempat
persembunyian! Hayo serbulah, aku Pat-jiu Kai-ong tidak takut kepada siapa pun
juga! Kalau kau diam saja, berarti kau pengecut hina dan penakut,
ha-ha-ha-ha!"
Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang mengerikan itu, Pat-jiu
Kai-ong berusaha mengusir rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu
saja didengar oleh semua penghuni gedung itu. Dan agaknya, sebagai sambutan
atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam jagonya yang berada di
belakang, di kandang ayam, berkeruyuk keras sekali!
"Ha-ha-ha!" Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya sendiri
yang menjawab, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan mukanya berubah. Keruyuk
ayamnya itu berhenti setengah jalan dan terputus oleh suara "kok!"
suara ayam kesakitan! Suara ini disusul suara berkotek riuh dari ayam-ayam
betina di dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu mereka akan
tetapi suara berkotek ini pun berhenti setengah jalan dan bekali-kali terdengar
suara "ko" suara ayam dicekik atau dihentikan suara dan hidupnya!
"Keparat...!!" Pat-jiu Kai-ong yang bermuka merah saking
marahnya itu sudah meloncat keluar dan langsung lari ke kandang. Hampir dia
bertubrukan dengan dua orang pengawal yang juga mendengar keanehan di kandang
itu. Kini dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, mereka bertiga
memeriksa kandang dan di bawah sinar obor tampaklah oleh mereka bahwa dua puluh
ayam yang berada di kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan leher
putus! Darah merah muncrat ke mana-mana, membuat lantai dan dinding kandang itu
menjadi merah mengerikan.
"Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki dan mereka bertiga
sejenak menjadi seperti arca memandang ke dalam kandang. Sunyi di situ, bahkan
tidak ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi menyeramkan.
"Ngeooonggg...!" Suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini
yang membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke atas genting.
Si Putih satu-satunya kucing peliharan di gedung itu, berkelebat
melompat sambil menggereng, seolah-olah menghadapi musuh dan marah. Akan tetapi
gerengannya terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat melompat ke kiri
ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya.
"Bukkk!" Ketika pengawal yang membawa obor mendekat, ternyata
yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang baru saja mengeong tadi!
"Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki untuk kedua kalinya dan
tubuhnya sudah melayang ke atas genting, diikuti oleh dua orang pengawalnya.
Melihat betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika dia meloncat
ke atas genting membuktikan bahwa pengawal itu sudah memiliki ginkang yang
hebat. Akan tetapi kembali ketiganya termangu-mangu di atas genting karena
tidak tampak bayangan seorang manusian pun. Keadaan sunyi. Sunyi sekali,
terlampau sunyi seolah-olah gedung itu telah berubah menjadi tanah kuburan!
"Hung-hung! Huk-huk-huk...!!" Riuhlah suara tiga ekor anjng
peliharaan gedung itu menggonggong dan menyalak-nyalak di sebelah kanan gedung.
Suara ini mengejutkan mereka, apalagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah
itu tiba-tiba ditutup dengan suara "kaing...! nguik... nguikkk...
nguikkkkk!" Dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi dari tadi
sebelum terdengar gonggongan anjing-anjing itu.
"Bedebah...!" Pat-jiu Kai-ong melompat dari atas genting,
tidak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu saking cepatnya dan sebentar
saja dia sudah tiba di sebelah kanan gedungnya, di kandang anjing. Seperti
sudah dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati dengan
leher hampir putus dan darah mengalir di bawah bangkai mereka. Tiga orang
pengawal yang terdekat sudah tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka
berubah pucat!
Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong suara Lu-san Lojin ketika
membacakan isi surat, "Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah
Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!"
Semua binatang peliharaannya , ayam, kucing, dan anjing, sudah mati
semua dan sekarang tentu tiba giliran manusianya! Teringat akan ini, Pat-jiu
Kai-ong cepat berkata, suaranya sudah mulai gemetar
"Cepat, semua berkumpul denganku di dalam gedung...!"
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah luar dan di
depan gedung itu. Mereka cepat berlari menuju ke depan gedung dan tampaklah
oleh mereka dua orang pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak
bergerak di atas tanah. Ketika seorang pengawal yang membawa obor mendekat,
Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua orang pengawalnya yang terlentang itu telah
tewas dengan mata melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut keluar
darah hitam sedangkan di dahi mereka itu tampak jelas cap jari tangan yang
kecil panjang, tiga buah banyaknya dan mudah dilihat bahwa itu adalah tanda
jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Begitu dalam gambar jari itu sampai
garis-garisnya tampak!
"Kurang ajar! Mari kita berkumpul semua...!"
Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri
gedung. Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu dan melihat tiga orang
pengawal lain sudah menjadi mayat dalam keadaan yang sama seperti dua orang
korban pertama.
Segera tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari belakang gedung.
Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si
brewok, mengejar ke belakang dan empat orang pengawal sudah menggeletak tewas
dalam keadaan mengerikan, persis seperti yang lain. Dalam sekejap mata saja
sembilan orang pengawal telah tewas. Mereka itu berada di depan, di sebelah
kiri, di belakang gedung, akan tetapi kematian mereka susul menyusul begitu
cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari berbagai jurusan. Namun,
biarpun mulutnya tidak menyataakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa tanda
dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang sama dan bahwa pembunuhnya
itu hanya satu orang saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa
sehingga para pengawal itu agaknya sama sekali tidak mampu melakukan
perlawanan.
Tiga orang pengawal saling pandang dengan muka pucat. Melihat muka
mereka, Pat-jiu Kai-ong menjadi penasaran dan merah sehingga timbul kembali
keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jerih. Dia berteriak memaki,
"jahanam pengecut! Hayo keluarlah dan lawan aku Pat-jiu Kai ong!"
Setelah dia mengeluarkan kata-kata ini dengan suara nyaring, keadaan
menjadi sunyi sekali, sunyi yang amat menggelisahkan dan menyeramkan, seolah-olah
dalam kegelapan dan kesunyian malam itu tampak mulut iblis menyeringai dan
menanti saat untuk menerkam dan mencabut nyawa !
Pat-jiu Kai-ong makin penasaran. Dia sendiri adalah seorang manusia
yang dikenal sebagai iblis, jarang menemui tandingan dan ditakuti banyak orang
dari semua golongan. Akan tetapi malam ini dia Raja Pengemis yang menjadi ketua
Pat-jiu Kai-pang yang terkenal memiliki anggauta ratusan orang banyaknya,
seorang di atara datuk kaum sesat atau golongan hitam yang ditakuti orang, dia
dipermainkan orang! Dan orang itu, kalau melihat namanya sebagai ratu tentulah
seorang wanita! Apalagi dia melihat bahwa bekas jari tangan di dahi para korban
itu pun jari tangan wanita yang kecil meruncing!
"Hem, pengecut benar dia," katanya kepada tiga orang
pengawalnya yang diam-diam telah kehilangan separuh dari nyali mereka.
"Kita harus menggunakan pancingan. Biar aku mengintai dari atas, kalian
berjalan-jalan di sini. kalau dia muncul menyerang, aku tentu dapat melihatnya
dan aku akan meloncat turun. Bersiaplah kalian!" Setelah berkata demikian,
dengan gerakan ringan seperti seekor kelelawar, Pat-jiu Kai-ong melompat ke
atas genteng dan mendekam di wuwungan sambil mengintai.
Dia melihat tiga orang pengawalnya itu masing-masing telah mencabut senjata
mereka. Si Brewok menggunakan sebatang tombak panjang yang ujungnya berkait,
orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang ketiga sebatang pedang. Mereka
berdiri saling membelakangi dan mata mereka memandang tajam ke depan, telinga
mereka memperhatikan setiap suara. Akan tetapi sunyi saja sekeliling tempat
itu.
Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong melihat sesosok bayangan melayang turun dari
atas pohon! Celaka pikirnya. Kiranya si laknat itu bersembunyi di dalam pohon
yang tumbuh di depan gedung. Bayangan itu sukar di lihat bentuknya karena cepat
sekali gerakannya, tahu-tahu telah berada di depan Si Brewok. Tiga orang
pengawal itu menggerakan senjata, akan tetapi anehnya, tampak oleh Pat-jiu
Kai-ong betapa tiga buah senjata mereka itu telah berpindah tangan! entah
bagaimana caranya karena dari atas genteng itu dia tidak dapat melihat jelas.
Yang dia ketahuinya hanyalah betapa tiga orang pengawalnya itu kini lari
ketakutan!
"Hik-hik-hik!" Suara ketawa ini membuat bulu tengkuk Pat-jiu
Kai-ong berdiri dan dia melihat sinar-sinar menyambar ke arah tiga orang
pengawal yang lari, melihat mereka roboh dan memekik, terjungkal tak bergerak
lagi karena punggung mereka ditembus oleh senjata mereka masing-masing!
"Keparat jangan lari kau!" Pat-jiu Kai-ong sudah melayang
turun dan tongkatnya sudah diputar-putar. Akat tetapi bayangan itu melesat dan
lenyap dari tempat itu!
Pat-jiu Kai-ong menoleh ke kanan kiri, akan tetapi tidak tampak gerakan
sesuatu. Dia makin penasaran. Dihampirinya tiga orang pengawalnya. Mereka telah
tewas dan hanya mereka bertiga yang tidak dicap dahinya dengan tiga buah jari
tangan hitam akan tetapi kematian mereka cukup mengerikan. Tombak golok dan
pedang itu menembus punggung pemilik masing-masing sampai ujungnya keluar dari
hulu hati! Dan sambitan tiga buah senjata yang berlainan bentuknya itu
dilakukan secara berbareng dari jarak yang cukup jauh, tepat mengenai tiga
sasarannya yang sedang berlari. Hal ini saja membuktikan pula betapa hebatnya
kepandaian orang aneh itu
Mendadak Pat-jiu Kai-ong tersentak kaget. Di dalam gedung! Betapa
tololnya dia! Semua pengawalnya yang berjumlah dua belas orang telah tewas
semua. Tentu sekarang musuh itu masuk ke dalam gedung untuk membunuh
orang-orang di dalam gedung. Secepat kilat dia meloncat dan lari memasuki
gedung. Benar saja, terdengar pekik susul-menyusul dan begitu melewati pintu
depan, dia sudah melihat para pelayannya telah menjadi mayat dan berserakan di
sana-sini. Cepat dia lari ke dalam kamarnya dan dengan mata terbelalak dia
melihat lima orang selirnya telah mati semua, dahi mereka juga ada bekas tanda
tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam!
Sunyi sekali di dalam gedung itu, kesunyian yang penuh rahasia
Lu-san Lo-jin! Pat-jiu Kai-ong teringat dan dia cepat lari ke dalam
tempat tahanan, hanya untuk melihat bahwa kakek ini pun telah tewas dan di
dahinya terdapat pula tanda telapak tiga jari tangan! Kini dia benar-benar
bingung. Jelas bahwa musuh ini bukanlah kawan Lu-san Lojin seperti yang
disangkanya semula! Makin bingunglah dia dan dia lari pula ke dalam ruangan
besar di mana dia tadi makan minum dengan Lu-san Lojin dan dua anaknya, di mana
dia tadi menanti datangnya musuh rahasia. Dan begitu memasuki ruangan itu, dia
tertegun! Ruangan itu kini terang sekali, agaknya ada yang menambah lampu
penerangan. Ketika dia melihat, benar saja bahwa di situ terdapat banyak lampu,
banyak sekali karena agaknya semua lampu penerangan dibawa dan dikumpulkan di
ruangan itu. Dan di atas kursinya yang tadinya ditinggalkan kosong, kini tampak
duduk seorang wanita!
Di depan wanita itu, juga duduk di atas kursi, tampak seorang anak
laki-laki berusia sepuluh tahun yang memandangnya dengan mata penuh selidik.
Wanita itu cantik, pakaiannya mewah dan indah, anak itu pun tampan dan bersih
serta mewah pakaiannya. Wanita itukah yang membunuh semua orang di gedungnya?
Tak mungkin agaknya. Wanita itu usianya paling banyak tiga puluh lima tahun,
cantik dan kelihatan halus gerak-geriknya, hanya sepasang matanya mengeluarkan
sinar yang aneh dan dingin sekali.
"Ibu, dia inikah orangnya?" Tiba-tiba anak kecil itu
bertanya, suaranya nyaring, memecahkan kesunyian yang sejak tadi mencekam.
"Benar, dialah Si Bedebah Pat-jiu Kai-ong." Wanita itu
berkata, suaranya halus akan tetapi dingin menyeramkan.
"Kalau begitu, mengapa ibu tidak lekas membunuhnya?"
Wanita itu tersenyum dan wajah yang cantik itu makin cantik, akan
tetapi juga makin dingin menyeramkan, kemudian bangkit berdiri berlahan-lahan.
"Kau lihat sajalah ibumu menundukan Si jembel busuk ini."
Wanita itu ternyata bertubuh tinggi ramping dan ketika melangkah maju,
tampak gerakan kedua kakinya lemah lembut. Pat-jiu Kai-ong sudah dapat
menguasai hatinya dan timbul keberaniannya setelah melihat bahwa orang itu
hanyalah seorang manusia biasa, wanita yang kelihatan lemah pula, bukan seorang
iblis yang menyeramkan sama sekali.
"Siapakah engkau? Siapa pembunuh orang-orangku dan apa hubunganmu
dengan Ratu Pulau Es yang mengancamku?"
Wanita itu kini tiba di depan Pat-jiu Kai-ong sehingga raja pengemis
ini dapat mencium bau harum semerbak yang keluar dari rambut dan pakaian wanita
itu.
"Akulah Ratu Pulau Es, aku pula yang telah membunuh semua mahluk
hidup di dalam gedungmu, semua telah kubunuh kecuali engkau, Pat-jiu Kai-ong.
Aku harus membunuhmu perlahan-lahan, menyiksamu sampai puas hatiku."
Mendengar ancaman ini, Raja Pengemis yang biasanya berhati kejam dan
keras itu, menjadi berdebar juga. Akan tetapi kemarahannya melenyapkan semua
rasa jerih dan dia membentak, "Perempuan sombong! Siapakah engkau dan
mengapa engkau memusuhi Pat-jiu Kai-ong?"
“Pat-jiu Kai-ong, agaknya kejahatanmu sudah begitu bertumpuk-tumpuk
sehingga engkau tidak dapat mengenal korban-korbanmu lagi. Pandanglah aku
baik-baik dan kumpulkan ingatanmu! Lupakah kau apa yang terjadi di kaki
pegunungan Jeng-hoa-san sepuluh tahun yang lalu?"
Pat-jiu Kai-ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng-hoa-san
sebelum dia naik ke puncak gunung itu untuk mencari Sin-tong. Kini dia dapat
mengenal wajah ini, wajah cantik yang pernah merintih-rintih dan memohon
pembebasan, namun yang dia permainkan secara kejam.
"Kau... kau... Cap-she Sin-hiap...?" Tanyanya ragu-ragu.
"Benar. Aku adalah anggauta paling muda dari Cap-sha Sin-hiap. Dua
belas orang suhengku telah kau bunuh. Ingatkah sekarang kau?"
Pat-jiu Kai-ong tertawa. Hatinya lega. Kalau hanya wanita muda itu,
yang telah diperkosanya dan yang hanya menjadi orang ke tiga belas dari Cap-sha
Sin-hiap, perlu apa dia takut? Biar perempuan ini agaknya telah memperdalam
ilmunya selama sepuluh tahun ini, akan tetapi perlu apa dia takut?
"Ha-ha-ha, kiranya engkaukah ini, manis? Tentu saja aku masih
ingat kepadamu, siapa bisa melupakan kenang-kenangan manis selama tiga hari
itu? Ha-ha-ha, betapa mesranya!"
“Jahanam! Kematian sudah di depan mata dan kau masih berlagak? Pat-jiu
Kai-ong, aku telah datang dan rasakanlah pembalasanku, aku akan membuat kau
menyesal mengapa kau pernah dilahirkan ibumu!"
"Perempuan sombong, mampuslah!" Pat-jiu Kai-ong sudah
menerjang dengan tongkatnya melakukan penyerangan dengan dahsyat, menusukkan
tongkatnya yang tentu akan menembus dada wanita itu kalau tidak cepat wanita
itu mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis.
"Trakk!" Tongkat itu menyeleweng dan terkejutlah Pat-jiu
Kai-ong. Ternyata lawannya ini benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat dan
telah memiliki sinkang yang tak boleh dipandang ringan.
Tentu saja! Wanita itu bukan lain adalah The Kwat Lin yang selama
sepuluh tahun ini menjadi istri atau permaisuri Raja Pulau Es, Han Ti Ong yang
sakti! Wanita ini selama sepuluh tahun telah menggembleng diri di bawah
petunjuk suaminya yang amat mencintainya. Bahkan suaminya telah menurunkan
ilmu-ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dan ilmu
mujijat Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis ini atas permintaan The Kwat
Lin. Karena itu, biarpun ada sebatang pedang menempel di punggungnya, The Kwat
Lin tidak menggunakan senjata melainkan ujung lengan bajunya untuk menghadapi
tongkat dan memang kedua ujung lengan baju ini yang merupakan sepasang senjata
yang dilatihnya khusus untuk mengatasi tongkat Raja Pengemis itu.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, The Kwat Lin menggunakan
kesempatan selagi Han Ti Ong pergi menyerbu Pulau Neraka, untuk meninggalkan
Pulau Es. Hal ini sudah bertahun-tahun dia cita-citakan. Dia menjadi istri Han
Ti Ong hanya karena ingin mewarisi ilmu kepandaiannya, akan tetapi setelah
menjadi permaisuri, dia pun ingin memiliki pusaka Pulau Es dan benda-benda berharga
lainya. Maka dia menanti kesempatan baik untuk meninggalkan pulau, tentu saja
meninggalkan untuk selamanya karena pada hakekatnya dia tidak suka tinggal di
pulau itu. Siapa suka tinggal di Pulau Es yang membosankan itu, jauh dari dunia
ramai? Pergilah dia mengajak puteranya, Han Bu Hong, meninggalkan Pulau Es
sewaktu suaminya tidak ada, membawa pusaka Pulau Es. Dengan alasan akan
menyusul suaminya yang menyerbu Pulau Neraka, tidak ada seorang pun berani
menghalangi kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang sudah tinggi,
dia berhasil mendarat.
Berbulan-bulan dia menyelidiki dan akhirnya dia dapat menemukan tempat
tinggal musuh besarnya di lereng Heng-san. Dia mengajak puteranya dan setelah
menyembunyikan puteranya, dia menyelidiki istana Raja Pengemis itu. Melihat Swi
Liang dan Swi Nio, dia tertarik sekali, maka dia menculik mereka dan membawa
mereka ke dalam hutan di mana Bu Hong menanti ibunya.
"Kalian kuselamatkan dengan maksud untuk mengangkat kalian berdua
menjadi muridku ," dia berkata tanpa banyak cerita lagi. "Tinggal
kalian pilih, mati atau hidup. Kalau ingin mati, kalian semestinya mati karena
kalian berada di gedung Pat-jiu Kai-ong. karena sekarang belum malam, maka
kalian belum mestinya dibunuh dan karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana.
Kalau kalian ingin hidup harus suka menjadi muridku. Bagaimana?"
Tentu saja dua orang muda itu ingin hidup dan segera berlutut di depan
calon Subo (ibu guru) mereka.
"Harap subo sudi menolong Ayah kami...." kata Swi Liang.
"Kalian tinggal saja di sini menemani sute kalian ini. Tentang
Ayahmu, kita lihat saja nanti."
The Kwat Lin meninggalkan dua orang murid itu bersama puteranya,
kemudian mulailah dia turun tangan membunuh-bunuhi semua binatang peliharaan
gedung raja Pengemis itu lalu membunuhi semua pengawal, pelayan, selir dan juga
Lusan Lojin dibunuhnya karena dia sudah berjanji akan membunuh semua orang di
dalam gedung itu, apalagi dia tahu bahwa kalau tidak dibunuh, kakek itu tentu
akan menjadi penghalang baginya mengambil murid Swi Liang dan Swi Nio yang
menarik hatinya. Akhirnya dia keluar dari gedung, menyuruh kedua orang muridnya
menanti di hutan. Akhirnya bersama puteranya, dia dapat berhadapan dengan musuh
besarnya itu setelah membunuh semua orang di dalam gedung.
Han Bu Ong anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun itu, duduk di
kursi dan menonton pertandingan dengan mata terbelalak dan jarang berkedip. Dia
sama sekali tidak merasa takut atau khawatir. Dia percaya penuh kepada
kelihaian ibunya dan memang sejak kecil anak ini memiliki keberanian luar biasa
dan kekerasan hati yang amat aneh bagi seorang anak sebesar itu. Melihat
kekejaman-kekejaman yang terjadi, dia tidak pernah merasa ngeri, bahkan merasa
gembira!
Barulah hati Pat-jiu kai-ong terkejut sekali setelah selama lima puluh
jurus dia mainkan tongkatnya dia tidak mampu menembus pertahanan sepasang ujung
lengan baju lawannya. Bahkan lawannya terkekeh-kekeh mengejeknya dan biapun
lawannya hanya mainkan ujung lengan baju, namun ternyata tongkat yang biasanya
dia andalkan itu sama sekali tidak berdaya!
"Keparat, mampuslah!" Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong berseru
keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang menggetarkan seluruh ruangan itu.
Han Bu Ong terplanting jatuh dari kursinya, akan tetapi bocah ini sudah
duduk bersila dan mengatur pernapasan, menutup pendengaran. Ternyata sekecil
itu, Bu Ong telah digembleng hebat oleh ayahnya sehingga dengan dasar latihan
sinkang Inti Salju, dia kini mampu menulikan telinga dan menghadapi auman
Sai-cu Ho-kang dari Pat-jiu Kai-ong! Padahal lawan yang tidak begitu kuat
sinkangnya, mendengar auman Sai-cu Ho-kang yang berdasarkan Khi-kang yang amat
kuat ini, sudah akan roboh.
Sementara itu, The Kwat Lin yang melihat puteranya dapat menyelamatkan
diri, sudah mengeluarkan suara terkekeh-kekeh dan lawannya terkejut bukan main
karena dari suara ini keluar getaran yang menghancurkan ilmunya bahkan
menyerangnya dengan hebat. Terpaksa dia menghentikan auman Sai-cu Ho-kang dan
mempercepat gerakan tongkatnya dengan ilmu Tongkat Pat-mo-tung-hoat (Ilmu
Tongkat Delapan Iblis) yang dahsyat.
The Kwat Lin memang hendak mempermainkan lawannya, maka dia hanya
menangkis dan mengelak. Hal ini sengaja dilakukannya untuk memamerkan
kepandaiannya dan untuk meyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh
olehnya sehingga lawannya yang amat dibencinya itu akan ketakutan setengah
mati! Dan memang usahanya ini berhasil.
Keringat dingin membasahi muka pat-jiu Kai-ong dan tahulah kakek ini
bahwa mengandalkan ilmu silat saja, dia tidak akan menang melawan wanita yang
pernah dipermainkannya dan diperkosanya selama tiga hari tiga malam itu. Maka
dia lalu mengerahkan tenaganya, menggerakan sinkang dan tiba-tiba dia memekik
dan menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka.
The Kwat Lin sudah menduga bahwa lawannya tentu akhirnya akan
menggunakan ilmu Hiat-ciang Hoat-sut ini. Dan dia sudah mendengar dari suaminya
akan ilmu mujijat ini, maka dia bersikap hati-hati dan tidak berani memandang
rendah. Bahkan ketika menyaksikan cahaya merah menyambar keluar, merasakan
getaran mujijat dan mencium bau amis darah yang memuakkan, dia terkejut sekali
dan cepat dia menekuk kedua lututnya sedikit, kemudian mendorongkan telapak tangan
kanannya dengan tiga buah jari tangan diluruskan. Hawa dingin meluncur keluar
dari telapak tangannya menyambut hawa pukulan Hiat-ciang Hoat-sut.
"Dess!" dua benturan tenaga mujijat bertemu dan tubuh kedua
orang itu tergetar hebat!
Kiranya tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sudah sedemikian ampuhnya sehingga
dalam benturan tenaga ini, Pat-jiu Kai-ong dapat mengimbangi tenaga The Kwat
Lin. Kalau kakek itu merasa betapa tubuhnya mendadak menjadi dingin sekali,
sebaliknya The Kwat Lin merasa tubuhnya panas! Namun keduanya dapat melawan
hawa ini dan berkali-kali mereka mengadu tenaga sinkang lewat telapak tangan
mereka.
0 komentar:
Posting Komentar