advertisement
Bukek Siansu Jilid 02 - Dan dia mengepal tinju, seolah-olah hendak menyerang siapa
pun yang akan menganggu bocah yang dikaguminya itu. Beberapa hari kemudian
semenjak Sin-hek-houw datang minta obat kepada Sin Liong, makin banyaklah orang
yang datang membisikkan kepada anak itu tentang geger di dunia kang-ouw tentang
dirinya. Bermacam-macam berita aneh yang didengar oleh Sin Liong tentang
ancaman dan lain-lain mengenai dirinya, namun dia sama sekali tidak ambil
peduli dan tetap saja bersikap tenang dan bekerja seperti biasa, tidak pernah
gelisah, bahkan sama sekali tidak pernah memikirkan tentang berita yang
didengarnya itu.
Beberapa pekan kemudian, pagi hari dari arah timur kaki Pegunungan Jeng-hoa-san tampak berjalan seorang kakek seorang diri, menoleh ke kanan dan kiri seolah-olah menikmati pemandangan alam di sekitar tempat itu, kakek ini usianya tentu sudah enam puluhan tahun, tubuhnya kurus kecil, pakaiannya penuh tambalan, dan wajahnya membayangkan kesabaran dan mulut yang ompong itu bahkan selalu menyungging senyum simpul keramahan. Dia melangkah perlahan-lahan memasuki hutan pertama di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, langkahnya dibantu dengan ayunan sebatang tongkat butut yang berwarna hitam, agaknya terbuat dari semacam kayu yang sudah amat tua sehingga seperti besi saja rupanya. Agaknya dia seorang pengemis tua yang hidupnya serba kekurangan namun yang dapat menyesuaikan diri sehingga tidak merasa kurang, bahkan kelihatannya gembira, menerima hidup apa adanya dan hatinya selalu senang. Buktinya ketika dia mendengar kicau burung-burung, kakek ini membuka mulutnya dan bernyanyi pula! Akan tetapi kata-kata dalam nyanyiannya itu tentu akan membuat setiap orang yang mendengarnya mengerutkan kening, karena selain aneh, juga menyimpang dari ajaran kebatinan umumnya!
"Apa artinya hidup kalau hati tak senang? Apa artinya
hidup Kalau segala keinginan tak terpenuhi? Puluhan tahun mempelajari ilmu.
Bekal memenuhi segala kehendak. Berenang dalam lautan kesenangan. Matipun tidak
penasaran!"
Berkali-kali pengemis ini bernyanyi dengan kata-kata yang
itu-itu juga, suaranya halus dan cukup merdu dan sambil bernyanyi dia mengatur
irama lagu dengan ketukan tongkatnya di atas tanah lunak atau kebetulan
mengenai batu yang keras, ujung tongkat itu tentu membuat lubang. Kedua kakinya
yang bersepatu butut itu sendiri tidak meninggalkan jejak seolah-olah dia tidak
menginjak tanah akan tetapi tongkat itu membuat jejak jelas karena setiap kali
melubangi tanah maupun batu. Adapun kaki itu sendiri, biarpun menginjak tanah
basah, sama sekali tidak meninggalkan bekas.
Beberapa menit kemudian setelah kakek aneh ini lewat, tampak
berkelebat bayangan orang, juga datang dari arah timur melalui kaki bukit itu.
Mereka itu terdiri dari 12 orang laki-laki dari usia tiga puluh sampai empat
puluh tahun, dan seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, berwajah manis
dan bertubuh bagus dengan pinggang ramping. 12 orang laki-laki itu kesemuanya
kelihatan gagah dan pakaian mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah
ahli-ahli silat, sedangkan gerakan mereka yang ringan cekatan membuktikan bahwa
mereka bukanlah sembarangan orang kang-ouw melainkan rombongan orang gagah yang
berilmu. Hal ini memang tidak salah, karena mereka itulah yang terkenal dengan
julukan Cap-sa-sin-hiap (13 Pendekar Sakti) murid-murid utama dari Partai Besar
Bu-tong-pai!
"Tahan dulu, para suheng!" Tiba-tiba wanita cantik
itu mengangkat tangannya ke atas dan memperingatkan para suhengnya, kemudian
dia menuding ke bawah dan berkata,
"Lihat ini....!"
Tiga Belas orang ini memperhatikan bekas tusukan tongkat
pengemis tadi yang jaraknya teratur dan biarpun tiba di atas batu, tetap saja
tampak batu itu berlubang.
"Siapa lagi kalau bukan dia?" kata gadis itu
dengan alis berkerut.
"Tenaga tusukan tongkat yang hebat" kata seorang.
"Dan jejak kakinya tidak tampak, tak salah lagi,
Pat-jiu Kai-ong (Raja Pengemis Berlengan Delapan), tentu telah lewat disini,
dan baru saja. Hayo cepat kita mengejarnya! Jangan sampai dia mendahului kita
memasuki Hutan Seribu Bunga!" kata orang tertua di antara mereka, seorang
berusia empat puluh tahun yang bermuka seperti harimau.
Karena kini merasa yakin bahwa jejak lubang-lubang itu tentu
terbuat oleh tongkat Pat-jiu kai-ong, maka tiga belas orang tokoh Bu-tong-pai
itu mencabut senjata masing-masing dan tampaklah berkilaunya senjata tajam itu
meluncur ke depan ketika tiga belas orang itu mengerahkan ginkang mereka dan
menggunakan ilmu berlari cepat melakukan pengejaran ke depan, ke arah jejak
berlubang itu. Tak lama kemudian terdengarlah oleh mereka bunyi nyanyian kakek
pengemis tadi. Tiga belas orang ini memperlambat larinya dan satu-satunya
wanita diantara mereka mengomel lirih,
"Hemm, dasar manusia iblis. Selama hidupnya mengejar
kesenangan dan demi kesenangan dia tidak segan melakukan hal-hal terkutuk yang
kejamnya melebihi iblis sendiri!"
"Sssssttt, Sumoi, terhadap orang seperti dia kita harus
berhati-hati. Semenjak dahulu, Bu-tong-pai tidak pernah bermusuhan dengan tokoh
kang-ouw yang manapun juga, tidak pula mencampuri urusan mereka. Maka biarlah
nanti kita bertanya dia secara baik-baik dan kalau tidak terpaksa sekali lebih
baik kita menghindarkan pertempuran." Kata twa-su-heng (kakak seperguruan
tertua) mereka.
Semua sutenya mengangguk, akan tetapi sumoinya mengomel,
"Siapakah yang takut kepadanya?" Dia melintangkan pedangnya.
Memang nona yang bernama The Kwat Lin ini, terkenal berhati
keras dan pemberani dan memang ilmu pedangnya hebat maka tidaklah mengherankan
apabila dia terhitung seorang di antara Cap-sha Sin-hiap yang terkenal di dunia
kang-ouw.
"Sumoi, kita harus mentaati perintah Suhu, agar tidak
membawa Bu-tong-pai menanam bibit permusuhan dengan golongan lain, baik kaum
bersih maupun kaum sesat. Karena itu, dalam pertemuan ini, serahkan saja
kepadaku untuk mewakili kalian semua!" Karena maklum bahwa dia tidak boleh
melanggar perintah gurunya dan bahwa twa-suheng ini selain paling lihai juga
merupakan seorang yang mewakili Suhu mereka, Kwat Lin mengangguk biarpun
bibirnya yang merah tetap cemberut tidak puas.
Dia merasa tidak puas melihat sikap jerih yang diperlihatkan
para suhengnya. Cap-sha Sin-hiap mempunyai nama besar di dunia kang-ouw,
disegani kawan ditakuti lawan, masa sekarang berhadapan dengan seorang tokoh
sesat saja kelihatan gentar? Suara nyanyian itu makin keras, tanda bahwa jarak
di antara mereka dengan kakek itu makin dekat. Dengan ilmu meringankan tubuh
yang hampir sempurna, tiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu dapat menyusul
dan berkelebatlah tubuh mereka, dari kanan kiri dan atas, tahu-tahu mereka
telah berdiri menghadap di depan kakek pengemis dengan sikap keren dan gagah
sekali.
Kakek pengemis itu masih melanjutkan nyanyiannya sambil
berdiri memandang, dan ketika pandang matanya bertemu dengan wajah Kwat Lin,
dia tidak menyembunyikan kekagumannya.
Setelah nyanyiannya berhenti, barulah dia tersenyum dan
berkata, "Eh-eh, apakah kalian ini serombongan pemain akrobat yang hendak
menjual kepandaian? Aku seorang pengemis tidak mempunyai uang untuk membayar
upah kalian!"
"Harap Locianpwe tidak berpura-pura lagi. Kami tahu
bahwa Locianpwe adalah Pat-jiu Kai-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Delapan
Lengan) yang terhormat. Locianpwe adalah tokoh terkenal yang berjuluk Pat-jiu
Kai-ong, bukan?"
Kakek yang mukanya kelihatan sabar dan baik hati itu
tersenyum, senyumnya juga simpatik dan ramah.
Tiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu yang hanya baru
mengenal nama kakek sakti kaum sesat ini, diam-diam merasa heran bahkan sangsi
apakah benar mereka berhadapan dengan Pat-jiu Kai-ong yang kabarnya kejamnya
seperti iblis, karena kakek ini kelihatan halus tutur sapanya dan begitu ramah!
"Ha..ha..ha, sungguh sukar jaman sekarang ini untuk
bersembunyi dan menyembunyikan diri. Orang-orang muda sekarang amat tajam
penciumannya dan penglihatannya, biarpun belum pernah jumpa sudah mengenal
orang. Orang-orang muda yang gagah dan cantik," dia memandang Kwat Lin
lagi dengan kagum, "Tidak keliru dugaan kalian aku adalah Pat-jiu Kai-ong,
seorang pengemis tua yang hanya memiliki sebatang tongkat butut ini. Tidak tahu
siapakah kalian dan perlu apa kalian menghadang perjalananku?"
"Kami adalah Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai!"
kata Kwat Lin dan karena sudah terlanjur, maka percuma saja twa-suhengnya
mencegahnya dengan pandang matanya.
"Benar, kami adalah murid-murid Bu-tong-pai,
Locianpwe," kata Twa-suheng itu dengan hati tidak enak karena sumoinya
yang lancang itu ternyata telah membuka kartu dan mengaku bahwa mereka dari
Bu-tong-pai, berarti membawa-bawa nama perkumpulan mereka.
"Ha..ha..ha, bagus. Memang Bu-tong-pai mempunyai banyak
murid pandai, gagah dan cantik sepanjang kabar yang kudengar. Akan tetapi kalau
tidak salah, aku tidak pernah berurusan dengan Bu-tong-pai."
Melihat sikap kakek itu masih ramah dan kata-katanya juga halus
dan tidak bermusuhan, twa-suheng itu menjadi makin tidak enak. Akan tetapi
karena dia maklum orang macam apa adanya kakek di depannya ini, dan betapa
Sin-tong yang mereka dengar merupakan seorang anak ajaib yang luar biasa dan
sudah menolong manusia dengan pengetahuan yang tepat mengenai khasiat
tetumbuhan yang mengandung obat, maka tetap saja dia merasa khawatir akan
keselamatan Sin-tong itu kalau sampai kakek datuk sesat ini bertemu dengan anak
itu.
"Apa yang Locianpwe katakan memang benar. Di antara
Locianpwe dengan Bu-tong-pai tidak pernah ada urusan. Dan sekali ini, kami
orang-orang muda dari Bu-tong-pai juga tidak berniat untuk menganggu Locianpwe
yang terhormat. Hanya kami mendengar berita bahwa diantara banyak tokoh
kang-ouw, Locianpwe juga berminat kepada anak kecil budiman yang terkenal
dengan sebutan Sin-tong dan yang berdiam di dalam Hutan Seribu Bunga. Benarkah
ini, dan apakah Locianpwe sekarang sedang menuju ke hutan itu?" Mulai
berubah wajah kakek itu mendengar ucapan ini, senyumnya masih ada akan tetapi
sepasang matanya yang tadinya berseri gembira itu kehilangan cahaya
kegembiraannya dan berubah dengan sinar kilat yang mengejutkan mereka semua.
"Hemmm, orang-orang muda yang lancang. Kalau benar aku
hendak pergi mengunjungi Sin-tong, kalian mau apakah?"
Tiga belas orang anak murid Bu-tong-pai itu sudah dapat
"mencium" keadaan yang membuat mereka semua siap siaga. Mereka
melihat bahwa kakek yang kelihatannya halus budi itu dan ramah ini mulai
memperlihatkan "tanduknya" atau watak sesungguhnya.
"Locianpwe, kalau benar demikian, kami hanya mohon
kepada Locianpwe agar tidak mengganggu Sin-tong."
"Apamukah bocah itu?"
"Bukan apa-apa, Locianpwe. Namun mendengar betapa anak
ajaib itu telah banyak menolong orang tanpa pandang bulu tanpa pamrih, maka
sudahlah menjadi kewajiban semua orang gagah di dunia kang-ouw untuk menjaga
keselamatannya."
Makin nampak perubahan hebat pada diri kakek itu. Kini
senyumnya bahkan lenyap dan mulutnya menyeringai penuh sikap mengejek, matanya
berkilat-kilat dan suaranya berubah kaku, ketus dan memandang rendah.
"Anak-anak kurang ajar! Apakah Si Tua Bangka Kui Bho
Sanjin yang mengutus kalian?"
"Guru kami tidak tahu-menahu tentang ini. Kami
kebetulan berada di daerah ini dan mendengar akan Sin-tong yang terancam bahaya,
maka kami melihat Locianpwe lalu sengaja hendak bertanya. Tentu saja kalau
Locianpwe tidak menghendaki Sin-tong, kami pun sama sekali tidak kurang ajar
dan kami mohon maaf sebanyaknya."
"Aku memang menuju ke Hutan Seribu Bunga. Mengapa
kalian menyangka bahwa aku akan mencelakai Sin-tong?"
Tiga belas pendekar Bu-tong-pai itu makin tegang. Kakek ini
sudah mulai berterus terang, maka tiada salahnya kalau mereka bersikap waspada
dan berterus terang pula.
"Siapa yang tidak mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong
sedang menyempurnakan ilmu iblis yang disebut Hiat-ciang-hoat-sut (Ilmu Hitam
Tangan Darah)?" Tiba-tiba Kwat Lin berseru sambil menudingkan telunjuk
kirinya ke arah muka kakek itu.
Para suhengnya terkejut, akan tetapi ucapan telah terlanjur
dikeluarkan dan memang dalam hati mereka terkandung tuduhan ini. Ilmu
Hiat-ciang hoat-sut adalah semacam ilmu hitam yang hanya dapat dipelajari oleh
kaum sesat karena ilmu ini membutuhkan syarat yang amat keji, yaitu menghimpun
kekuatan hitam dengan jalan menghisap dan minum darah otak dan sumsum anak-anak
yang masih bersih darahnya! Tentu saja bagi seorang yang sedang menyempurnakan
ilmu iblis ini, Sin-tong mempunyai daya tarik yang luar biasa, karena darah,
otak dan sumsum seorang bocah seperti Sin-tong yang ajaib, lebih berharga dari
darah, otak dan sumsum puluhan orang bocah biasa lainnya!.
Tiba-tiba kakek itu tertawa lebar, "Hah-hah-hah-hah,
memang benar! Dan satu-satunya bocah yang akan menyempurnakan ilmuku itu adalah
Sin-tong! Dan aku bukan hanya suka minum dan menghisap darah, otak dan sumsum
bocah yang bersih, juga aku bukannya tidak suka bersenang-senang dengan perawan
cantik seperti engkau, Nona!"
"Singggg! Singggg...!"
Tampak sinar-sinar berkilauan ketika pedang yang tiga belas
buah banyaknya itu bergerak secara berbarengan dan tiga belas orang pendekar
itu telah mengurung si Kakek yang masih tertawa-tawa.
"Heh-heh, kalian mau coba-coba main-main dengan Pat-jiu
Kai-ong? Sayang kalian masih muda-muda harus mati, kecuali Nona manis.
Andaikata Si Tua Bangka Kui Bhok Sanjin berada disini sekalipun, dia juga tentu
akan mampus kalau berani menentang Pat-jiu Kai-ong!"
"Serbu dan basmi iblis ini!" Twa-suheng itu
berteriak dan mereka sudah menerjang maju dengan bermacam gerakan yang cepat
dan dahsyat.
Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara pekik yang dahsyat,
pekik yang disusul dengan suara tertawa menyeramkan. Suara ketawa ini bergema
di seluruh hutan, sehingga terdengar suara ketawa menjawabnya dari semua
penjuru, seolah-olah semua setan dan iblis penjaga hutan telah datang oleh
panggilan kakek itu. Hebatnya, suara pekik dan tertawa itu membuat tiga belas
orang pendekar itu seketika seperti berubah menjadi arca, gerakan mereka
terhenti dan untuk beberapa detik mereka hanya bengong memandang kakek itu dan
jantung mereka seolah-olah berhenti berdenyut.
Twa-suheng mereka yang bermuka gagah perkasa itu segera
berseru, "Awas. Saicu-hokang (Ilmu menggereng seperti singa berdasarkan
khikang)!"
Seruan ini menyadarkan para sutenya dan sumoinya. Mereka
cepat mengerahkan sinkang sehingga pengaruh Saicu-hokang itu membuyar. Pedang
mereka melanjutkan gerakannya.
"Sing-sing.... siuuuut....
trang-trang-trang..Heh-heh-heh!"
Gulungan sinar pedang-pedang yang menyambar ke arah tubuh
kakek dari berbagai jurusan, dapat ditangkis oleh gulungan sinar tongkat hitam
yang telah diputar dengan cepatnya oleh Pat-jiu kai-ong. Para pendekar
Bu-tong-pai itu terkejut ketika merasakan betapa telapak tangan mereka menjadi
panas dan nyeri setiap kali pedang mereka tertangkis tongkat. Hal ini
menandakan bahwa Si kakek benar-benar amat lihai dan memiliki tenaga sakti yang
amat kuat. Juga tongkatnya yang kelihatan butut dan hitam itu ternyata terbuat
dari logam pilihan sehingga mampu menahan ketajaman pedang di tangan mereka,
padahal semua pedang di tangan Cap-sha Sin-hiap adalah pedang-pedang pusaka
yang ampuh.
"Ha..ha..ha, inikah Ngo-heng-kiam (Ilmu Pedang Lima
Unsur) dari Bu-tong-pai yang terkenal? Ha..ha, tidak seberapa!" Sambil
menggerakan tongkatnya menangkis setiap sinar pedang yang meluncur datang,
kakek itu tertawa dan mengejek.
"Bentuk Sin-kiam-tin (Barisan Pedang Sakti)!"
Teriak si Twa-suheng melihat betapa kakek itu benar-benar amat tangguh sehingga
semua serangan pedang mereka dapat ditangkis dengan mudahnya.
Tiba-tiba tiga belas orang pendekar itu merobah gerakan
mereka, kini mereka tidak lagi menyerang dari kedudukan tertentu, melainkan
mereka bergerak mengurung dan mengelilingi kakek itu, sambil bergerak
berkeliling mereka menyusun serangan berantai yang susul menyusul dan yang
datangnya dari arah yang tidak tertentu. Diam-diam kakek itu terkejut. Sejenak
dia menjadi bingung. Kalau tadi mereka itu menyerangnya dari kedudukan
tertentu, biarpun gerakan mereka tadi berdasarkan Ngo-heng-kiam, namun dia
sudah dapat mengenal dasar Ngo-heng-kiam dan dapat menggerakan tongkat secara
otomatis untuk menangkis semua pedang yang datang menyambar. Akan tetapi
sekarang, sukar sekali menentukan dari mana serangan akan datang, dan gerakan
mengelilinginya itu benar-benar mendatangkan rasa pusing. Marahlah Pat-jiu
Kai-ong. Tadi dia ingin mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai dan memperhatikan
para pengeroyoknya sebelum membunuh mereka. Akan tetapi setelah mereka
menggunakan Sin-kiam-tin dia tahu bahwa kalau dia tidak cepat mendahului
mereka, dia bisa terancam bahaya. Tidak disangkanya bahwa Si Tua Bangka Kui
Bhok San-jin, ketua dari Bu-tong-pai dapat menciptakan barisan pedang yang
demikian lihainya. Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri kakek ini. Tangan
kirinya berubah menjadi merah sekali, merah darah!
"Hati-hati terhadap Hiat-ciang Hoat-sut!" Si
Twa-suheng berseru keras ketika melihat perubahan warna tangan kiri kakek itu.
Pat-jiu Kai-ong tiba-tiba mengeluarkan pekik yang amat
dahsyat, lebih dahsyat daripada tadi dan tubuhnya mendadak membalik, tongkatnya
menyambar dibarengi tangan kiri merah itu mendorong ke depan.
"Prak-prak...dessss!"
Tiga orang pengeroyok menjerit dan roboh, dua orang dengan
kepala pecah oleh tongkat, sedangkan seorang lagi terkena pukulan jarak jauh
Hiat-ciang Hoat-sut, roboh dan tewas seketika dengan dadanya tampak ada bekas
lima jari merah seperti terbakar, bahkan bajunya robek dan hangus.
Itulah Hiat-ciang Hoat-sut, pukulan maut yang mengerikan.
Padahal ilmu itu masih belum sempurna, dapat dibayangkan betapa hebatnya kalau
kakek ini berhasil menghisap darah, otak dan sumsum seorang bocah ajaib seperti
Sin-tong!.
Sepuluh orang pendekar Bu-tong-pai terkejut dan marah
sekali. Mereka melanjutkan serangan dengan penuh semangat dan penuh dendam.
Namun kembali Pat-jiu Kai-ong memekik dahsyat sambil bergerak menyerang, dan
kembali tiga orang lawan roboh dan tewas. Serangan ini diulanginya terus, tidak
memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya untuk membebaskan diri. Empat kali
terdengar dia memekik dahsyat seperti itu dan akibatnya, dua belas orang
diantara Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai itu tewas semua, tewas dalam keadaan
masih mengurungnya dan yang masih hidup tinggal The Kwat Lin seorang! Hal ini
memang disengaja oleh Pat-jiu Kai-ong dan kini sambil tersenyum mengejek dia
menghadapi Kwat Lin. Dapat dibayangkan betapa perasaan dara itu melihat dua
belas orang suhengnya telah tewas semua! Dua belas orang suhengnya yang selama
ini berjuang sehidup semati dengannya, kini telah menjadi mayat yang
bergelimpangan di sekelilingnya, seolah-olah mayat dua belas orang itu
mengurung dia dan Pat-jiu Kai-ong yang berdiri tersenyum di depannya.
"Iblis busuk, aku akan mengadu nyawa denganmu!"
Kwat Lin berseru mengandung isak tertahan.
"Haiiiit.....!" tubuhnya melayang ke depan,
pedangnya ditusukkan ke arah dada lawan dengan kebencian meluap-luap. Namun
dengan gerakan seenaknya kakek itu memukulkan tongkatnya dari samping
menghantam pedang yang menusuknya.
"Krekkk!" Pedang itu patah dan gagangnya terlepas
dari pegangan Kwat Lin!
Dara itu membelalakan matanya dan melihat pandang mata kakek
itu kepadanya, melihat senyum yang baginya amat mengerikan itu, tiba-tiba dia
membalikan tubuhnya dan melayang ke arah sebatang pohon besar, dengan niat
untuk membenturkan kepalanya pecah pada batang pohon itu!
Kwat Lin melihat ancaman bahaya yang lebih mengerikan
daripada maut sendiri, maka setelah yakin bahwa dia tidak akan mampu
mengalahkan lawannya, dia mengambil keputusan nekat untuk membunuh diri dengan
membenturkan kepalanya pada batang pohon.
"Bukkkkkk!" Bukan batang pohon yang dibentur
kepalanya, melainkan perut lunak dan tubuhnya berada dalam pelukan Pat-jiu
Kai-ong yang entah kapan telah berada di situ menghadangnya di depan pohon!
"Lepaskan aku!!" Kwat Lin berteriak dan tubuhnya
tiba-tiba dilontarkan oleh kakek itu, jauh kembali ke dalam lingkaran
mayat-mayat suhengnya.
Dengan langkah gontai, kakek itu tersenyum-senyum memasuki
lingkaran dan melangkahi mayat bekas para penggeroyoknya, menghampiri Kwat Lin
yang sudah bangkit duduk dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dia telah
tersudut seperti seekor kelinci muda ketakutan menghadapi seekor harimau yang
siap menerkamnya. Perasaan ngeri yang luar biasa membuat Kwat Lin cepat
menggerakan tangan kanannya, dengan dua buah jari tangan dia menusuk ke arah
ubun-ubun kepalanya sendiri sambil mengerahkan sinkang. Batu karang saja akan
berlubang terkena tusukan jari tangannya seperti itu apa lagi ubun-ubun
kepalanya.
"Plakkk!"
"Aihhh....!" Kwat Lin menjerit ketika tangannya
itu tertangkis dan setengah lumpuh. Ternyata kakek itu telah berdiri di
depannya dan telah mencegah dia membunuh diri!
"Bretttt...bretttt....!" Tongkat kakek itu
bergerak beberapa kali dan seperti disulap saja seluruh pakaian yang membungkus
tubuh Kwat Lin cabik-cabik dan cerai-berai, membuatnya menjadi telanjang bulat
sama sekali!
Kwat Lin menjerit akan tetapi tiba-tiba, seperti seekor
kucing menerkam tikus, sambil mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, kakek itu
telah menubruk dan memeluknya sehingga mereka berdua bergulingan diatas rumput
yang bernoda darah para korban keganasan kakek itu!
Kwat Lin melawan sekuat tenaga, namun sia-sia belaka. Untuk
membunuh diri tidak ada jalan baginya, untuk melawan pun percuma, bahkan semua
jeritan tangis dan permohonan, semua usahanya meronta-ronta tiada gunanya sama
sekali. Bahkan semua usaha ini malah menyenangkan hati si Kakek. Seolah-olah
seekor kucing yang menjadi gembira dapat mempermainkan seekor tikus yang telah
tersudut dan tidak berdaya, mempermainkannya dan melihatnya tersiksa dan
meronta sebelum menjadi mangsanya! Selama tiga hari tiga malam Kwat Lin
menderita siksaan yang amat hebat.
Diperkosa, dihina, diejek. Pada hari ketiga, pagi-pagi
sekali dalam keadaan lebih banyak yang mati daripada yang hidup, dalam keadaan
setengah sadar, rebah terlentang tak mampu bergerak, hanya matanya saja yang
mendelik memandang kakek itu.
Kwat Lin melihat kakek itu mengenakan pakaian, menyambar
tongkatnya dan tertawa memandang kepadanya yang masih rebah terlentang dalam
keadaan telanjang bulat di atas rumput berdarah.
"Ha-ha-ha, sekarang aku pergi, manis. Aku telah puas,
dan kalau kau mau membunuh diri, silahkan. Ha-ha-ha!"
Biarpun Kwat Lin berada dalam keadaan menderita hebat,
kehabisan tenaga, hampir mati karena lelah, muak, jijik, malu, marah dan dendam
tercampur aduk menjadi satu dalam benaknya, namun kebencian yang meluap-luap
masih memberinya tenaga untuk berseru,
"Jahanam, sekarang aku harus hidup! Aku harus hidup
untuk melihat engkau mampus di tanganku!"
"Ha..ha..ha..ha! Kalau sewaktu-waktu kau merasa rindu
kepadaku, manis, datang saja ke Hong-san, sampai jumpa!"
Kakek itu lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu
meninggalkan Kwat Lin yang masih rebah dan kini wanita yang bernasib malang ini
menangis sesenggukan diantara mayat-mayat dua belas suhengnya yang sudah mulai
membusuk dan berbau! Dapat dibayangkan betapa tersiksa rasa badan wanita muda
ini.
Dia dipaksa, diperkosa, dihina di antara mayat-mayat dua
belas suhengnya, bahkan sewaktu keadaan mayat-mayat itu mulai membusuk dan
menyiarkan bau yang hampir tak tertahankan, kakek itu masih saja enak-enak
mempermainkannya. Benar-benar seorang manusia yang kejam melebihi iblis
sendiri.