12 Apr 2016

Bukek Siansu Jilid 18

advertisement
Bukek Siansu Jilid 18 - Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu meninggalkan kamar lagi.Sebelum orang yang membunuh ayam jagonya dan yang mengirim surat ancaman itu dapat ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak bernafsu untuk bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu. Dia percaya penuh bahwa menghadapi seorang pengacau saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhati-hati dan ikut melakukan penjagaan sendiri. Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh bersenag-senang. Dia belum yakin benar apakah musuh gelap itu ada hubungannya dengan Lu-san Lojin dan kedua orang anaknya, akan tetapi ada hubungan atau tidak, setelah tiga orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya. Dia harus berhati-hati, maklum bahwa dia mempunayi banyak musuh. Siapa tahu kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga memusuhi. Andaikata tidak sekalipun, mana bisa dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan tampan itu?
Pat-jiu Kai-ong duduk lagi di ruangan tadi sambil melanjutkan minum arak. Dia maklum bahwa malam ini dua belas orang pengawalnya menjaga dengan tertib dan penuh kewaspadaan. Ingin dia tertawa keras-keras mengusir kesunyian malam yang mendatangkan perasaan tidak enak. Hemmm, Ratu Pulau Es? Hanya dongeng! Pembunuh ayam itu tidak perlu ditakuti. Andaikata dia mampu mengalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang sukar dipercaya, masih ada dia sendiri. Hiat-ciang Hoat-sut, ilmu yang dilatihnya belasan tahun kini telah dapat diandalkan. Tadipun, hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya saja, ilmu itu telah merobohkan Lu-san Lojin. Dia tidak takut!

"Aku tidak takut!" serunya kuat-kuat. "Datanglah kamu, hai Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!"

Para pelayan sudah menyalakan lampu-lampu penerangan dan atas perintah para pengawal, pelayan-pelayan ini menambah jumlah lampu sehingga keadaan di seluruh gedung itu menjadi terang. Setelah menyuruh para pelayan membersihkan meja di ruangan itu, dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan menekankan agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan perondaan bergilir, Pat-jiu Kai-ong lalu duduk bersila di dalam ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan mempertajam pendengarannya sehingga biarpun dia berada di dalam istana, namun dia ikut pula menjaga dan meronda mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua suara yang tidak wajar di luar istana.

Malam makin larut dan keadaan sunyi sekali di istana itu dan sekitarnya. Para pelayan yang mendengar dari para pengawal, dengan muka pucat tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka suara dan hanya saling pandang dengan mata penuh rasa takut. Para selir juga berkelompok di dalam kamar Pat-jiu Kai-ong, agar terhibur dengan adanya Swi Liang pemuda yang tampan itu. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa-malu-malu membelai pemuda itu, memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan rambutnya. Akan tetapi mereka tidak berani berbuat lebih dari itu, dan tidak berani mengeluarkan suara. Juga para pengawal agaknya melakukan penjagaan dengan teliti dan hati-hati, tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka melakukan penjagaan tentu diisi dengan sendau gurau dan mengobrol.

Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati Pat-jiu Kai-ong. Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian ini agar penjagaan dilakukan lebih tertib dan rapi pula. dia merasa tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap itu. Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya seberat mungkin!

Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang datangnya dari dalam kamarnya! Pat-jiu Kai-ong cepat melompat dan hanya dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya kelima orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan ketakutan, akan tetapi dua orang muda yang tadi terbelenggu di atas pembaringannya, seperti dua tusuk daging panggang yang dihidangkan di atas meja makan dan siap untuk diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas!

"Apa yang terjadi? Keparat, diam semua! Jangan menangis, apa yang terjadi?"

Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka bercerita dengan suara gagap, "Ada... ada... setan...., hanya tampak bayangan berkelebat ke atas ranjang dan... dan mereka berdua... tahu-tahu telah lenyap..."

"Tolol!!" Pat-jiu Kai-ong berkelebat keluar melalui jendela kamar yang terbuka, terus berloncatan memeriksa sampai dia bertemu dengan para pengawal di luar istana, namun dia tidak melihat jejak dua orang tawanan yang lenyap itu. "Kalian tidak melihat orang masuk?" Bentaknya kepada para pengawal.

"Tidak ada, Pangcu."

"Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu lenyap?"

Kagetlah para pengawal itu dan Pat-jiu Kai-ong, dibantu oleh para pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan di dalam istana. Mula-mula timbul dugaannya bahwa tentu Lu-san Lojin dan dua orang anaknya itu benar-benar mempunyai kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong mereka. Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam kamar tahanan, Lu-san Lojin masih menggeletak pingsan di atas lantai!

"Cepat lakukan penjagaan tadi. Tutup semua jalan masuk! Bagi-bagi tenaga!" Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara yang agak parau karena harus diakuinya bahwa jantungnya tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan sepak terjang musuh gelap yang aneh dan amat luar biasa itu.

Setelah sekali lagi memeriksa sendiri dengan memepersiapkan tongkat ditangan, sampai tidak ada lubang yang tidak dijenguknya di dalam dan di sekitar gedungnya dan mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada orang bersembunyi di dalam gedung, Pat-jiu Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti dengan jantung berdebar. Malam telah makin larut dan musuh yang aneh itu telah mulai memperlihatkan bahwa musuh itu memang ada dengan menculik dua orang tawannan itu secara aneh. Biarpun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat tinggi, namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang menculik pemuda-pemudi itu di depan hidung mereka, sungguh merupakan hal yang amat aneh!

Pat-jiu Kai-ong bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam otaknya. Siapakah Ratu Pulau Es? Apalagi dengan ratunya, dengan penghuni Pulau Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu kali dengan Han Ti Ong ketika memperebutkan Sin-tong. Dan di mana adanya pulau dongeng itu dia pun tidak tahu. Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap permusuhan, dan adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit hati itu seharusnya datang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es atau Han Ti Ong yang telah berhasil menangkan perebutan atas diri Sin-tong! Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang mengaku bernama Ratu Pulau Es? Siapakah yang bermain-main dengan dia? Melihat sepak terjang orang rahasia ini, caranya membunuh ayam, dapat dipastikan bahwa orang itu kejam dan aneh, ciri seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih yang selalu datang secara berterang. Siapakah tokoh golongan hitam yang memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang paling menonjol adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si! Wanita itukah yang kini datang mengganggunya?

"Ha-ha-ha!" Dia tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar. Mengapa dia takut? Andaikata Kia-mo Cai-li sendiri yang datang, diapun tidak takut! Dan siapakah lain wanita di dunia Kang-ouw yang lebih mengerikan daripada Kiam-mo Cai-li?

"Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari tempat persembunyian! Hayo serbulah, aku Pat-jiu Kai-ong tidak takut kepada siapa pun juga! Kalau kau diam saja, berarti kau pengecut hina dan penakut, ha-ha-ha-ha!"

Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang mengerikan itu, Pat-jiu Kai-ong berusaha mengusir rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar oleh semua penghuni gedung itu. Dan agaknya, sebagai sambutan atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam jagonya yang berada di belakang, di kandang ayam, berkeruyuk keras sekali!

"Ha-ha-ha!" Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya sendiri yang menjawab, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan mukanya berubah. Keruyuk ayamnya itu berhenti setengah jalan dan terputus oleh suara "kok!" suara ayam kesakitan! Suara ini disusul suara berkotek riuh dari ayam-ayam betina di dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu mereka akan tetapi suara berkotek ini pun berhenti setengah jalan dan bekali-kali terdengar suara "ko" suara ayam dicekik atau dihentikan suara dan hidupnya!

"Keparat...!!" Pat-jiu Kai-ong yang bermuka merah saking marahnya itu sudah meloncat keluar dan langsung lari ke kandang. Hampir dia bertubrukan dengan dua orang pengawal yang juga mendengar keanehan di kandang itu. Kini dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, mereka bertiga memeriksa kandang dan di bawah sinar obor tampaklah oleh mereka bahwa dua puluh ayam yang berada di kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan leher putus! Darah merah muncrat ke mana-mana, membuat lantai dan dinding kandang itu menjadi merah mengerikan.

"Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki dan mereka bertiga sejenak menjadi seperti arca memandang ke dalam kandang. Sunyi di situ, bahkan tidak ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi menyeramkan.

"Ngeooonggg...!" Suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini yang membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke atas genting.

Si Putih satu-satunya kucing peliharan di gedung itu, berkelebat melompat sambil menggereng, seolah-olah menghadapi musuh dan marah. Akan tetapi gerengannya terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat melompat ke kiri ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya.

"Bukkk!" Ketika pengawal yang membawa obor mendekat, ternyata yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang baru saja mengeong tadi!

"Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki untuk kedua kalinya dan tubuhnya sudah melayang ke atas genting, diikuti oleh dua orang pengawalnya. Melihat betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika dia meloncat ke atas genting membuktikan bahwa pengawal itu sudah memiliki ginkang yang hebat. Akan tetapi kembali ketiganya termangu-mangu di atas genting karena tidak tampak bayangan seorang manusian pun. Keadaan sunyi. Sunyi sekali, terlampau sunyi seolah-olah gedung itu telah berubah menjadi tanah kuburan!

"Hung-hung! Huk-huk-huk...!!" Riuhlah suara tiga ekor anjng peliharaan gedung itu menggonggong dan menyalak-nyalak di sebelah kanan gedung. Suara ini mengejutkan mereka, apalagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah itu tiba-tiba ditutup dengan suara "kaing...! nguik... nguikkk... nguikkkkk!" Dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi dari tadi sebelum terdengar gonggongan anjing-anjing itu.

"Bedebah...!" Pat-jiu Kai-ong melompat dari atas genting, tidak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu saking cepatnya dan sebentar saja dia sudah tiba di sebelah kanan gedungnya, di kandang anjing. Seperti sudah dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati dengan leher hampir putus dan darah mengalir di bawah bangkai mereka. Tiga orang pengawal yang terdekat sudah tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka berubah pucat!

Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong suara Lu-san Lojin ketika membacakan isi surat, "Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!"

Semua binatang peliharaannya , ayam, kucing, dan anjing, sudah mati semua dan sekarang tentu tiba giliran manusianya! Teringat akan ini, Pat-jiu Kai-ong cepat berkata, suaranya sudah mulai gemetar

"Cepat, semua berkumpul denganku di dalam gedung...!"

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah luar dan di depan gedung itu. Mereka cepat berlari menuju ke depan gedung dan tampaklah oleh mereka dua orang pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak bergerak di atas tanah. Ketika seorang pengawal yang membawa obor mendekat, Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua orang pengawalnya yang terlentang itu telah tewas dengan mata melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut keluar darah hitam sedangkan di dahi mereka itu tampak jelas cap jari tangan yang kecil panjang, tiga buah banyaknya dan mudah dilihat bahwa itu adalah tanda jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Begitu dalam gambar jari itu sampai garis-garisnya tampak!

"Kurang ajar! Mari kita berkumpul semua...!"

Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri gedung. Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu dan melihat tiga orang pengawal lain sudah menjadi mayat dalam keadaan yang sama seperti dua orang korban pertama.

Segera tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari belakang gedung. Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si brewok, mengejar ke belakang dan empat orang pengawal sudah menggeletak tewas dalam keadaan mengerikan, persis seperti yang lain. Dalam sekejap mata saja sembilan orang pengawal telah tewas. Mereka itu berada di depan, di sebelah kiri, di belakang gedung, akan tetapi kematian mereka susul menyusul begitu cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari berbagai jurusan. Namun, biarpun mulutnya tidak menyataakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa tanda dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang sama dan bahwa pembunuhnya itu hanya satu orang saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa sehingga para pengawal itu agaknya sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan.

Tiga orang pengawal saling pandang dengan muka pucat. Melihat muka mereka, Pat-jiu Kai-ong menjadi penasaran dan merah sehingga timbul kembali keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jerih. Dia berteriak memaki, "jahanam pengecut! Hayo keluarlah dan lawan aku Pat-jiu Kai ong!"

Setelah dia mengeluarkan kata-kata ini dengan suara nyaring, keadaan menjadi sunyi sekali, sunyi yang amat menggelisahkan dan menyeramkan, seolah-olah dalam kegelapan dan kesunyian malam itu tampak mulut iblis menyeringai dan menanti saat untuk menerkam dan mencabut nyawa !

Pat-jiu Kai-ong makin penasaran. Dia sendiri adalah seorang manusia yang dikenal sebagai iblis, jarang menemui tandingan dan ditakuti banyak orang dari semua golongan. Akan tetapi malam ini dia Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal memiliki anggauta ratusan orang banyaknya, seorang di atara datuk kaum sesat atau golongan hitam yang ditakuti orang, dia dipermainkan orang! Dan orang itu, kalau melihat namanya sebagai ratu tentulah seorang wanita! Apalagi dia melihat bahwa bekas jari tangan di dahi para korban itu pun jari tangan wanita yang kecil meruncing!

"Hem, pengecut benar dia," katanya kepada tiga orang pengawalnya yang diam-diam telah kehilangan separuh dari nyali mereka. "Kita harus menggunakan pancingan. Biar aku mengintai dari atas, kalian berjalan-jalan di sini. kalau dia muncul menyerang, aku tentu dapat melihatnya dan aku akan meloncat turun. Bersiaplah kalian!" Setelah berkata demikian, dengan gerakan ringan seperti seekor kelelawar, Pat-jiu Kai-ong melompat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan sambil mengintai.

Dia melihat tiga orang pengawalnya itu masing-masing telah mencabut senjata mereka. Si Brewok menggunakan sebatang tombak panjang yang ujungnya berkait, orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang ketiga sebatang pedang. Mereka berdiri saling membelakangi dan mata mereka memandang tajam ke depan, telinga mereka memperhatikan setiap suara. Akan tetapi sunyi saja sekeliling tempat itu.

Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong melihat sesosok bayangan melayang turun dari atas pohon! Celaka pikirnya. Kiranya si laknat itu bersembunyi di dalam pohon yang tumbuh di depan gedung. Bayangan itu sukar di lihat bentuknya karena cepat sekali gerakannya, tahu-tahu telah berada di depan Si Brewok. Tiga orang pengawal itu menggerakan senjata, akan tetapi anehnya, tampak oleh Pat-jiu Kai-ong betapa tiga buah senjata mereka itu telah berpindah tangan! entah bagaimana caranya karena dari atas genteng itu dia tidak dapat melihat jelas. Yang dia ketahuinya hanyalah betapa tiga orang pengawalnya itu kini lari ketakutan!

"Hik-hik-hik!" Suara ketawa ini membuat bulu tengkuk Pat-jiu Kai-ong berdiri dan dia melihat sinar-sinar menyambar ke arah tiga orang pengawal yang lari, melihat mereka roboh dan memekik, terjungkal tak bergerak lagi karena punggung mereka ditembus oleh senjata mereka masing-masing!

"Keparat jangan lari kau!" Pat-jiu Kai-ong sudah melayang turun dan tongkatnya sudah diputar-putar. Akat tetapi bayangan itu melesat dan lenyap dari tempat itu!

Pat-jiu Kai-ong menoleh ke kanan kiri, akan tetapi tidak tampak gerakan sesuatu. Dia makin penasaran. Dihampirinya tiga orang pengawalnya. Mereka telah tewas dan hanya mereka bertiga yang tidak dicap dahinya dengan tiga buah jari tangan hitam akan tetapi kematian mereka cukup mengerikan. Tombak golok dan pedang itu menembus punggung pemilik masing-masing sampai ujungnya keluar dari hulu hati! Dan sambitan tiga buah senjata yang berlainan bentuknya itu dilakukan secara berbareng dari jarak yang cukup jauh, tepat mengenai tiga sasarannya yang sedang berlari. Hal ini saja membuktikan pula betapa hebatnya kepandaian orang aneh itu

Mendadak Pat-jiu Kai-ong tersentak kaget. Di dalam gedung! Betapa tololnya dia! Semua pengawalnya yang berjumlah dua belas orang telah tewas semua. Tentu sekarang musuh itu masuk ke dalam gedung untuk membunuh orang-orang di dalam gedung. Secepat kilat dia meloncat dan lari memasuki gedung. Benar saja, terdengar pekik susul-menyusul dan begitu melewati pintu depan, dia sudah melihat para pelayannya telah menjadi mayat dan berserakan di sana-sini. Cepat dia lari ke dalam kamarnya dan dengan mata terbelalak dia melihat lima orang selirnya telah mati semua, dahi mereka juga ada bekas tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam! Sunyi sekali di dalam gedung itu, kesunyian yang penuh rahasia

Lu-san Lo-jin! Pat-jiu Kai-ong teringat dan dia cepat lari ke dalam tempat tahanan, hanya untuk melihat bahwa kakek ini pun telah tewas dan di dahinya terdapat pula tanda telapak tiga jari tangan! Kini dia benar-benar bingung. Jelas bahwa musuh ini bukanlah kawan Lu-san Lojin seperti yang disangkanya semula! Makin bingunglah dia dan dia lari pula ke dalam ruangan besar di mana dia tadi makan minum dengan Lu-san Lojin dan dua anaknya, di mana dia tadi menanti datangnya musuh rahasia. Dan begitu memasuki ruangan itu, dia tertegun! Ruangan itu kini terang sekali, agaknya ada yang menambah lampu penerangan. Ketika dia melihat, benar saja bahwa di situ terdapat banyak lampu, banyak sekali karena agaknya semua lampu penerangan dibawa dan dikumpulkan di ruangan itu. Dan di atas kursinya yang tadinya ditinggalkan kosong, kini tampak duduk seorang wanita!

Di depan wanita itu, juga duduk di atas kursi, tampak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang memandangnya dengan mata penuh selidik. Wanita itu cantik, pakaiannya mewah dan indah, anak itu pun tampan dan bersih serta mewah pakaiannya. Wanita itukah yang membunuh semua orang di gedungnya? Tak mungkin agaknya. Wanita itu usianya paling banyak tiga puluh lima tahun, cantik dan kelihatan halus gerak-geriknya, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan dingin sekali.

"Ibu, dia inikah orangnya?" Tiba-tiba anak kecil itu bertanya, suaranya nyaring, memecahkan kesunyian yang sejak tadi mencekam.

"Benar, dialah Si Bedebah Pat-jiu Kai-ong." Wanita itu berkata, suaranya halus akan tetapi dingin menyeramkan.

"Kalau begitu, mengapa ibu tidak lekas membunuhnya?"

Wanita itu tersenyum dan wajah yang cantik itu makin cantik, akan tetapi juga makin dingin menyeramkan, kemudian bangkit berdiri berlahan-lahan.

"Kau lihat sajalah ibumu menundukan Si jembel busuk ini."

Wanita itu ternyata bertubuh tinggi ramping dan ketika melangkah maju, tampak gerakan kedua kakinya lemah lembut. Pat-jiu Kai-ong sudah dapat menguasai hatinya dan timbul keberaniannya setelah melihat bahwa orang itu hanyalah seorang manusia biasa, wanita yang kelihatan lemah pula, bukan seorang iblis yang menyeramkan sama sekali.

"Siapakah engkau? Siapa pembunuh orang-orangku dan apa hubunganmu dengan Ratu Pulau Es yang mengancamku?"

Wanita itu kini tiba di depan Pat-jiu Kai-ong sehingga raja pengemis ini dapat mencium bau harum semerbak yang keluar dari rambut dan pakaian wanita itu.

"Akulah Ratu Pulau Es, aku pula yang telah membunuh semua mahluk hidup di dalam gedungmu, semua telah kubunuh kecuali engkau, Pat-jiu Kai-ong. Aku harus membunuhmu perlahan-lahan, menyiksamu sampai puas hatiku."

Mendengar ancaman ini, Raja Pengemis yang biasanya berhati kejam dan keras itu, menjadi berdebar juga. Akan tetapi kemarahannya melenyapkan semua rasa jerih dan dia membentak, "Perempuan sombong! Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi Pat-jiu Kai-ong?"

“Pat-jiu Kai-ong, agaknya kejahatanmu sudah begitu bertumpuk-tumpuk sehingga engkau tidak dapat mengenal korban-korbanmu lagi. Pandanglah aku baik-baik dan kumpulkan ingatanmu! Lupakah kau apa yang terjadi di kaki pegunungan Jeng-hoa-san sepuluh tahun yang lalu?"

Pat-jiu Kai-ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng-hoa-san sebelum dia naik ke puncak gunung itu untuk mencari Sin-tong. Kini dia dapat mengenal wajah ini, wajah cantik yang pernah merintih-rintih dan memohon pembebasan, namun yang dia permainkan secara kejam.

"Kau... kau... Cap-she Sin-hiap...?" Tanyanya ragu-ragu.

"Benar. Aku adalah anggauta paling muda dari Cap-sha Sin-hiap. Dua belas orang suhengku telah kau bunuh. Ingatkah sekarang kau?"

Pat-jiu Kai-ong tertawa. Hatinya lega. Kalau hanya wanita muda itu, yang telah diperkosanya dan yang hanya menjadi orang ke tiga belas dari Cap-sha Sin-hiap, perlu apa dia takut? Biar perempuan ini agaknya telah memperdalam ilmunya selama sepuluh tahun ini, akan tetapi perlu apa dia takut?

"Ha-ha-ha, kiranya engkaukah ini, manis? Tentu saja aku masih ingat kepadamu, siapa bisa melupakan kenang-kenangan manis selama tiga hari itu? Ha-ha-ha, betapa mesranya!"

“Jahanam! Kematian sudah di depan mata dan kau masih berlagak? Pat-jiu Kai-ong, aku telah datang dan rasakanlah pembalasanku, aku akan membuat kau menyesal mengapa kau pernah dilahirkan ibumu!"

"Perempuan sombong, mampuslah!" Pat-jiu Kai-ong sudah menerjang dengan tongkatnya melakukan penyerangan dengan dahsyat, menusukkan tongkatnya yang tentu akan menembus dada wanita itu kalau tidak cepat wanita itu mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis.
"Trakk!" Tongkat itu menyeleweng dan terkejutlah Pat-jiu Kai-ong. Ternyata lawannya ini benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat dan telah memiliki sinkang yang tak boleh dipandang ringan.

Tentu saja! Wanita itu bukan lain adalah The Kwat Lin yang selama sepuluh tahun ini menjadi istri atau permaisuri Raja Pulau Es, Han Ti Ong yang sakti! Wanita ini selama sepuluh tahun telah menggembleng diri di bawah petunjuk suaminya yang amat mencintainya. Bahkan suaminya telah menurunkan ilmu-ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dan ilmu mujijat Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis ini atas permintaan The Kwat Lin. Karena itu, biarpun ada sebatang pedang menempel di punggungnya, The Kwat Lin tidak menggunakan senjata melainkan ujung lengan bajunya untuk menghadapi tongkat dan memang kedua ujung lengan baju ini yang merupakan sepasang senjata yang dilatihnya khusus untuk mengatasi tongkat Raja Pengemis itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, The Kwat Lin menggunakan kesempatan selagi Han Ti Ong pergi menyerbu Pulau Neraka, untuk meninggalkan Pulau Es. Hal ini sudah bertahun-tahun dia cita-citakan. Dia menjadi istri Han Ti Ong hanya karena ingin mewarisi ilmu kepandaiannya, akan tetapi setelah menjadi permaisuri, dia pun ingin memiliki pusaka Pulau Es dan benda-benda berharga lainya. Maka dia menanti kesempatan baik untuk meninggalkan pulau, tentu saja meninggalkan untuk selamanya karena pada hakekatnya dia tidak suka tinggal di pulau itu. Siapa suka tinggal di Pulau Es yang membosankan itu, jauh dari dunia ramai? Pergilah dia mengajak puteranya, Han Bu Hong, meninggalkan Pulau Es sewaktu suaminya tidak ada, membawa pusaka Pulau Es. Dengan alasan akan menyusul suaminya yang menyerbu Pulau Neraka, tidak ada seorang pun berani menghalangi kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang sudah tinggi, dia berhasil mendarat.

Berbulan-bulan dia menyelidiki dan akhirnya dia dapat menemukan tempat tinggal musuh besarnya di lereng Heng-san. Dia mengajak puteranya dan setelah menyembunyikan puteranya, dia menyelidiki istana Raja Pengemis itu. Melihat Swi Liang dan Swi Nio, dia tertarik sekali, maka dia menculik mereka dan membawa mereka ke dalam hutan di mana Bu Hong menanti ibunya.

"Kalian kuselamatkan dengan maksud untuk mengangkat kalian berdua menjadi muridku ," dia berkata tanpa banyak cerita lagi. "Tinggal kalian pilih, mati atau hidup. Kalau ingin mati, kalian semestinya mati karena kalian berada di gedung Pat-jiu Kai-ong. karena sekarang belum malam, maka kalian belum mestinya dibunuh dan karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana. Kalau kalian ingin hidup harus suka menjadi muridku. Bagaimana?"

Tentu saja dua orang muda itu ingin hidup dan segera berlutut di depan calon Subo (ibu guru) mereka.

"Harap subo sudi menolong Ayah kami...." kata Swi Liang.

"Kalian tinggal saja di sini menemani sute kalian ini. Tentang Ayahmu, kita lihat saja nanti."

The Kwat Lin meninggalkan dua orang murid itu bersama puteranya, kemudian mulailah dia turun tangan membunuh-bunuhi semua binatang peliharaan gedung raja Pengemis itu lalu membunuhi semua pengawal, pelayan, selir dan juga Lusan Lojin dibunuhnya karena dia sudah berjanji akan membunuh semua orang di dalam gedung itu, apalagi dia tahu bahwa kalau tidak dibunuh, kakek itu tentu akan menjadi penghalang baginya mengambil murid Swi Liang dan Swi Nio yang menarik hatinya. Akhirnya dia keluar dari gedung, menyuruh kedua orang muridnya menanti di hutan. Akhirnya bersama puteranya, dia dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu setelah membunuh semua orang di dalam gedung.

Han Bu Ong anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun itu, duduk di kursi dan menonton pertandingan dengan mata terbelalak dan jarang berkedip. Dia sama sekali tidak merasa takut atau khawatir. Dia percaya penuh kepada kelihaian ibunya dan memang sejak kecil anak ini memiliki keberanian luar biasa dan kekerasan hati yang amat aneh bagi seorang anak sebesar itu. Melihat kekejaman-kekejaman yang terjadi, dia tidak pernah merasa ngeri, bahkan merasa gembira!

Barulah hati Pat-jiu kai-ong terkejut sekali setelah selama lima puluh jurus dia mainkan tongkatnya dia tidak mampu menembus pertahanan sepasang ujung lengan baju lawannya. Bahkan lawannya terkekeh-kekeh mengejeknya dan biapun lawannya hanya mainkan ujung lengan baju, namun ternyata tongkat yang biasanya dia andalkan itu sama sekali tidak berdaya!

"Keparat, mampuslah!" Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong berseru keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang menggetarkan seluruh ruangan itu.

Han Bu Ong terplanting jatuh dari kursinya, akan tetapi bocah ini sudah duduk bersila dan mengatur pernapasan, menutup pendengaran. Ternyata sekecil itu, Bu Ong telah digembleng hebat oleh ayahnya sehingga dengan dasar latihan sinkang Inti Salju, dia kini mampu menulikan telinga dan menghadapi auman Sai-cu Ho-kang dari Pat-jiu Kai-ong! Padahal lawan yang tidak begitu kuat sinkangnya, mendengar auman Sai-cu Ho-kang yang berdasarkan Khi-kang yang amat kuat ini, sudah akan roboh.

Sementara itu, The Kwat Lin yang melihat puteranya dapat menyelamatkan diri, sudah mengeluarkan suara terkekeh-kekeh dan lawannya terkejut bukan main karena dari suara ini keluar getaran yang menghancurkan ilmunya bahkan menyerangnya dengan hebat. Terpaksa dia menghentikan auman Sai-cu Ho-kang dan mempercepat gerakan tongkatnya dengan ilmu Tongkat Pat-mo-tung-hoat (Ilmu Tongkat Delapan Iblis) yang dahsyat.

The Kwat Lin memang hendak mempermainkan lawannya, maka dia hanya menangkis dan mengelak. Hal ini sengaja dilakukannya untuk memamerkan kepandaiannya dan untuk meyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh olehnya sehingga lawannya yang amat dibencinya itu akan ketakutan setengah mati! Dan memang usahanya ini berhasil.

Keringat dingin membasahi muka pat-jiu Kai-ong dan tahulah kakek ini bahwa mengandalkan ilmu silat saja, dia tidak akan menang melawan wanita yang pernah dipermainkannya dan diperkosanya selama tiga hari tiga malam itu. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, menggerakan sinkang dan tiba-tiba dia memekik dan menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka.

The Kwat Lin sudah menduga bahwa lawannya tentu akhirnya akan menggunakan ilmu Hiat-ciang Hoat-sut ini. Dan dia sudah mendengar dari suaminya akan ilmu mujijat ini, maka dia bersikap hati-hati dan tidak berani memandang rendah. Bahkan ketika menyaksikan cahaya merah menyambar keluar, merasakan getaran mujijat dan mencium bau amis darah yang memuakkan, dia terkejut sekali dan cepat dia menekuk kedua lututnya sedikit, kemudian mendorongkan telapak tangan kanannya dengan tiga buah jari tangan diluruskan. Hawa dingin meluncur keluar dari telapak tangannya menyambut hawa pukulan Hiat-ciang Hoat-sut.

"Dess!" dua benturan tenaga mujijat bertemu dan tubuh kedua orang itu tergetar hebat!

Kiranya tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sudah sedemikian ampuhnya sehingga dalam benturan tenaga ini, Pat-jiu Kai-ong dapat mengimbangi tenaga The Kwat Lin. Kalau kakek itu merasa betapa tubuhnya mendadak menjadi dingin sekali, sebaliknya The Kwat Lin merasa tubuhnya panas! Namun keduanya dapat melawan hawa ini dan berkali-kali mereka mengadu tenaga sinkang lewat telapak tangan mereka.
advertisement

0 komentar:


Top