advertisement
Bukek Siansu Jilid 17 - Pusat perkumpulan Pat-jiu-kaipang (Perkumpulan
pengemis Tangan Delapan) berada di lereng Pegunungan Hen-san. Dari luar, tempat
itu memang pantas disebut pusat perkumpulan pengemis karena hanya merupakan tempat
di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu yang tingginya hampir dua kali
tinggi orang, pagar yang butut dan bambu-bambu itu mengingatkan orang akan
tongkat bambu yang biasa dibawa oleh para pengemis. Akan tetapi kalau orang
sempat menjenguk di dalamnya, dia akan terheran-heran menyaksikan sebuah rumah
gedung yang pantas juga disebut sebuah istana kecil berdiri megah dan mewah
sekali! Inilah tempat tinggal Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi
ketua Pat-jiu Kai-pang di lereng Hengsan!
Pat-jiu Kai-ong tinggal didalam istananya yang mewah akan tetapi yang
dikelilingi pagar bambu tinggi sehingga tidak tampak dari luar itu bersama lima
orang selirnya, lima orang pelayan dan selosin orang anak buahnya yang
merupakan pengawal-pengawalnya. Selosin orang ini tentu saja merupakan
tokoh-tokoh dalam pat-jiu Kai-pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh
diandalkan, atau juga murid-murid tingkat satu dari raja pengemis itu. para
pengawal itu melakukan penjagaan siang malam secara bergilir dan mereka tinggal
di dalam rumah samping di kanan kiri istana ketua mereka.
Adapun Pat-jiu Kai-pang mempunyai anggautan yang banyak dan yang
tersebar luas di kota-kota. Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan itu,
terutama sekali nama besar Kai-ong, para anggauta itu dapat mengumpulkan
sumbangan-sumbangan yang besar dan sebagian dari pada hasil sumbangan ini
mereka setorkan kepada Pat-jiu kai-ong. Inilah membuat raja pengemis menjadi
kaya raya dan dapat hidup mewah sekali. Selosin orang pembantunya, selain
pengawal dan penjaga istananya, juga bertugas untuk turun tangan mewakili ketua
mereka apabila ada cabang yang kurang dalam memberi setoran!
Pat-jiu Kai-ong sendiri yang sudah hidup makmur jarang meninggalkan
istananya di Heng-san. Hanya urusan besar saja yang dapat menariknya pergi
meninggalkan tempat yang amat menyenangkan hatinya itu. Kurang lebih sepuluh
tahun yang lalu dia ikut pula memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib karena dia
pada waktu itu ingin cepat-cepat menyempurnakan ilmu yang sedang diciptakan dan
dilatihnya, yaitu ilmu Hiat-ciang-hoatsut (Ilmu Sihir Tangan Darah). Jika pada
waktu itu dia berhasil merebut Sin-tong, tentu dalam waktu satu tahun saja
ilmunya akan sempurna. Akan tetapi karena seperti diceritakan di bagian depan,
dia gagal dan Sin-tong dibawa pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es,
maka dia harus mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan otaknya dan
disedot darah dan sumsumnya. Kini dia telah mahir dengan ilmu hitam yang
mengerikan itu, akan tetapi sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga
itu dengan pengorbanan seorang bocah!
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong seperti biasa
meninggalkan kehidupan malamnya yang mewah, berpakaian sebagai seorang pengemis
berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang istananya, membawa tongkat
butut dan berlatih silat di waktu embun pagi masih tebal, tiba-tiba seorang
pengawalnya datang menghadap dan melaporkan bahwa ada tiga orang tamu datang ingin
bertemu dengan Si Raja Pengemis.
"Hemm, siapakah pagi-pagi begini sudah datang menggangguku?"
Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut. Akan tetapi karena merasa
penasaran, dia tidak memerintahkan pengawalnya mengusir orang itu dan terutama
sekali ketika mendengar pelaporan itu bahwa yang datang adalah seorang kakek
bersama dua orang muda, seorang dara jelita dan seorang muda tampan. Hatinya
tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku sebagai seorang
"sahabat lama."
Ketika dia keluar membawa tongkat bututnya dan bertemu dengan tiga
orang itu, Pat-jiu Kai-ong memandang tajam. Dia kagum melihat pemuda yang amat
tampan dan pemudi yang amat cantik jelita itu. Wajah mereka yang mirip satu
sama lain menunjukan bahwa mereka adalah kakak beradik, pemudanya berusia
kurang lebih enam belas tahun, pemudinya lima belas atau empat belas tahun.
Sampai lama pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang muda itu,
keduanya membuat hatinya terguncang penuh kagum dan andaikata dia tidak menahan
perasaannya, tentu mulutnya akan mengeluarkan air liur! Barulah dia terkejut
ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum begitu pikun
untuk melupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio,
ha-ha-ha!
Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak
mengenal kedua nama ini. Dia memandang dengan mata terheran kepada laki-laki
yang berdiri di depannya, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh
tahun, berpakaian sederhana berwarna kuning, dengan kepala yang beruban itu
terlindung kain pembungkus rambut yang berwarna kuning pula.
Kakek itu tertawa lagi. "Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar engkau
telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di Lusan ini?"
"Ahhhh...!" Pat-jiu Kai-ong tertawa, mukanya berseri dan dia
cepat membungkuk untuk memberi hormat. "Kiranya sahabat Bu yang datang?
maaf, maaf, mataku sudah lamur saking tuanya sehingga tidak mengenal sahabat
baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpai. Jadi ini kedua anakmu
itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun, kecil dan lucu serta berani,
bahkan kalau tidak salah, anak perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu
kepadaku. Ha-ha-ha!"
Dara berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu menunduk dan kedua
pipinya berubah merah. "Harap Pangcu sudi memaafkan saya."
"Aih-aih...! Ini tentu orang tua lusan ini yang mengajarnya.
Menyebutku Pangcu segala!"
"Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah engkau memang Ketua dari Pat-jiu
Kai-pang? Mengapa tidak mau disebut Pangcu oleh puteriku?" Kakek itu berkata.
"Wah, jangan berkelakar. Anak-anak yang baik, sebut saja aku
paman. marilah masuk, kita bicara di dalam." Pat-jiu-kai-ong lalu bertepuk
tangan dan para pengawalnya muncul. "lekas beritahukan para pelayan agar
mempersiapkan hidangan makan pagi yang baik untuk tamuku yang terhormat, Lu-san
Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang putera-puterinya!"
Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu-kai-ong menggandeng tangan
kakeknya itu, sambil tertawa-tawa mereka memasuki istana dan duduk di ruangan
dalam menghadapi meja dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah.
Sambil memandang ke kanan kiri mengagumi keindahan ruangan itu, Lu-san
Lojin berkata memuji, "Sungguh hebat! Lama sudah aku mendengar bahwa
Pat-jiu-kai-ong tinggal disebuah istana yang megah, kiranya keadaan di sini
melampaui segalanya yang telah kudengar. Hebat sekali!"
Sejak tadi Pat-jiu-kai-ong merayapi tubuh pemuda dan pemudi itu dengan
pandangan matanya. Dia kagum bukan main melihat dara cantik jelita dan pemuda
yang tampan dan gagah itu.
"Ha-ha, kau terlalu memuji, sahabat. Aku tidak mengira bahwa hari
ini tempatku yang buruk akan meneriama kehormatan kedatangan seorang tamu
agung, seorang penolongku yang budiman bersama putra dan puterinya yang begini
elok."
Kedua orang tua ini lalu bercakap-cakap dengan gembira membicarakan
masa lampau. Siapakah kakek ini? Dia adalah Lu-san Lojin, seorang ahli silat
dan ahli pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan dua
orang anak, lalu mengajak dua orang anaknya itu mengasingkan diri ke puncak
Lu-san, dan di sana dia bertapa sambil mendidik dan menggembleng putera
puterinya. Sepuluh tahun yang lalu, setelah gagal merebut Sin-tong, dalam
kekecewaannya Pat-jiu Kai-ong lalu mengamuk di sepanjang jalanan, menculik dan
membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup sehat. Ketika dia tiba di kaki
Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat. Hal ini terjadi
karena dia terlampau banyak membunuh anak laki-laki, makan otak mereka dan
menghisap darah serta sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau
banyak melatih diri dengan ilmu hitam Hiat-ciang Hoat-sut. Karena hatinya yang
penasaran mengapa dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong,
maka dia lupa akan ukuran tenaga sendiri dan melatih diri dengan ilmu hitam
itu, dia terlampau terburu-buru dan akibatnya, hawa mujijat dari ilmu itu
membalik dan membuat dia terluka dalam, keracunan hebat sehingga dia
terhuyung-huyung dan hampir pingsan ketika tiba di kaki Pegunungan Lu-san. Dia
maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam bahaya maut maka hatinya
menjadi khawatir sekali.
Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh Lu-san Lojin
yang sedang turun gunung bersama putera-puterinya yang pada waktu itu baru
berusia enam dan lima tahun, sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san
Lojin cepat menolong Pat-jiu Kai-ong. Setelah memeriksa keadaan raja pengemis
itu, dia maklum bahwa Pat-jiu Kai-ong memerlukan perawatan khusus, maka
diajaknya orang ini naik ke puncak Lu-san. Di situ Pat-jiu Kai-ong diobati
Lu-san Lojin sampai sembuh. Selama satu bulan berada di Lu-san, raja pengemis
ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san Lojin, maka dia merasa
berterima kasih sekali dan menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat
baiknya. Juga dia mengenal dua orang bocah yang mungil itu. Karena kebaikan
hati Lu-san Lojin, biarpun dia melihat Swi Liang sebagai seorang anak yang
mempunyai darah bersih dan tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak
laki-laki itu.
Di lain pihak, ketika mendengar bahwa yang ditolongnya adalah Pat-jiu
kai-ong ketua Pat-jiu kai-pang, Lu-san Lojin terkejut sekali. Akan tetapi dia
menjadi bangga bahwa raja pengemis yang namanya terkenal itu menganggapnya
sebagai sahabat baik. Maka setelah sembuh, mereka berpisah sebagai sahabat yang
berjanji untuk saling mengunjungi dan saling membantu.
"Sungguh aku tidak tahu diri dan tidak mengenal budi,"
setelah makan minum Pat-jiu Kai-ong berkata kepada tamunya. "Sepatutnya
akulah yang datang mengunjungi kalian di Lu-san, bukan kalian yang jauh-jauh
datang mengunjungi aku."
"Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan begini? Kita bersama telah
mempunyai kewajiban masing-masing sehingga tentu saja telah sibuk dengan
pekerjaan. Kami pun hanya kebetulan saja lewat di kaki Pegunungan Heng-san,
maka aku teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk mendekati Pegunungan
Hengsan mencarimu."
"Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan tetapi,
kalau boleh aku mengetahui, kalian datang dari manakah?"
Lu-san Lojin menarik napas panjang dan menoleh kepada puteranya,
memandang puterinya seolah-olah minta ijinnya, Swi Liang menganggukan kepalanya
kepada ayahnya, dan menunduk. Dianggap oleh pemuda ini bahwa Pat-jiu Kai-ong
adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara sendiri, maka tidak
ada salahnya kalau raja pengemis itu mengetahui urusannya. Siapa tahu raja
pengemis itu dapat membantunya .
"Kami baru saja datang dari Lokyang, melakukan perjalanan sejauh
itu dan ternyata sia-sia belaka perjalanan kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan
Houw."
"Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau mencari
racun bumi itu, Lu-san Lojin?"
"Sebetulnya urusan lama, urusan perjodohan, semenjak kecil, antara
Tee-tok dan aku telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku Bu Swi
Liang ini dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Akan tetapi, setelah
keduanya menjadi dewasa, tidak ada berita dari Tee-tok sehingga hatiku merasa
khawatir sekali. Aku sudah berusaha mencarinya, namun selalu sia-sia.
Akhir-akhir ini aku mendengar bahwa dia berada di Lokyang, akan tetapi setelah
jauh-jauh kami bertiga mencarinya di sana, ternyata dia tidak berada di sana
pula. Hemm, sikap orang tua itu masih selalu aneh dan penuh rahasia."
"Ha-ha-ha, ala salahmu sendiri! mengapa mengikat perjanjian dengan
seorang iblis seperti Tee-tok?"
"Pat-jiu Kai-ong, jangan bergurau. Ini urusan yang penting bagi
kami, karena itu, kami mengharap bantuanmu yang mempunyai banyak anak buah,
agar suka menyelidiki di mana kami dapat bertemu dengan Tee-tok Siangkoan
Houw."
"Baik, baik... jangan khawatir. Akan kusuruh anak buahku menyelidikinya,
dan kalian bermalamlah di sini, jangan tergesa-gesa pulang."
Lu-san Lojin menggeleng kepala. "Sudah terlalu lama kami
meninggalkan pondok, kami hanya dapat bermalam untuk satu malam saja. Besok
pagi-pagi kami harus melanjutkan perjalanan."
"Semalaman cukuplah, Biar kupergunakan untuk menjamu kalian sepuas
hatiku."
Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di luar istana raja pengemis itu.
Tak lama kemudian dua orang pengawal pribadi Kai-ong masuk dengan muka pucat
dan kelihatan takut.
"Ada apa? mau apa kalian mengganggu kami?" Kai-ong membentak
marah dan menurunkan cawan araknya keras-keras ke atas meja sehingga meja itu
tergetar.
"Pangcu... ampunkan kami berdua... terpaksa kami mengganggu karena
ada peristiwa yang amat aneh dan mengkhawatirkan kami semua."
"Apa yang terjadi? Hayo cepat ceritakan."
Dengan wajah ketakutan, seorang di antara dua orang pengawal itu lalu
menceritakan apa yang baru saja terjadi di luar istana. Karena Pangcu sedang
menjamu tamu, para pengawal menjaga di luar dan mereka sedang mengagumi seekor
ayam jago kesayangan Pat-jiu Kai-ong. Raja pengemis itu memang suka sekali
memelihara ayam jago dan kadang-kadang mengadunya. Pagi hari itu seperti biasa,
seorang pelayan memandikan dan memberi makan ayam jago itu, dan memuji-mujinya
sebagai jago peranakan tanah selatan yang amat baik.
Tiba-tiba ayam jago itu menggelepar di dalam kedua tangannya, darah
muncrat dan ayam itu mati, dadanya ditembusi sehelai benda lembut yang kemudian
ternyata adalah sebatang daun! Di tangkai daun itu terdapat sehelai kain yang
ada tulisanya.
"Kami telah meloncat dan mencari di sekeliling, akan tetapi tidak
ada bayangan seorang pun manusia, Pangcu. Agaknya hanya iblis saja yang dapat
menggunakan sehelai daun untuk menyambit dan membunuh ayam jago dan...."
"Cukup!" Raja pengemis itu marah sekali mendengar jagonya
dibunuh orang. "Kalian tolol semua! Mana kain yang ada tulisan itu!"
Kepala pengawal yang mukanya penuh brewok itu dengan kedua tangan
gemetar, menyerahkan sehelai kain putih kepada ketuanya. kain itu ada
tulisannya dengan huruf-huruf kecil berwarna hitam, akan tetapi ada noda-noda
darah, darah ayam jago tadi. Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong yang menerima kain
itu, sejenak menjadi bingung dan baru ia teringat bahwa dia tidak mampu membaca.
Dia buta huruf! Dengan jengkel dan agak malu dia lalu melemparkan kain itu
kepada Lu-san Lojin sambil berkata, "Harap kau bacakan ini untukku!"
Lu-san Lojin menyambar kain yang melayang ke arahnya itu, lalu matanya
memandang tulisan. Mukanya berubah, matanya terbelalak.
"Wah... apa artinya ini?"
"Lojin! bagaimana bunyinya?" Pat-jiu Kai-ong bertanya,
suaranya membentak. Lu-san Lojin lalu membaca huruf-huruf itu.
“Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong
dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!"
Ratu Pulau Es.
"Ratu Pulau Es...?" Pat-jiu Kai-ong tertawa. "Siapakah
dia? Aku tidak mengenalnya. Hai pelawak dari manakah yang main-main seperti
ini? Ha-ha-ha, biar dia datang hendak kulihat bagaimana macamnya!"
"Kai-ong, harap jangan main-main. Biarpun hanya seperti dalam
dongeng, nama Pulau Es amat terkenal, katanya penghuninya memiliki kepandaian
seperti dewa, apalagi dahulu yang terkenal dengan sebutan Pangeran Han Ti
Ong...."
"Ha-ha-ha, siapa perduli? Aku tidak ada permusuhan dengan Han Ti
Ong, bahkan dia yang pernah mengganggu aku. Mengapa sekarang ada ratu dari sana
hendak membunuhku dengan ancaman sesombong itu? Aku tidak percaya. He, pengawal
apakah kalian tahu akan isi surat?"
Dua orang pengawal itu mengangguk. "Sudah Pangcu."
"Apa kalian takut?"
"Ti... tidak, Pangcu, Hanya... hanya amat aneh itu..."
"Sudahlah. Setelah kalian tahu isinya, hayo kalian dua belas orang
melakukan penjagaan yang ketat terutama malam ini. Kita jangan mudah digertak
lawan yang membadut! Biarkan dia datang, kita tangkap dia dan kita permainkan
dia, ha-ha-ha!"
"Kai-ong harap hati-hati...." kata Lu-san Lojin setelah para
pengawal itu keluar dari ruangan itu.
"Ha-ha-ha, mengapa khawatir? Apalagi baru seorang badut, biar Han
Ti Ong sendiri yang datang, setelah kini Hiat-ciang Hoat-sut kulatih sempurna,
aku takut apa?"
Kakek dari Lu-san itu kelihatan ragu-ragu, akan tetapi untuk menyatakan
bahwa dia takut, tentu saja dia tidak mau dengan hati berat dia bersama dua
orang anaknya menemani tuan rumah makan minum dan bercakap-cakap sampai lewat
tengah hari.
Kemudian mereka dipersilahkan mengaso sejenak dalam kamar tamu, akan
tetapi menjelang senja, mereka sudah dipersilahkan makan minum lagi. Sekali ini
mereka benar-benar takjub. Melihat Pat-jiu Kai-ong kini bertukar pakaian,
pakaian malam yang indah dan mewah! Mengignat betapa siang tadi Kai-ong
merupakan seorang pengemis yang berpakaian butut, dan kini seperti seorang
raja, benar-benar membuat Lu-san Loji hampit tertawa, seperti melihat seorang
badut pemain lenong! Dan hidangan yang dikeluarkan di meja juga istimewa, jauh
lebih lengkap daripada siang tadi!
"Ha-ha, ayo makan minum. Kita berpesta sampai kenyang!" kata
tuan rumah itu mempersilahkan tamu-tamunya.
Setelah hidangan tinggal sedikit dan perut mereka kenyang sekali,
Pat-jiu Kai-ong mengusap-ngusap bibirnya yang berminyak dan perutnya yang
gendut, matanya memandang ke arah Bu Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah,
lalu dia berkata, kata-kata yang sama sekali tidak pernah disangka oleh para
tamunya dan yang membuat mereka terkejut setengah mati, "Lu-san Loji,
sekarang kau tidurlah dalam kamarmu dan jangan hiraukan badut yang hendak
mengganggu. Adapun dua orang anakmu ini, yang cantik jelita dan tampan gagah,
biarlah mereka berdua besenang-senang dengan aku dalam kamarku, ha-ha-ha!"
"Kai-ong!" Lu-san Lojin membentak. "Apa... maksud
kata-katamu ini?"
Pat-jiu Kai-ong memandang tamunya sambil tersenyum lebar. "Apa
maksudnya? Swi Liang begini tampan gagah dan Swi Nio cantik jelita dan segar,
sungguh aku suka sekali kepada mereka. Kalau mereka berdua bersama dengan aku
dalam kamarku, tentu mereka akan terlindung dan.... hemmm, aku ingin sekali
bersenang dengan mereka, tidur-tiduran dengan mereka sejenak."
"Kai-ong, apa kau gila??" Lu-san Lojin hampir tidak dapat
percaya akan pendengaranya sendiri.
"Eh, mengapa? Apa salahnya aku tidur dengan dua orang keponakanku
ini? Heh-heh, tak tahan aku melihat puterimu yang muda dan cantik segar, dan
puteramu yang tampan dan ganteng ini. Anak-anak baik, marilah kalian layani
pamanmu..."
"Keparat!" Lu-san Lojin melompat ke depan dan dua orang
anaknya yang berada di belakangnya pun sudah siap dengan pedang di tangan.
"Pat-jiu Kai-ong! Harap kau jangan main gila dan jelaskan apa sebabnya
perubahan sikapmu ini. Mau apa engkau dengan anak-anakku?"
"Ha-ha-ha! Siapa main gila? Sebelum kalian muncul, tidak pernah
ada terjadi apa-apa di sini. Akan tetapi begitu kalian muncul, muncul pula
orang aneh yang membunuh ayamku dan mengeluarkan ancaman. Siapa lagi kalau
bukan teman dan kaki tanganmu? Dan kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu
Kai-ong tidak pernah menyia-nyiakan kecantikan seorang dara remaja seperti
puterimu ini dan puteramu yang tampan ini tentu memiliki otak yang bersih,
darah yang segar dan sumsum yang kuat. Perlu sekali untuk menambah keampuhan
Hiat-ciang Hoat-sut agar makin kuat menghadapi lawan kalau malam ini ada yang
berani datang!"
"Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang manusia iblis yang
busuk!" Lu-san Lojin sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya. Kakek
ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sebagai bekas murid Hoa-san-pai yang
sudah memperdalam ilmunya dengan ciptaanya sendiri, hasil renungannya di waktu
bertapa. Kepalan tangannya menyambar dahsyat, mengandung tenaga sinkang yang
amat kuat. Akan tetapi kiranya hanya dalam ilmu pengobatan saja dia menang jauh
dibandingkan dengan Pat-jiu Kai-ong. Dalam ilmu berkelahi, dia tidak mampu
menandingi Kai-ong yang amat lihai.
Sambil tertawa, Kai-ong mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar dua
kali dan kakek Lu-san itu terpaksa harus menarik kembali kedua tanganya karena
dari kedudukan menyerang, dia malah menjadi yang diserang karena pergelangan
kedua tangannya terancam totokan ujung lengan baju itu! dua orang anaknya yang
sudah marah sekali karena merasa dihina, sudah menerjang maju pula dengan pedang
mereka. Swi Liang menusuk dari samping kiri ke arah lambung kakek pengemis itu,
sedangkan dari kanan Swi Nio membabatkan pedangnya ke arah leher
"Ha-ha, bagus! Kalian benar-benar menggairahkan!" kata kakek
itu dan dia bersikap seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diserang. Akan tetapi
setelah kedua pedang itu menyambar dekat, tiba-tiba kedua tangannya menyambar
dan.... dua batang pedang itu telah dicengkramnya dengan telapak tangan!
Swi Liang dan Swi Nio terkejut bukan main, akan tetapi melihat betapa
kedua batang pedang mereka itu dipegang oleh tangan kakek itu, mereka cepat
menggerakan tenaga menarik pedang dengan maksud melukai telapak tangan Pat-jiu
Kai-ong. Namun usaha mereka ini sia-sia belaka, pedang mereka tak dapat
dicabut, seolah-olah dicengkeram jepitan baja yang amat kuat.
"Manusia tak kenal budi!"
"wirrrr... tar-tar!"
Pat-jiu Kai-ong merasa terkejut melihat menyambarnya sinar kuning dan
ternyata bahwa Lu-san Lojin melolos sabuknya yang berwarna kuning dan kini
menggunakan sabuk itu sebagai senjata. Kakek ini memang memiliki tenaga sinkang
yang kuat, dan memainkan sabuk sebagai senjata sudah merupakan keahliannya.
sabuk lemas di tangannya itu dapat bergerak seperti pecut, dapat pula menjadi
sebatang senjata yang kaku dengan mengerahkan sinkangnya.
"Krekk-krekkk!" dua batang pedang itu patah-patah dalam
cengkraman Pat-jiu Kai-ong dan sambil melompat mundur menghindarkan sambaran
ujung sabuk, raja pengemis ini menyambitkan dua ujung pedang yang dipatahkanya
ke arah Lu-san Lojin.
"Trang-tranggg!" Dua batang ujung pedang itu terlempar ke
lantai ketika ditangkis oleh ujung sabuk (ikat pinggang) dan kini Lu-san Lojin
mendesak ke depan dengan putaran senjatanya yang istimewa. Sedangkan kedua
orang anaknya telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka terkejut
menyaksikan pedang mereka dipatahkan begitu saja oleh kedua tangan lawan dan
mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berguna membantu ayah mereka.
Pada saat itu, muncullah empat orang pengawal yang mendengar suara
ribut-ribut. Melihat mereka, Pat-jiu Kai-ong berkata, "Tangkap dua orang
muda ini, akan tetapi awas, jangan lukai mereka!"
Empat orang pengawal itu segera menubruk maju hendak menangkap Swi
Liang dan Swi Nio. Tentu saja kakak beradik ini melawan sekuat tenaga, akan tetapi
biarpun keduanya memiliki ilmu silat tinggi, namun empat orang pengawal itu pun
merupakan murid-murid terpandai dari Pat-jiu Kai-ong, maka ketika dua orang di
antara mereka menggunakan tongkat, dalam belasan jurus saja Swi Liang dan Swi
Nio dapat ditotok dan roboh dan lumpuh.
“Ha-ha-ha, belenggu kaki tangan mereka baik-baik... kemudian lempar
mereka ke atas tempat tidurku... ha-ha-ha!" Pat-jiu Kai-ong tertawa sambil
menyambar tongkatnya.
Setelah dia bertongkat, maka kini dia menghadapi Lu-san Lojin dengan
lebih leluasa. Kakek dari Lu-san itu marah bukan main melihat putera dan
puterinya digotong pergi dari ruang itu. Dia mengejar dan menggerakan ikat
pinggangnya, namun Pat-jiu Kai-ong menghadangnya sambil tertawa-tawa dan
menyerangnya dengan tongkatnya sehingga terpaksa kakek Lu-san itu melayaninya
bertanding. Pertandingan yang amat seru dan diam-diam Pat-jiu Kai-ong harus
mengaku bahwa ilmu kepandaian kakek yang pernah menolongnya ini memang hebat.
"Pat-jiu Kai-ong, benar-benarkah kau lupa akan budi orang? Aku
pernah menyelamatkan nyawamu, apakah sekarang engkau mencelakakan kami
bertiga?" Lu-san Lojin berkata membujuk karena khawatir melihat nasib
puterinya.
"Ha-ha-ha, dahulu memang engkau pernah menolongku, akan tetapi
sekarang kalian datang dengan niat buruk!"
"Tidak! Kau salah duga! Kami tidak ada sangkut pautnya dengan si
pembunuh ayam!"
"Ha-ha-ha, Lu-san Lojin! Kalian menyelundup ke dalam dan bergerak
dari dalam, sedangkan setan itu bergerak dari luar. Begitukah?" Tongkat di
tangan Pat-jiu Kai-ong menyambar ganas.
"Plak-plakk!" Ujung sabuk kakek Lu-san menangkis dua kali
akan tetapi dia merasa betapa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga Si
Raja Pengemis itu benar-benar amat kuat.
"Pat-jiu Kai-ong, kau salah menduga, kami tidak ada hubungan
dengan musuh yang datang. Lepaskan kedua anakku dan kau berjanji akan
membantumu menghadapi musuh gelap itu."
"Wah, berat kalau disuruh melepaskan. Lu-san Lojin, dengan
baik-baik. Aku tergila-gila melihat anak-anakmu. Pinjamkan mereka kepadaku
untuk satu dua malam, dan kau bantu aku menghadapi musuh, baru aku akan
membebaskan kalian."
"Iblis busuk!" Lu-san Lojin marah sekali dan dengan nekat dia
lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan raja pengemis ini karena dia
maklum bahwa betapapun juga hati yang kotor dari raja pengemis itu tidak mudah
dibujuk. Satu-satunya jalan untuk menolong anak-anaknya adalah melawan
mati-matian.
"Plakkk!" Tiba-tiba ujung sabuk melibat tongkat, keduanya saling
betot untuk merampas senjata. Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berhasil
merampas senjata lawan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pat-jiu Kai-ong
untuk menggerakan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah lawan.
Lu-san Lojin terkejut melihat telapak tangan yang menjadi merah seperti
tangan berlumuran darah itu. Dia belum pernah mengenal limu Hiat-ciang Hoat-sut
dari raja pengemis itu, namun dia pernah mendengar akan hal ini, tahu pula
betapa keji dan berbahayanya ilmu itu. Akan tetapi untuk mengelak dia harus
melepaskan sabuknya dan hal ini pun amat berbahaya. Dengan senjata itu saja dia
masih kewalahan melawan Pat-jiu Kai-ong, apalagi tanpa senjata, maka dengan
nekat dia lalu menggerakan tangan pula menyambut pukulan itu.
"Dessss...! Aduhhh...!!" Dua telapak tangan bertemu dan
akibatnya tubuh Lu-san Lojin terjengkang dan terbanting ke atas lantai,
mulutnya mengeluarkan darah segar dan matanya mendelik. Kakek ini pingsan dan
menderita luka dalam yang amat parah!
"Lempar dia di kamar tahanan!" Pat-jiu Kai-ong berkata sambil
tertawa.
Setelah tubuh kakek yang pingsan itu digusur pergi oleh para
pengawalnya. Pat-jiu Kai-ong menghampiri meja di mana dia tadi menjamu para
tamunya, menyambar guci arak dan menenggaknya habis, kemudian sambil
tertawa-tawa dia memasuki kamarnya.
Pemuda dan pemudi She Bu itu sudah rebah terlentang di atas pembaringan
Pat-jiu Kai-ong yang lebar. Dalam keadaan terbelenggu kaki tanganya. Lima orang
selirnya menjaga di situ. Ketika dia masuk sambil tertawa gembira, Bu Swi Liang
memandang dengan mata melotot penuh kebencian, akan tetapi Bu Swi Nio memandang
dengan mata terbelalak ketakutan dan mencucurkan air mata.
Pat-jiu Kai-ong menghampiri pembaringan, menggunakan tangannya untuk
membelai dan mengusap pipi Swi Nio dan Swi Liang sambil berkata, "Manis,
jangan menangis dan kau jangan marah. Aku akan menemani kalian dan
bersenang-senang sepuas hati setelah kami menangkan musuh gelap yang
mengancam." Dia menengok ke arah lima orang selirnya dan berkata garang.
"Temani mereka, jaga baik-baik jangan sampai ada yang lolos, dan kalau ada
apa-apa, cepat berteriak memanggil para pengawal. Mengerti?"
0 komentar:
Posting Komentar