advertisement
Bukek Siansu Jilid 03 - Tiba-tiba Kwat Lin bangkit serentak, seolah-olah ada tenaga baru
memasuki tubuhnya yang menderita nyeri, lelah dan kelaparan karena selama tiga
hari tiga malam dia dipermainkan tanpa diberi makan atau minum oleh kakek iblis
itu. Dia berdiri tegak, telanjang bulat, lalu memandang ke arah semua mayat
suhengnya, dan matanya menjadi liar, keluar suara parau dari mulutnya yang
pecah-pecah bibirnya oleh gigitan kakek iblis.
"Suheng sekalian, dengarlah! Aku The Kwat Lin, bersumpah untuk
membalaskan kematian suheng sekalian. Satu-satunya tujuan hidupku sekarang
hanyalah untuk membalas dendam dan membunuh iblis busuk Pat-jiu Kai-ong!"
Tiba-tiba dia terhuyung mundur memandang wajah twa-suhengnya. Pria
inilah sebetulnya yang sudah sejak dahulu mencuri hatinya.
"Twa Suheng......!" Dia menubruk dan berlutut di dekat mayat
yang sudah mulai membusuk itu. "Jangan berduka, Twa-suheng....jangan
menangis......" Dia berdiri sesunggukan.
"Apa.....? Aku telanjang.....? Pakaianmu......?"
Seperti orang gila yang bicara dengan sesosok mayat, Kwat Lin bertanya,
kemudian dia membuka baju dan celana luar dari mayat yang sudah kaku kejang itu
dengan agak susah, dan mengenakan pada tubuhnya sendiri. Tentu saja agak
kebesaran.
"Hi-hi-hik, pakaianmu kebesaran, Suheng......." Dia memandang
wajah mayat twa-suhengnya dan tertawa lagi.
"Hi-hik, nah, begitu, tertawalah Twa-suheng, tertawalah para
suheng sekalian......, tertawa dan bergembiralah karena dendam kalian pasti
akan kubalaskan...! Hi-hi-hik... hu-hu-huuuhhh..." Dia menangis lagi terisak-isak
dan dengan terhuyung-huyung dia meninggalkan tempat mengerikan itu setelah
mengambil pedang twa-suhengnya. Pedang itu adalah pedang pusaka terbaik di
antara pedang ketiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu, sebatang pedang
pemberian Ketua Bu-tong pai sendiri, pedang yang di dekat gagangnya ada gambar
setangkai bunga Bwee merah, maka pedang itu diberi nama Ang-bwe-kiam (Pedang
Bunga Bwee Merah).
Dia terhuyung-huyung, pergi tak tentu tujuan, asal menggerakkan kedua
kaki melangkah saja, langkah yang kecil-kecil dan terhuyung-huyung karena
tubuhnya masih terasa lelah, lapar dan sakit semua. Kadang-kadang terdengar dia
terisak menangis, kemudian terkekeh geli sehingga kalau ada orang yang bertemu
dengan wanita yang bibirnya pecah-pecah mukanya penuh debu dan air mata,
matanya membengkak dan merah, rambutnya riap-riapan dan pakaiannya terlalu
besar, ini tentu orang itu akan merasa seram, mengira bahwa setidaknya dia
adalah seorang wanita gila. Dugaan ini memang tidak meleset terlalu jauh.
Penderitaan lahir batin yang melanda diri Kwat Lin membuat wanita malang ini
tidak kuat menahan sehingga terjadi perubahan pada ingatannya!
Pada hari yang sama ketika Cap-sha Sin-hiap roboh di tangan kakek iblis
Pat-jiu Kai-ong di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, terjadi pula peristiwa hebat
di bagian lain dari Pegunungan itu. Kalau Cap-sha Sin-hiap roboh di daerah
timur pegunungan, maka di daerah barat terjadi pula peristiwa yang hampir sama
sungguhpun sifatnya berbeda. Pada pagi hari itu, seorang wanita berjalan
seorang diri mendaki lereng pertama dari pegunungan Jeng-hoa-san sebelah barat.
Wanita itu memasuki hutan dengan wajah berseri dan harus diakui bahwa wajah
wanita itu cantik manis sekali, mempunyai daya tarik yang kuat sungguhpun
usianya sudah empat puluh tahun. Tidak ada keriput mengganggu kulit mukanya
yang putih halus, mulutnya yang agak lebar itu mempunyai bibir yang senantiasa
menantang dan seolah-olah buah masak yang sudah pecah, akan tetapi kalau orang
memperhatikan matanya, mata yang jernih dan bersinar tajam, maka hati yang
kagum akan kecantikannya tentu akan berubah menjadi ragu-ragu, curiga dan ngeri
karena sepasang mata itu tidak pernah, atau jarang sekali berkedip. Mata itu
terbuka terus seperti mata boneka!
Dengan langkah-langkah gontai dan lemas, membuat buah pinggulnya
menonjol dan bergoyang ke kanan kiri, wanita itu berjalan seorang diri,
memutar-mutar sebuah payung yang dipanggulnya. Sebuah payung hitam yang
tertutup, gagangnya melengkung dan ujungnya meruncing. Pakaiannya serba mewah dan
indah, rambutnya panjang sekali, digelung ke atas seperti sebuah menara hitam
yang indah, terhias tusuk sanggul dari mutiara dan emas. Yang menarik adalah
kuku-kuku jari tangannya. Kuku yang panjang terpelihara, diberi warna merah,
panjang meruncing dan agak melengkung seperti kuku kucing atau harimau.
Pakaiannya yang mewah itu dibuat terlalu pas dengan tubuhnya sehingga
membungkus ketat tubuh itu, membayangkan lekuk lengkung yang menggairahkan dari
dada sampai ke kaki karena celananya yang terbuat dari sutera merah muda itu
pun ketat sekali!
Biarpun kelihatannya seperti seorang wanita cantik dan genit (tante
girang), namun sesungguhnya dia bukanlah manusia biasa saja! Inilah dia yang
terkenal sekali di dunia hitam kaum penjahat, karena wanita ini bukan lain
adalah Kiam-mo Cai-li (Wanita Pandai Berpayung Pedang), sebuah julukan yang
membuat bulu tengkuk orang yang sudah mengenalnya berdiri sangking ngerinya
karena wanita yang sebenarnya hanya bernama Liok Si ini memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi mengerikan dan kekejaman yang sukar dicari bandingnya!
Bahkan ia disamakan dengan wanita cantik penjelmaan siluman rase yang biasa
mengganggu pria, dan setiap orang pria yang terjebak dalam pelukannya tentu
akan mati kehabisan darah, disedot habis oleh siluman ini!
Tentu saja bagi mereka yang belum pernah berjumpa dengannya, sama
sekali tidak akan mengira bahwa wanita yang berlenggak-lenggok dengan payung di
pundak itulah iblis wanita yang menggeggerkan dunia kang-ouw dengan
perbuatannya yang luar biasa. Dan mudah saja diduga mengapa pada hari itu
Kiam-mo Cai-li ini mendaki lereng Jeng-hoa-san! Tentu saja dia pun mendengar
berita menggegerkan dunia kang-ouw akan adanya Sin-tong, Si Bocah ajaib dan
mendengar ini, kontan keras hatinya berdebar-debar penuh ketegangan dan penuh
birahi! Dia dapat membayangkan betapa tenaga mukjijat yang dihimpunnya secara
ilmu hitam dengan jalan menghisap sari tenaga ratusan orang pria, akan
meningkat dengan hebat sekali kalau dia bisa menghisap kejantanan si Bocah
Ajaib itu!
Maka begitu mendengar akan bocah ajaib di puncak Pegunungan
Jeng-hoa-san di dalam Hutan Seribu Bunga, dia segera menempuh perjalanan jauh
mengunjungi pegunungan itu. Perjalanan yang jauh karena biarpun sering kali
Liok Si ini pergi merantau namun dia memiliki sebuah pondok kecil seperti
istana mewahnya terletak di tempat yang tidak lumrah dikunjungi manusia, yaitu
di daerah Rawa Bangkai. Rawa-rawa yang liar ini terdapat di kaki Pegunungan
Luliang-san, merupakan daerah maut karena banyak lumpur dan pasir yang
berputar, merupakan perangkap maut bagi manusia dan hewan. Namun di
tengah-tengah rawa-rawa itu, yang tidak dapat dikunjungi oleh manusia lain,
terdapat sebuah tanah datar, tanah keras semacam pulau dan diatas pulau inilah
letaknya istana kecil milik Liok Si yang berjuluk Kiam-mo Cai-li, bersama
belasan orang pembantu-pembantu yang sudah menjadi orang-orang kepercayaannya.
Dia disebut Cai-li (Wanita Pandai) karena sebetulnya wanita ini dulunya
adalah puteri seorang sasterawan kenamaan dan semenjak kecil Liok Si telah
mempelajari kesusasteraan sehingga dia mahir sekali akan sastra, bahkan dia
pernah menyamar sebagai pria menempuh ujian pemerintah sehingga dia lulus dan
mendapat gelar siucai! Akan tetapi, penyamarannya ketahuan dan seorang pembesar
tinggi istana yang kagum kepadanya lalu mengambilnya sebagai seorang selir.
Selain ilmu sastra, juga Liok Si ini semenjak kecil digembleng ilmu
oleh para sahabat ayahnya, apalagi setelah menjadi selir pembesar tinggi di
istana, dia mengadakan hubungan dengan kepala-kepala pengawal, dengan
pengawal-pengawal kaisar yang berilmu tinggi, menyerahkan tubuhnya sebagai
pengganti ilmu silat-ilmu silat tinggi yang diperolehnya sebagai
"bayaran". Akhirnya, pembesar itu mengetahui akan tabiat selirnya ini
yang ternyata adalah seorang wanita yang gila pria maka dia diusir dari istana
pembesar itu. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh wanita ini? Dia membunuh Si
Pembesar, membawa banyak harta benda yang dicurinya dari istana itu, kemudian
minggat!
Belasan tahun kemudian, muncullah nama julukan Kiam-mo Cai-li, namun
tidak ada yang menduga bahwa dia adalah Liok Si yang dahulu menjadi selir
bangsawan dan yang membunuh bangsawan itu sehingga menjadi orang buruan
pemerintah. Liok Si berjalan sambil tersenyum-senyum, kadang-kadang senyumnya
melebar dan tampak giginya yang putih mengkilat dan di kedua ujungnya terdapat
sebuah gigi yang agak meruncing sehingga sekelebatan mirip gigi caling sihung.
Hatinya gembira sekali kalau dia membayangkan betapa akan sedapnya kalau dia
dapat memperoleh bocah ajaib itu.
"Hemmm, aku harus bersikap halus dan hati-hati terhadapnya,
menikmatinya selama mungkin. Hemmm..."
Tiba-tiba dia terkejut dan menghentikan langkahnya, akan tetapi kembali
dia tersenyum manis matanya mengerling tajam penuh kegairahan ketika melihat
lima orang laki-laki berdiri di depannya dengan sikap gagah. Pandang matanya
menyambar-nyambar dan terbayang kepuasan dan kekaguman. Memang, hati seorang
wanita gila pria seperti Liok Si tentu saja menjadi berdebar tegang ketika
melihat lima orang pria yang usianya rata-rata tiga puluh tahun lebih bertubuh
tegap-tegap dan rata-rata berwajah tampan dan gagah! Seperti melihat lima butir
buah yang ranum dan matang hati!
"Aih-aihh... Siapakah Ngo-wi (Anda berlima) yang gagah perkasa
ini? Dan apakah Ngo-wi sengaja hendak bertemu dan bicara dengan aku?"
Seorang di antara mereka, yang usianya tiga puluh tahun, mukanya bulat
dan alisnya seperti golok hitam dan tebal, berkata, "Apakah kami
berhadapan dengan Kiam-mo Cai-li dari Rawa Bangkai?"
Wanita itu memainkan bola matanya memandangi wajah mereka
berganti-ganti dengan berseri, mulunya tersenyum ketika menjawab, "kalau
benar mengapa? Kalian ini siapakah?"
"Kami adalah Kee-san Ngo-hohan (Lima Pendekar dari Gunung
Ayam)".
Kiam-mo Cai-li mengeluarkan bunyi "tsk-tsk-tsk" dengan
lidahnya tanda kagum. Segera dia menjura dan berkata manis.
"Aih, kiranya lima pendekar yang namanya sudah terkenal di seluruh
dunia kang-ouw sebagai murid-murid utama Hoa-san-pai? Aih, terimalah hormatnya
seorang wanita bodoh seperti aku."
"Harap Toanio (Nyonya) tidak mengejek dan bersikap merendah. Kami
sudah tahu siapa adanya Kiam-mo Cai-li, dan karena melihat engkau mendaki
Jeng-hoa-san, maka terpaksa kami memberanikan diri untuk menghadang."
"Ehm...! Maksud kalian?" Senyumnya makin manis dan kerling
matanya makin memikat.
"Kami telah mendengar akan berita bahwa tokoh-tokoh kang-ouw
sedang berusaha untuk memperebutkan Sin-tong yang berada di Hutan Seribu Bunga
dan kami mendengar pula bahwa Kiam-mo Cai-li merupakan seorang di antara mereka
yang hendak menculik Sin-tong. Karena kami telah berhutang budi, diberi obat
oleh Sin-tong maka kami hanya dapat membalas budinya dengan melindunginya
terutama dari tangan... maaf, para tokoh kaum sesat yang tentu tidak mempunyai
itikad baik terhadap dirinya. Andaikata kami tidak berhutang budi sekalipun,
mengingat bahwa Sin-tong adalah seorang anak ajaib yang telah banyak menolong
orang tanpa pandang bulu, sudah menjadi kewajiban orang-orang gagah untuk
melindunginya."
Kembali Kiam-mo Cai-li tersenyum.
"Terus terang saja, memang aku mendengar tentang Sin-tong dan aku
ingin mendapatkannya, maka hari ini aku mendaki Jeng-hoa-san. Habis kalian mau
apa?"
"Kalau begitu, kami minta dengan hormat agar kau suka membatalkan
niatmu itu, Toanio. Kalau kau memaksa hendak menganggu Sin-tong, terpaksa kami
akan merintangimu dan tidak membolehkan kau melanjutkan perjalanan!"
"Hi-hi-hik, galak amat! Lima orang laki-laki muda tampan gagah
bertemu dengan seorang wanita cantik penuh gairah, sungguh tidak semestinya
kalau bermain senjata mengadu nyawa!"
"Hemm, habis semestinya bagaimana?" tanya orang pertama dari
Kee-san Ngo-hohan yang betapapun juga merasa jerih mendengar nama besar wanita
ini dan mengharapkan wanita itu akan mengalah dan pergi dari situ, tidak
mengganggu Sin-tong
Mata itu tajam mengerling dan senyumnya penuh arti, bibirnya penuh
tantangan.
"Mestinya? Mestinya kita bermain cinta memadu kasih!"
"Perempuan hina!"
"Jalang!"
"Siluman betina"
Lima orang itu telah mencabut senjata masing-masing yaitu senjata golok
besar yang selama ini telah mengangkat nama mereka di dunia kang-ouw. Kelima
orang pendekar ini memang merupakan ahli-ahli bermain golok dengan Ilmu
Hoa-san-to-hoat yang terkenal, dan selain itu juga mereka semua mahir akan ilmu
menotok jalan darah yang bernama Sam-ci-tiam-hoat, yaitu ilmu menotok
menggunakan tiga buah jari tangan.
"Siaaaattt...singg...siang..."
"Ha-ha, bagus! kalian memang gagah sekali bermain golok, tentu
lebih gagah kalau bermain cinta, hi-hik!" Kiam-mo Cai-li mengelak dan
tiba-tiba payung hitamnya berkembang terbuka. Payung itu merupakan senjata
isimewa, terbuat dari baja yang kuat dan kainnya terbuat dari kulit badak yang
kering dan sudah dimasak lemas, namun kuatnya luar biasa dapat menahan bacokan
senjata tajam. Adapun ujung payung itu meruncing, merupakan ujung pedang, dan
gagangnya yang melengkung itu pun dapat digunakan sebagai senjata kaitan yang
lihai.
"Trang-trang-trang...!!" Bunga api berpijar ketika
golok-golok itu tertangkis oleh payung dan karena kini tubuh wanita itu
tertutup payung yang berkembang dan berputar-putar, maka sukarlah bagi lima
orang itu untuk menyerangnya dari depan. Mereka lalu berloncatan dan mengurung
wanita itu.
"Hi-hik, hayo keroyoklah. Kalau baru kalian lima orang ini saja,
masih terlampau sedikit bagiku. Hi-hik, hendak kulihat sampai dimana kekuatan
kalian apakah patut untuk menjadi lawan-lawanku untuk bermain cinta!"
"Perempuan rendah!" Orang pertama dari lima pendekar itu
marah sekali, goloknya menyambar dahsyat, tapi tiba-tiba golok itu terhenti di
tengah udara karena telah terikat oleh sebuah benda hitam panjang yang lembut.
Kiranya wanita itu telah mengudar gelung rambutnya dan ternyata rambut itu
panjangnya sampai ke bawah pinggulnya, rambut yang gemuk hitam, panjang dan
harum baunya, bahkan bukan itu saja keistemewaannya, rambut itu dapat
dipergunakan sebagai senjata ampuh, sebagai cambuk yang kini berhasil membelit
golok orang pertama dari Kee-san ngo-hohan! Sebelum orang ini sempat menarik
goloknya, tangan kiri Kiam-mo Cai-li bergerak menghantam tengkuk orang itu
dengan tangan miring.
"Krekk!" Laki-laki itu mengeluh dan roboh tak dapat bangkit
kembali karena dia telah terkena totokan istimewa yang membuat tubuhnya lumpuh
sungguhpun dia masih dapat melihat dan mendengar.
Empat orang lainnya terkejut dan marah sekali. Mereka memutar golok
lebih gencar lagi, bahkan kini tangan kiri mereka membantu dengan serangan totokan
Sam-ci-tiam-hoat yang ampuh! Namun orang yang mereka keroyok itu tertawa-tawa
mempermainkan mereka. Setiap serangan golok dapat dihalau dengan mudah oleh
payung yang diputar-putar sedangkan ujung rambut yang panjang itu mengeluarkan
suara ledakan-ledakan kecil dan menyambar-nyambar di atas kepala mereka, tidak
menyerang, hanya mendatangkan kepanikan saja karena memang dipergunakan untuk
mempermainkan mereka.
"Mampuslah!" Orang ke dua yang menyerang dengan golok ketika
goloknya ditangkis, cepat dia memasuki lowongan dan berhasil mengirim totokan.
Karena tempat terbuka yang dapat dimasuki jari tangannya di antara putaran
payung itu hanya di bagian dada, maka dia menotok dada kiri wanita itu. Dalam
keadaan seperti itu, menghadapi lawan yang amat tangguh, pendekar ini sudah
tidak mau lagi mempergunakan sopan santun yang tentu tidak akan dilanggarnya
kalau keadaan tidak mendesak seperti itu.
"Cusss...!" tiga buah jari tangan itu tepat mengenai buah
dada kiri yang besar, tapi dia hanya merasakan sesuatu yang lunak hangat,
sedangkan wanita itu sama sekali tidak terpengaruh, bahkan mengerling dan
berkata,
"Ihh, kau bersemangat benar, tampan. Belum apa-apa sudah main
colek dada, hihik!"
Tentu saja pendekar ini menjadi merah sekali mukanya. Dia merasa malu akan
tetapi juga penasaran. Ilmu totok yang dimilikinya sudah terkenal dan belum
pernah gagal. Tadi jelas dia telah menotok jalan darah yang amat berbahaya di
dada wanita itu, mengapa wanita itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, bahkan
menyindirnya dan dianggap dia mencolek dada? Dengan marah dia menerjang lagi
bersama tiga orang sutenya.
"Sudah cukup, sudah cukup, rebah dan beristirahatlah kalian!"
Tiba-tiba payung itu tertutup kembali, berubah menjadi pedang yang aneh dan
segulung sinar hitam menyambar-nyambar mendesak empat orang itu, kemudian dari
atas terdengar ledakan-ledakan dan berturut-turut tiga orang lagi roboh terkena
totokan ujung rambut wanita sakti itu. Seperti orang pertama, mereka ini pun
roboh tertotok dan lumpuh, hanya dapat memandang dengan mata terbelalak namun
tidak menggerakan kaki tangan mereka!
Orang termuda dari mereka kaget setengah mati melihat betapa empat
orang suhengnya telah roboh. Namun dia tidak menjadi gentar, bahkan dengan
kemarahan dan kebencian meluap dia memaki, "Perempuan hina, pelacur
rendah, siluman betina, aku takkan mau sudah sebelum dapat membunuhmu!"
"Aihhh... kau penuh semangat akan tetapi mulutmu penuh makian
menyebalkan hatiku!"
Golok itu tertangkis oleh payung sedemikian kerasnya sehingga terpental
dan sebelum laki-laki itu dapat mengelak, sinar hitam menyambar dan ujung
rambut telah membelit lehernya! Pria itu berusaha sekuat tenaga untuk
melepaskan libatan rambut dari lehernya dengan kedua tangan, akan tetapi begitu
wanita itu menggerakkan kepalanya, rambutnya terpecah menjadi banyak gumpalan
dan tahu-tahu kedua pergelangan lengan orang itu pun sudah terbelit rambut yang
seolah-olah hidup seperti ular-ular hitam yang kuat.
"Nah, kesinilah, Tampan. Mendekatlah, kekasih. Kau perlu dihajar
agar tidak suka memaki lagi!"
Laki-laki itu sudah membuka mulut hendak memaki lagi, akan tetapi
libatan rambut pada lehernya makin erat sehingga dia tidak dapat bernapas,
kemudian rambut itu menariknya mendekat kepada wanita yang tersenyum-senyum
itu! Kini laki-laki itu sudah berada dekat sekali, bahkan dada dan perutnya
telah menempel pada dada yang membusung dan perut yang mengempis dari wanita
itu. Tercium olehnya bau wangi yang aneh dan memabokkan, akan tetapi karena
lehernya terbelit kuat-kuat, dan napasnya tak dapat lancar, maka dia terpaksa
menjulurkan lidahnya keluar.
"Aihhh, kau perlu diberi sedikit hajaran, Tampan!"
Empat orang pendekar yang tertotok melihat dengan mata terbelalak penuh
kengerian betapa wanita itu kini mendekatkan muka sute mereka yang termuda,
kemudian membuka mulut dan mencium mulut sute mereka yang terbuka dan lidah
yang terjulur keluar itu. Mereka melihat tubuh sute mereka berkelojot sedikit
seperti menahan sakit, mata sute mereka terbelalak, namun wanita itu terus
mencium dan menutup mulut pria itu dengan mulutnya sendiri yang lebar. Tak
dapat terlihat oleh empat orang pendekar itu betapa wanita itu yang kejam dan
keji seperti iblis, telah menggunakan giginya untuk menggigit sampai terluka
lidah sute mereka yang terjulur keluar, kemudian menghisap darah dari luka di
lidah itu!
Mereka berempat hanya melihat betapa wanita itu memejamkan mata, baru sekarang
mereka melihat wanita itu memejamkan mata, kelihatan penuh nikmat, akan tetapi
wajah sute mereka makin pucat dan mata sute mereka yang terbelalak itu
membayangkan kenyerian dan ketakutan yang hebat. Agaknya wanita itu tidak puas
karena darah yang dihisapnya kurang banyak, maka kini dia melepaskan mulut
pemuda itu dan memindahkan ciuman mulutnya ke leher si Pemuda. Dapat
dibayangkan betapa kaget empat orang pendekar itu melihat bahwa mulut sute
mereka penuh warna merah darah!
"Sute...!!!" Mereka berseru akan tetapi tidak dapat
menggerakkan kaki tangan mereka.
Sute mereka meronta-ronta seperti ayam disembelih, matanya melotot
memandang ke arah para suhengnya seperti orang minta tolong, kemudian tubuhnya
berkelojotan ketika wanita itu kelihatan jelas menghisap-hisap lehernya
ternyata bahwa urat besar di lehernya telah ditembusi gigi yang meruncing dan
kini dengan sepuasnya wanita itu menghisap darah yang membanjir keluar dari
urat di leher itu! Mata yang melotot itu makin hilang sinarnya dan pudar, wajahnya
makin pucat dan akhirnya tubuh yang meregang-regang itu lemas. Orang termuda
itu pingsan karena kehilangan banyak darah, takut dan ngeri. Kiam-mo Cai-li
melepaskan libatan rambutnya dan tubuh itu terguling roboh, terlentang dengan
muka pucat dan napas terengah-engah.
"Sute...!" Kembali mereka mengeluh dan dengan penuh kengerian
mereka melihat betapa wanita itu menggunakan lidahnya yang kecil merah dan
meruncing itu untuk menjilati darah yang masih belepotan di bibirnya yang
menjadi makin merah. Wajahnya kemerahan, segar seperti kembang mendapat
siraman, berseri-seri dan ketika dia mendekati empat orang itu, mereka
terbelalak penuh kengerian.
Akan tetapi, wanita itu tidak menyerang mereka, agaknya dia sudah puas
menghisap darah orang termuda tadi. Hanya kini kedua tangannya bergerak -gerak
dan sekali renggut saja pakaian empat orang itu telah koyak-koyak. Kemudian dia
bangkit berdiri, dengan gerakan memikat seperti seorang penari telanjang, dia
membuka pakaiannya, menanggalkan satu demi satu sambil menari-nari! Sampai dia
bertelanjang bulat sama sekali di depan empat orang itu yang membuang muka
dengan perasaan ngeri dan sebal!
"Kalian layanilah aku, puaskanlah aku, senangkan hatiku dan aku
akan membebaskan kalian berlima. Lihat, bukankah tubuhku menarik? Aku hanya
ingin mendapatkan cinta kalian, aku tidak menginginkan nyawa kalian."
"Cih, siluman betina! Kau anggap kami ini orang-orang apa? Kami
adalah murid Hoa-san-pai yang tidak takut mati. Seribu kali lebih baik mampus
daripada memenuhi seleramu yang terkutuk melayani nafsu berahimu yang
menjijikan!" kata empat orang itu saling susul dan saling bantu.
Kiam-mo Cai-li tersenyum. "Hi-hik, begitukah? Kalau begitu,
baiklah, kalian melayani aku sampai mampus!"
Dia lalu membungkuk dan menarik lengan seorang di antara mereka,
kemudian menggunakan kuku jari kelingking kiri menggurat beberapa tempat di
punggung dan tengkuk pria ini. Orang itu menggigil, menggigit bibir menahan
sakit, akan tetapi karena dia tidak mampu mengerahkan sinkang, dia tidak dapat melawan
pengaruh hebat yang menggetarkan tubuhnya melalui luka-luka goresan kuku
beracun dari kelingking itu. Mukanya menjadi merah, juga matanya menjadi merah
dan napasnya terengah-engah. Tiga orang pendekar yang lain memandang penuh
kekhawatiran dan kengerian
Tiba-tiba wanita itu terkekeh, menggunakan tangan membebaskan totokan
sehingga orang itu dapat menggerakkan kaki tangannya dan terjadilah hal yang
membuat tiga orang pendekar yang masih rebah lumpuh itu terbelalak penuh
kengerian. mereka melihat Sute mereka itu seperti seorang gila menerkam dan
mendekap tubuh wanita itu penuh gairah nafsu! Dengan mata terbelalak mereka
melihat betapa wanita itu menyambutnya dengan kedua lengan terbuka, bergulingan
di atas rumput dan tampak betapa wanita itu membiarkan dirinya diciumi,
kemudian mengalihkan mulutnya yang lebar ke leher Sute mereka! Mereka bertiga
terpaksa memejamkan mata agar tidak usah menyaksikan peristiwa yang memalukan
dan terkutuk itu. Mereka mengerti bahwa Sute mereka melakukan hal terkutuk itu karena
terpengaruh oleh racun yang diguratkan oleh kuku jari kelingking si iblis
betina, dan mereka tahu pula bahwa Sute mereka yang diamuk pengaruh jahanam itu
tidak tahu bahwa darahnya dihisap oleh wanita itu yang seperti telah dilakukan
pada orang pertama tadi kini juga menghisap darahnya sepuas hatinya.
Dapat diduga lebih dahulu bahwa tiga orang yang lain juga mengalami
siksaan yang sama tanpa dapat berdaya apa-apa tanpa dapat melawan. Hal ini
dilakukan berturut-turut oleh Kiam-mo Cai-li dan tiga hari tiga malam kemudian,
dia meninggalkan tempat itu sambil menjilat-jilat bibirnya penuh kepuasan.
Setelah dia melempar kerling ke arah lima tubuh telanjang yang sudah menjadi
mayat semua itu, bergegas dia pergi mendaki Jeng-hoa-san untuk mencari Sin-tong
yang amat diinginkan. Lima orang Kee-san Ngo-hohan itu mengalami kematian yang
amat mengerikan. Tubuh mereka kehabisan darah, kulit mengeriput. Mereka seperti
lima ekor lalat yang terjebak ke sarang laba-laba dan setelah semua darah
mereka disedot habis oleh laba-laba, mayat mereka yang sudah kering dan habis
sarinya itu dilemparkan begitu saja.
Kwa Sin Liong, atau yang lebih terkenal dengan nama panggilan Sin-tong,
pada pagi hari itu seperti biasa setelah mandi cahaya matahari, lalu menjemur
obat-obatan dan tidak lama kemudian berturut-turut datanglah orang-orang dusun
yang membutuhkan bahan obat untuk bermacam penyakit yang mereka derita. Sin
tong mendengarkan dengan sabar keluhan dan keterangan mereka tentang sakit yang
mereka derita, menyiapkan obat-obat untuk mereka semua dengan hati penuh belas
kasihan.
Semua ada sebelas orang dusun, tua muda laki perempuan yang memandang
kepada bocah itu dengan sinar mata penuh kagum dan pemujaan. Baru bertemu dan
memandang wajah Sin-tong itu saja, mereka sudah merasa banyak berkurang
penderitaan sakit mereka. Seolah-olah ada wibawa yang keluar dari wajah bocah
penuh kasih sayang itu yang meringankan rasa sakit yang mereka derita. Tentu
saja hal ini sebenarnya terjadi karena kepercayaan mereka yang penuh bahwa
bocah itu akan dapat menyembuhkan penyakit mereka, sehingga keyakinan ini
sendiri sudah merupakan obat yang manjur. Dan bocah ajaib itu memang bukanlah
seorang dukun yang menggunakan kemujijatan dan sulap atau sihir untuk mengobati
orang, melainkan berdasarkan ilmu pengobatan yang wajar. Dia memilih buah,
daun, bunga atau akar obat yang memang tepat mengandung khasiat atau daya
penyembuh terhadap penyakit-penyakit tertentu itu.
Tiba-tiba terdengar nyanyian yang makin lama makin jelas terdengar oleh
mereka semua. Juga Sin Liong, bocah ajaib itu, berhenti sebentar mengumpulkan
dan memilih obat yang akan dibagikan karena mendengar suara nyanyian yang aneh
itu. Akan tetapi begitu kata-kata nyanyian itu dimengertinya, dia mengerutkan
alisnya dan menggeleng-geleng kepala.
"Aihh, kalau hidup hanya untuk mengejar kesenangan, apapun juga
tentu tidak akan dipantangnya demi mencapai kesenangan!" kata Sin Liong.
"Huh-ha-ha, benar sekali, Sin-tong. Untuk mencapai kesenangan
harus berani melakukan apapun juga, termasuk membunuh para tamu-tamu yang tiada
harganya ini!" Terdengar jawaban dan tahu-tahu disitu telah berdiri
Pat-jiu Kai-ong!
Sebagai lanjutan kata-katanya, tongkatnya ditekankan kepada tanah di
depan kaki lalu lima kali ujung tongkat itu bergerak menerbangkan tanah dan
kerikil ke depan. Tampak sinar hitam berkelebat menyambar lima kali, disusul
jerit-jerit kesakitan dan robohlah berturut-turut lima orang dusun yang berada
di depan Sin Liong, roboh dan berkelojotan kemudian tewas seketika karena tanah
dan kerikil itu masuk ke dalam kepala mereka!
"Hi-hi-hik, kepandaian seperti itu saja dipamerkan di depan
Sin-tong lihat ini!"
Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dan tau-tahu di situ telah
berdiri seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Kiam-mo Cai-li! Dia
menudingkan payung hitamnya yang tertutup itu ke arah para penghuni dusun yang
berwajah pucat dan dengan mata terbelalak memandang lima orang teman mereka
yang telah tewas.
"Cuat-cuat-cuat...!"
Dari ujung payung itu meluncur sinar-sinar hitam dan berturut-turut,
enam orang dusun yang masih hidup menjerit dan roboh tak bergerak lagi, leher
mereka ditembusi jarum-jarum hitam yang meluncur keluar dari ujung payung itu!
Sejenak Sin Liong terbelalak memandang kepada kedua orang itu yang
berdiri di sebelah kanan dan kirinya. Kemudian dia memandang ke bawah, ke arah
tubuh sebelas orang dusun yang telah menjadi mayat.
Mukanya menjadi merah, air matanya berderai dan dengan suara nyaring
dia berkata sambil menudingkan telunjuknya bergantian kepada Pat-jiu Kai-ong
dan Kiam-mo Cai-li, "Kalian ini manusia atau iblis? Kalian berdua amat
kejam, perbuatan kalian amat terkutuk. Membunuh orang-orang tak berdosa seolah
kalian pandai menghidupkan orang." Bocah itu memandang kepada sebelas
mayat dan sesenggukan menangis.
"Hi-hi-hik, Sin-tong yang baik, apakah kau takut kubunuh? Jangan
khawatir, aku datang bukan untuk membunuhmu," kata Kiam-mo Cai-li, agak
kecewa melihat betapa bocah ajaib itu menangis dan membayangkannya ketakutan.
Sin Liong mengangkat muka memandang wanita itu, biarpun air matanya
masih berderai turun namun pandang matanya sama sekali tidak membayangkan
ketakutan, "Kau mau bunuh aku atau tidak, terserah. Aku tidak takut!"
"Ha-ha-ha! Benar hebat! Sin-tong, kalau kau tidak takut kenapa
menangis?" Pat-jiu Kai-ong menegur.
"Apa kau menangisi kematian orang-orang tak berharga itu?"
Kiam-mo Cai-li menyambung.
"Mereka sudah mati mengapa ditangisi? Aku menangis menyaksikan
kekejaman yang kalian lakukan, aku menangis karena melihat kesesatan dan
kekejaman kalian."
Dua orang tokoh sesat itu terbelalak heran saling pandang kemudian
mereka teringat kembali akan niat mereka terhadap anak ajaib ini, maka keduanya
seperti dikomando saja lalu tertawa, dan keduanya dengan kecepatan kilat
menyerbu ke depan hendak menubruk Sin-Liong yang berdiri tegak dan memandang
dengan sinar mata sedikitpun tidak membayangkan rasa takut!