advertisement
Bukek Siansu Jilid 05 - "Bangsat kecil, engkau siapakah berani
mencampuri urusan kami dan memaki kami?" bentak Pat-jiu Kai-ong sambil
mengusap pundaknya yang berdarah.
"Apa kau memiliki kepandaian maka berani mencela kami, tikus
kecil?" bentak pula Thian-he Te-it yang masih ngilu rasa pahanya, dan
untung bahwa pahanya itu tidak patah tulangnya.
Laki-laki itu melangkah maju menghampiri mereka dengan langkah tegap
dan sikap sama sekali tidak takut, bahkan wajahnya itu berseri-seri memandang
mereka seorang demi seorang. Kemudian, setelah berada di tengah-tengah sehingga
terkurung, dia berkata, "Tadinya aku hanya mendengar bahwa ada seorang
anak baik terancam oleh perebutan orang-orang pandai di dunia kang-ouw. Ketika
tiba disini dan melihat lagak kalian, mau tidak mau aku masuk dan hatiku memang
penasaran menyaksikan gerakan kalian yang sungguh-sungguh masih mentah. Ilmu tongkat
dia itu tentu Pat-mo-tung-hoat yang berdasarkan Ilmu Pedang
Pat-mo-kiam-hoat," katanya sambil menuding ke arah Pat-jiu Kai-ong.
Raja pengemis itu terkejut sekali melihat orang mengenal ilmu
tongkatnya, padahal tadi mereka bertujuh bertanding dengan kecepatan luar
biasa, bagaimana orang ini dapat mengenal ilmu tongkatnya?
"Dan ilmu tongkat dia itu lebih lucu dan kacau lagi, meniru
gerakan Kauw Cee Thian Si Raja Monyet, akan tetapi kaku dan mentah, tidak
pantas menjadi gerakan Raja Monyet, pantasnya menjadi gerakan Raja Tikus!"
Dia menuding arah Thian-tok.
"Brakkk!!" Batu besar yang berada di samping Thian-tok hancur
berantakan karena dipukul oleh tongkatnya. Dia marah sekali mendengar ucapan
yang dianggapnya menghina itu.
"Manusia lancang, berani kau menghina Thian-tok?" bentaknya
dan tongkatnya sudah diputar hendak menyerang.
Akan tetapi orang itu membentak, "Berhenti!" Dan aneh,
suaranya demikian berwibawa sehingga Thian-tok sendiri sampai tergetar dan
menghentikan gerakan tongkatnya.
"Aku melihat kalian masing-masing memiliki kepandaian khusus namun
masih mentah semua. Aku tidak membohong dan kalau tidak percaya, marilah kalian
maju seorang demi seorang, akan kuperlihatkan kementahan ilmu silat kalian yang
kalian pergunakan dalam pertandingan kacau balau tadi. Hayo siapa yang maju
lebih dulu, akan kulayani dengan ilmu silat kalian sendiri!"
Ucapan ini lebih mendatangkan rasa heran dan tidak percaya daripada
kemarahan, maka Pat-jiu Kai-ong melupakan pundaknya yang terluka, cepat dia
sudah meloncat ke depan, melintangkan tongkatnya di depan dada sambil berseru,
"Nah, coba kau buktikan kementahan ilmu tongkatku!"
Setelah berkata demikian, Raja Pengemis ini menyerang, menggunakan
tongkatnya untuk menusuk, kemudian gerakan ini dilanjutkan dengan memutar
tongkat ke atas menghantam kepala. Memang gerakan tongkatnya adalah gerakan
pedang, dia ambil dari Ilmu Pedang Pa-mo-kiam-hoat. Hal ini adalah rahasianya,
maka dia heran sekali mendengar orang tampan gagah itu mengenal ilmu tongkatnya
dan sekaligus membuka rahasianya. Enam orang tokoh yang lain adalah orang-orang
yang telah terkenal, maka mereka menahan kemarahan dan menonton untuk melihat
apakah orang yang tidak terkenal ini benar-benar memiliki kepandaian aneh dan
apakah benar-benar selihai mulutnya yang amat sombong itu. Serangan Pat-jiu
Kiam-ong itu tidak ditangkis, akan tetapi tubuh orang itu tiba-tiba saja
lenyap! Semua orang kaget dan bengong melihat betapa tubuh orang itu tahu-tahu
telah melayang turun dari atas pohon, di tangannya terdapat sebatang cabang
pohon, yang daunnya telah dibersihkan. Demikian cepatnya dia tadi meloncat
sehingga tidak tampak, dan entah bagaimana cepatnya tahu-tahu dia telah
membikin sebatang tongkat yang ukurannya sama dengan tongkat yang dipegang
Pat-jiu Kai-ong. Begitu dia turun, Pat-jiu Kai-ong telah menyerangnya dengan
kemarahan meluap.
"Nah, lihatlah. Bukankah ini Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan
Iblis) yang kau rubah menjadi Pat-mo-tung-hoat?"
Dan orang itu pun kini mengimbangi permainan ilmu tongkat Pat-jiu
Kai-ong dengan gerakan yang sama! Jurus demi jurus dimainkan orang itu untuk
menangkis dan balas menyerang, namun bedanya, serangannya jauh lebih cepat dan
lebih kuat tenaga sinkang yang menggerakkan tongkat itu! Tokoh-tokoh lain hanya
menduga-duga, mengira orang baru itu meniru gerakan Pat-jiu Kai-ong, akan
tetapi Raja Pengemis ini sendiri mengenal gerakan orang itu yang bukan lain
adalah ilmu tongkatnya sendiri yang digubahnya sendiri! Dia menjadi bingung dan
heran, apalagi serangan orang itu cepatnya melebihi kilat dan dalam belasan
jurus saja, tiba-tiba terdengar suara keras, tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong
patah dan si Raja Pengemis ini sendiri terpelanting dan mukanya pucat sekali
karena tadi ujung tongkat lawannya telah menyambar dahinya tepat diantara mata
dan kalau dikehendakinya, tentu dia telah tewas, akan tetapi orang aneh itu
hanya mengguratnya saja sehingga kulit di bagian itu robek dan berdarah.
Tahulah dia bahwa dia telah berhadapan dengan seorang yang memiliki
ilmu kepandaian yang jauh melampuinya, tahu pula bahwa nyawanya diampuni maka
tanpa banyak cakap dia lalu mundur dan berdiri dengan muka pucat dan mulut
berbisik, "Aku mengaku kalah!"
Tentu saja hal ini mengejutkan enam orang tokoh yang lain! Mereka tadi,
dalam pertandingan kacau balau, telah beradu senjata dengan Si Raja Pengemis,
dan mereka maklum bahwa selain ilmu tongkatnya amat lihai, juga tongkat itu
sendiri merupakan senjata pusaka yang kuat menangkis senjata tajam, di samping
tenaga sinkang si Kakek Jembel yang amat kuat. Namun, dalam belasan jurus saja
kakek jembel itu mengaku kalah, tongkatnya patah dan diantara alisnya terluka,
sedangkan tadinya mereka mengira bahwa orang yang baru datang itu hanya
meniru-niru ilmu silat Pat-jiu Kai-ong!
"Si Jembel tua bangka memang tolol!"
Tiba-tiba Thian-he Te-it Ciang Ham meloncat ke depan, tombaknya
melintang di tangannya, sedangkan tangan kirinya dikepal, tangan kiri yang
mengandung tenaga mukjijat dan terkenal dengan sebutan Kang-jiu (Lengan Baja)
yang kuat menangkis senjata tajam! Orang itu tersenyum sabar.
"Hemm, jadi tadi adalah Pat-jiu Kai-ong, ketua Pat-jiu Kai-pang
yang terkenal? Heran ilmunya masih serendah itu sudah berani malang melintang
di Heng-san. Dan kau ini siapakah? Ginkangmu cukup lumayan akan tetapi
permainan tombakmu belum patut disebut Sin-jio (Tombak Sakti), dan pukulan itu,
tentu yang dinamakan Lengan Baja, sayangnya tidak cocok dengan sebutannya
karena terlalu lemah, hemm, terlalu lemah...!"
Muka Ciang Ham menjadi merah sekali saking marahnya. Sudah menjadi
kebiasaannya kalau dia lagi marah, matanya mendelik dan kumisnya yang jarang
itu bergoyang-goyang menurutkan bibir atasnya yang tergetar!
"Si keparat sombong! Tahukah engkau dengan siapa engkau
berhadapan? Aku adalah Thian-he Te-it (Nomor Satu Sedunia) ketua dari
Kang-jiu-pang di Secuan! Bersiaplah untuk mampus di tanganku!"
Kembali orang itu meloncat ke atas, kini semua orang yang sudah
memperhatikan seluruh gerak-geriknya melihat bahwa orang itu benar-benar
memiliki ginkang yang sukar dipercaya. Hanya dengan mengenjot ujung kaki,
tubuhnya melesat dengan kecepatan yang luar biasa sekali, lenyap ke dalam pohon
besar dan tak lama kemudian sudah melayang turun membawa sebatang cabang yang
panjangnya sama dengan tombak di tangan Ciang Ham, bahkan ujungnya juga sudah
diruncingkan, entah bagaimana caranya!
"Nah, coba mainkan ilmu tombakmu dan pukulan Lengan Bajamu yang
masih mentah itu."
Thian-he Te-it Ciang Ham bukan main marahnya. Sambil mengeluarkan
gerengan keras dia menerjang, tombaknya bergerak dahsyat sehingga mata tombak
berubah menjadi belasan banyaknya, semua mata tombak itu seolah-olah menyerang
bagian-bagian tertentu dari lawannya! Namun orang itu pun menggerakkan tombak
cabang pohon dengan gerakan yang sama, bahkan mata "tombaknya"
berubah menjadi dua puluh lebih, membentuk bayangan tombak yang menyilaukan
mata dan terjadilah pertandingan tombak yang amat aneh karena gerakan mereka
sama.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian-he Te-it Ciang Ham. Ilmu
tombak itu adalah ciptaannya sendiri dan selama ini belum pernah diajarkan
kepada siapapun juga, merupakan kepandaian khasnya yang ampuh. Akan tetapi
sekarang dia melihat orang ini mainkan ilmu tombaknya dengan gerakan yang lebih
cepat dan lebih kuat! Marahlah dia.
"Setan kau!" dia memaki dan kini tombaknya membuat lingkaran
besar, menyambar-nyambar diatas kepala sedangkan lengan kirinya melakukan
pukulan maut karena lengan itu seolah-olah merupakan sebuah senjata baja yang
kuat sekali.
"Bagus," orang itu berseru, tombaknya bergerak pula menyambut
tombak lawan dan terdengar suara "krekkk" ketika ujung tombak
Thian-he Te-it patah disusul bertemunya dua buah lengan.
"Desss...!" Thian-he Te-it Ciang Ham mengaduh, melemparkan
tombaknya yang patah, menggunakan tangan kanan mengurut-urut lengan kirinya.
Lengan kiri yang terkenal dengan sebutan Lengan Baja itu, yang berani
menangkis senjata tajam lawan, begitu bertemu dengan lengan lawan, berubah
menjadi seperti bambu bertemu besi. Tulangnya retak dan sakitnya bukan main!
Dia pun bukan anak kecil, seketika tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan
seorang yang tingkat kepadaiannya jauh lebih tinggi, membuat dia seolah-olah
berhadapan dengan gurunya, maka dia meloncat ke belakang, meringis dan berkata
nyaring, "Aku kalah!"
Hening sejenak. Lima orang tokoh lain terheran-heran, hampir tidak
dapat percaya akan peristiwa yang telah terjadi. Biarpun mereka mulai merasa
heran dan gentar, namun rasa penasaran membuat mereka lupa akan kenyataan bahwa
orang itu benar-benar lihai. Mereka hendak membuktikan sendiri apakah benar
orang aneh ini dapat memainkan ilmu istimewa mereka yang selama ini mengangkat
nama mereka di tempat tinggi di dunia kang-ouw.
"Hayo, siapa lagi yang ingin memamerkan ilmunya yang masih
mentah?" Orang itu sengaja menantang sambil melemparkan tombak cabang
pohon yang telah berhasil mematahkan ujung tombak pusaka di tangan Ciang Ham
tadi.
"Aku ingin mencoba!" Thian-tok sudah melompat ke depan dengan
gerakan seperti seekor kera dan tangan kirinya menggaruk-garuk pantat, tangan
kanan memegang tongkat Kim-kauw-pang itu memutar-mutar tongkatnya.
"Nanti dulu," kata orang itu.
"Yang bertombak tadi, bukankah dia yang terkenal sekali sebagai
ketua Kang-jiu-pang di Secuan? harap Pangcu (Ketua) menjaga agar anak buahmu
tidak merendahkan nama Kang-jiu-pang dengan melakukan perbuatan melanggar hukum
dan memperbaiki ilmu silatnya."
Ciang Ham tidak menjawab, hanya kumisnya bergoyang-goyang karena
marahnya.
"Dan Anda ini, apakah mempunyai kudis di pantat, ataukah memang
hendak meniru lagak seekor monyet? Kalau begitu, tentulah Anda yang berjuluk
Thian-tok, yang kabarnya menjadi pemuja Kauw Cee Thian, terkenal dengan Ilmu
Tongkat Kim-kauw-pang dan Ilmu Silat Sin-kauw-kun."
"Dugaanmu benar, akulah Thian-tok! Siapakah namamu, manusia
sombong?" Thian-tok Bhong Sek Bin membentak marah. "ataukah kau tidak
berani mengakui namamu dan bersikap sebagai seorang pengecut tukang mencuri
ilmu orang lain?"
Biarpun diserang dengan kata-kata yang menghina itu, orang ini
tersenyum saja dan menjawab, "Namaku tidak ada perlunya kau ketahui. Kalau
aku tidak mampu mengalahkan engkau dengan ilmumu sendiri, barulah aku akan
memperkenalkan diri dan boleh kau perbuat sesukamu terhadap diriku."
Thian-tok lalu mengeluarkan suara memekik nyaring seperti seekor kera
marah, akan tetapi sebelum dia menyerang laki-laki aneh itu telah menyambar
tombak cabang pohon yang tadi dilemparnya ke atas tanah. Tombak itu panjang dan
sekali dia menggerakkan jari tangannya, ujung tombak cabang yang runcing itu
telah patah dan berubahlah tombak itu menjadi sebatang tongkat yang panjangnya
sama dengan Kim-kauw-pang di tangan Thian-tok! Thian-tok sudah menerjang dengan
gerakan lincah sekali. Kim-kauw-pang ditangannya diputar-putar sedemikian rupa,
mulutnya menggeluarkan pekik-pekik dahsyat dan tubuhnya sampai lenyap
terbungkus gulungan sinar tongkat sendiri. Namun dengan enaknya orang itu pun
memutar tongkatnya, serupa benar dengan gerakan Thian-tok bahkan mulutnya juga
mengeluarkan pekik seperti monyet itu dan terjadilah pertandingan yang aneh dan
lucu, seolah-olah bukan sedang bertanding, melainkan Thian-tok sedang berlatih
silat dengan gurunya. Gerakan mereka sama, akan tetapi gerakan orang itu lebih
cepat dan lebih mantap. Kembali belum sampai dua puluh jurus terdengar suara
keras, Kim-kauw-pang di tangan Thian-tok patah-patah menjadi tiga potong dan Si
Racun Langit itu terhuyung mundur dengan muka pucat karena tulang pundaknya
hampir patah terpukul tongkat lawan! Melihat betapa bekas suhengnya kalah,
Tee-tok marah sekali. Siang-kiam di punggungnya telah dicabutnya dan tanpa
banyak cakap lagi dia telah meloncat maju.
"Keluarkan senjatamu, manusia licik! Akulah Tee-tok, hayo lawan
siang-kiam-ku ini kalau kau memang gagah!"
Orang itu menjura, "Aha, kiranya Tee-tok Siangkoan Houw yang
terkenal. Kulhat tadi ilmu pedangmu adalah pecahan dari Hui-liong-kiamsut, dan
kau pandai pula menggunakan Ilmu Silat Pek-lui-kun. Akan tetapi seperti yang
lain, gerakanmu masih mentah."
"Tak usah banyak cakap! Lawanlah ilmuku!" Bentak Tee-tok
dengan marah dan dia sudah menerjang maju.
Laki-laki itu mematahkan tongkatnya menjadi dua potong tongkat yang sama
dengan pedang-pedang di kedua tangan Tee-tok, dan begitu dia menggerakkan kedua
tangannya, tampaklah sinar-sinar bergulung dengan gerakan yang persis seperti
gerakan Tee-tok yang memutar sepasang pedangnya. Kembali terjadi pertandingan
yang hebat, seru dan aneh. Berkali-kali terdengar suara nyaring bertemunya
pedang dengan tongkat, namun anehnya, tongkat dari cabang pohon itu sama sekali
tidak dapat terbabat putus, bahkan kedua tangan Tee-tok selalu terasa panas dan
perih setiap kali pedangnya bertemu tongkat! Dengan teliti Tee-tok
memperhatikan gerakan orang dan dia terkejut. Memang benar bahwa orang itu
mainkan jurus-jurus ilmu pedangnya! Dan bukan hanya mainkan jurus ilmu
pedangnya, bahkan telah mendesaknya dengan tekanan yang hebat karena orang itu
jauh lebih lincah dan lebih kuat daripada dia.
Lewat lima belas jurus, Tee-tok berseru, "Aku mengaku kalah!"
Dia meloncat mundur, menyimpan pedangnya dan mengangkat tangan menjura ke arah
orang itu sambil berkata, "Harap kau menerima penghormatanku dengan Pek-lui-kun!"
Kelihatannya saja dia memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke
depan dada, namun dari kedua telapak tangannya itu menyambar hawa pukulan maut
yang mendatangkan hawa panas dan yang dapat membunuh lawan dari jarak tiga
empat meter tanpa tangannya menyentuh tubuh lawan! Itulah pukulan Pek-lui-kun
(Kepalan Kilat) yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat! Orang itu sudah
melempar sepasang tongkat pendeknya, sambil tersenyum dia pun menjura dengan
gerakan yang sama. Terjadilah adu tenaga yang tidak tampak oleh mata. Di tengah
udara, diantara kedua orang itu terjadi benturan tenaga dahsyat dan akibatnya
membuat Tee-tok terpental ke belakang, terhuyung dan dari mulutnya muntah darah
segar! Dia tidak terluka hebat karena tenaganya Pek-lui-kun membalik, hanya
tergetar hebat dan mukanya makin pucat.
"Engkau hebat! Aku bukan tandinganmu!" kata Tee-tok dengan
jujur, dan memandang dengan mata terbelalak penuh kagum dan juga penasaran.
"Engkau luar biasa sekali dan aku amat kagum kepadamu,
sahabat!" Gin-siauw Siucai berkata sambil melangkah maju. "Aku tahu
bahwa agaknya aku pun bukan tandinganmu, akan tetapi hatiku penasaran sebelum
melihat engkau mainkan ilmu-ilmuku yang tentu kau anggap masih mentah pula. Aku
adalah Gin-siauw Siucai dari Beng-san, senjataku adalah suling dan pensil bulu
entah kau bisa mainkannya atau tidak."
"Gin-siauw Siucai, sudah lama aku mendengar namamu yang terkenal.
Jangan khawatir, aku tentu saja dapat mainkan ilmumu. Dengan ranting pendek ini
aku meniru sulingmu, dan aku pun memiliki sebatang pensil bulu."
Orang itu memungut sebatang ranting yang panjangnya sama dengan suling
perak di tangan Gin-siauw Siucai, juga dia mencabut keluar pensil bulu yang
tadi dia pergunakan untuk mencoret-coret ketika tujuh orang tokoh sakti itu
sedang saling bertempur. Akan tetapi kalau pensil bulu di tangan Gin-siauw
Siucai adalah pensil yang dibuat khas, bukan hanya untuk menulis akan tetapi
juga dipergunakan sebagai senjata sehingga gagangnya terbuat dari baja tulen,
adalah pensil di tangan orang itu hanyalah sebatang pensil biasa saja. Berkerut
alis Gin-siauw Siucai. Orang itu dianggapnya terlalu memandang rendah
kepadanya.
Akan tetapi karena orang itu tersenyum-senyum dan meniru
menggerak-gerakkan pensil dan "suling" di tangannya, dia lalu
berkata, "Apa boleh buat, engkau sudah memperoleh kemenangan. Kalau kau
kalah, orang akan menyalahkan aku yang menggunakan senjata lebih kuat. Kalau
aku yang kalah, engkau akan menjadi makin terkenal, sungguhpun kami belum tahu
siapa kau. Nah, mulailah!"
Siucai ini cerdik dan dia sengaja menantang agar lawannya bergerak
lebih dulu. Akan tetapi orang itu tersenyum dan sambil menggerakkan kedua
senjata istimewa itu berkata, "Lihat baik-baik, Siucai. Bukankah ini jurus
terampuh dari suling dan pensilmu?"
Kedua tangan orang itu bergerak dan Gin-siauw Siucai terkejut mengenal
jurus-jurus maut dari kedua senjatanya dimainkan oleh orang itu untuk
menyerangnya! Tentu saja dia dapat memecahkan jurus ilmunya sendiri dan
berhasil menangkis kedua senjata lawan, akan tetapi seperti juga yang lain
tadi, dia merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat, tanda bahwa dalam hal
sinkang, dia masih kalah jauh. Namun, Siucai ini merasa penasaran sekali.
Puluhan tahun dia bertapa di Beng-san menciptakan ilmu-ilmu silat tinggi yang
dirahasiakan dan belum pernah diajarkan kepada siapapun juga. Bagaimana
sekarang telah dicuri oleh orang ini tanpa dia mengetahuinya? Dia melawan
mati-matian, mengeluarkan jurus-jurus paling ampuh dari kedua senjatanya, namun
karena kalah tenaga, setiap kali tertangkis dia terhuyung. Seperti juga yang
lain dia tidak mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus. Terdengar suara keras
dan kedua senjatanya itu, suling dan pensil patah-patah bertemu dengan senjata
lawan yang sederhana itu. Dia meloncat ke belakang, menjura dan berkata,
"Kepandaian Taihiap (Pendekar Besar) memang amat hebat, aku yang bodoh
mengaku kalah."
Orang itu tersenyum dan memuji "Tidak percuma julukan Gin-siauw
Siucai karena memang hebat kepandaianmu."
Ucapan itu dengan jelas menunjukkan kekaguman, bukan ejekan, maka
Gin-siauw Siucai menjadi makin kagum dan terheran-heran.
"Sekarang tiba giliran pinto untuk kau kalahkan, sahabat yang
gagah. Akan tetapi karena sepasang senjata pinto adalah hudtim dan kipas, yang
tentu saja tidak dapat kau tiru, bagaimana kalau kita bertanding dengan tangan
kosong? Hendak kulihat apakah kau mampu mengalahkan pinto dengan ilmu silat
tangan kosong pinto sendiri?"
Orang itu masih tersenyum, akan tetapi diam-diam ia terkejut. Tak
disangkanya tosu ini amat cerdik. Dia belum pernah melihat tosu ini mainkan
ilmu silat tangan kosong, bagaimana dia akan dapat menirunya? Akan tetapi
dengan tenang dia menjawab, "Tentu saja saya akan melayani kehendak Totiang,
akan tetapi sebelum bertanding, saya harap Totiang tidak keberatan untuk
memperkenalkan nama."
"Siancai...! Anda licik, sobat. Semua orang hendak dikenal
namanya, akan tetapi engkau sendiri menyembunyikan nama. Baiklah, pinto adalah
Lam-hai Seng-jin yang berkepandaian rendah..."
"Aihh, kiranya Tocu (Majikan Pulau) dari pulau kura-kura? Telah
lama mendengar nama Totiang, girang hati saya dapat bertemu dan bermain-main
sebentar dengan Totiang."
"Nah, siaplah!"
Lam-hai Seng-jin sudah memasang kuda-kuda sambil memandang tajam ke
arah lawan karena dia ingin sekali tahu apakah benar lawan ini akan dapat
menjatuhkan dia dengan ilmu silatnya sendiri! Diam-diam orang itu memperhatikan
dan tersenyum, lalu dia pun memasang kuda-kuda yang sama, kuda-kuda dari Ilmu
Silat Tangan Kosong Bian-sin-kun (Tangan Kipas Sakti), semacam ilmu silat yang
berdasarkan sinkang tinggi sekali tingkatnya sehingga telapak tangan menjadi
halus seperti kapas, namun mengandung daya pukulan maut yang dahsyat sekali.
"Hiiaaatttttt....!!"
Tosu itu sudah menerjang dengan pukulan mautnya. Tampak olehnya
lawannya mengelak cepat dengan gerakan aneh, sama sekali bukan gerakan ilmu
silatnya, akan tetapi betapa kagetnya melihat bahwa begitu mengelak lawan itu
dalam detik berikutnya sudah menerjangnya dengan jurus yang sama, jurus yang
baru saja dia pergunakan! Maklum akan hebatnya jurus ini, dia pun cepat
mengelak untuk memecahkan ilmunya sendiri, namun harus diakui bahwa elakan
orang tadi dengan gerakan aneh jauh lebih cepat dan bahkan sambil mengelak
orang itu dapat balas menyerang! Kembali Lam-hai Seng-jin menyerang dengan
jurus lain yang lebih dahsyat, dan seperti juga tadi lawannya meloncat dan
tahu-tahu telah membalasnya dengan serangan dari jurus yang sama! Tentu saja
dia dapat pula menghindarkan diri dan makin lama dia menjadi makin penasaran.
Dikeluarkan semua ilmu simpanan, jurus-jurus maut dari Bian-sin-kun sampai
delapan jurus banyaknya.
Semua jurus dapat dihindarkan orang itu dan tiba-tiba orang itu
berseru, "Totiang, jagalah serangan Ilmu Silat Bian-sin-kun!"
Dan dengan gencar kini orang itu menyerangnya dengan jurus-jurus yang
tadi sudah dikeluarkannya, delapan jurus paling ampuh dari Bian-sin-kun. Karena
gerakan orang itu cepat bukan main, Lam-hai Seng-jin sama sekali tidak
mendapatkan kesempatan untuk balas menyerang sehingga dia terancam dan terdesak
hebat oleh ilmu silatnya sendiri. Biarpun dia tahu bagaimana utnuk memecahkan
jurus-jurus serangan dari Bian-sin-kun, namun karena kalah tenaga dan kalah
cepat, akhirnya punggungnya kena ditampar dan dia terpelanting, mukanya pucat
dan dia harus cepat-cepat mengatur pernafasannya agar isi dadanya tidak
terluka.
"Siancai...engkau benar-benar seorang manusia ajaib..."
akhirnya dia berkata sambil bangkit perlahan-lahan.
"Lepaskan aku...!" tiba-tiba terdengar seruan halus dan semua
orang menengok ke arah Sin-tong dan melihat betapa anak ajaib itu telah
dipondong oleh lengan kiri Kiam-mo Cai-li.
"Hei, lepaskan dia!"
Enam orang kakek sakti maju berbareng.
"Mundur!" Kiam-mo Cai-li membentak dan menempelkan ujung
payung pedang di tangan kanan itu ke leher Sin Liong.
"Mundur kalian, kalau tidak dia akan mati!"
Melihat ancaman ini, enam orang itu terpaksa melangkah mundur semua.
Laki-laki aneh itu memandang dengan sinar mata berkilat, kemudian dia
melangkah maju dan suaranya halus namun penuh wibawa ketika dia berkata,
"Kiam-mo Cai-li, lepaskan bocah yang tidak berdosa itu!"
"Hi-hik, enak saja kau. Mundur atau dia akan mampus di ujung
payungku!" Dia menempelkan ujung payung yang runcing itu ke leher Sin
Liong yang tak mampu bergerak dalam pelukan lengan kiri yang kuat itu.
Akan tetapi, tidak seperti enam orang kakek yang lain, laki-laki itu
masih tersenyum dan masih melangkah maju, membuat Kiam-mo Cai-li mundur-mundur
dan dia berkata, "Bocah itu tidak ada hubungan apa-apa dengan aku. Kalau
kau bunuh dia, bunuhlah. Akan tetapi demi Tuhan, aku akan menangkapmu dan akan
memberikan tubuhmu kepada Beruang Es untuk menjadi makanannya!" Berkata
demikian, laki-laki itu menanggalkan jubah luarnya.
"Kau...kau..Pangeran Han Ti Ong...."
"Pangeran Han Ti Ong...!" Para tokoh kang-ouw itu berteriak.
"Pangeran Pulau Es....!" Kiam-mo Cai-li yang tadinya sudah
merasa bahwa bocah ajaib itu tentu dapat dibawanya, menjadi marah sekali.
Dia menjerit dengan lengking panjang rambutnya menyambar ke depan, ke
arah leher Pangeran Han Ti Ong, dan pedang payungnya juga meluncur dengan
serangan yang dahsyat. Laki-laki itu, yang disebut Pangeran Han Ti Ong,
tenang-tenang saja, tidak mengelak ketika ujung rambut yang tebal itu seperti
seekor ular membelit lehernya, akan tetapi ketika pedang payung berkelebat
menusuk, dia menangkap payung itu dan sekali menggerakkan tangan pedang payung
itu membabat putus rambut yang melibat lehernya. Tangannya tidak berhenti
sampai di situ saja. Selagi Kiam-mo Cai-li menjerit melihat rambut yang
dibanggakan dan andalkan itu putus setengahnya, kedua tangan Pangeran Han Ti
Ong bergerak, dan tahu-tahu tubuh Sin Liong dapat dirampasnya setelah lebih
dulu dia menampar punggung wanita iblis itu sehingga tubuh Kiam-mo Cai-li
menjadi lemas dan seperti lumpuh!
Dengan Sin Liong dalam pondongan lengan kirinya, kini Pangeran Han Ti
Ong membalik dan menghadapi tujuh orang itu, tidak mempedulikan Kiam-mo Cai-li
yang mangeluh dan merangkak bangun.
"Apakah masih ada diantara kalian yang hendak mengganggu anak ini?
Sekali ini aku tentu tidak akan bersikap halus lagi!"
"Siancai....!" Lam-hai Sian-jin menjura, "Harap Ong-ya
maafkan pinto yang tidak mengenal Ong-ya sehingga bersikap kurang ajar."
"Maafkan aku, Pangeran."
"Maafkan saya..."
Enam orang kakek itu menggumam maaf, hanya Kiam-mo Cai-li saja yang
tidak minta maaf, bahkan wanita ini berkata, "Pangeran Han Ti Ong, kau
tunggu saja, Kiam-mo Cai-li tidak biasa membiarkan orang menghina tanpa
membalas dendam!"
"Hemmm, terserah kepadamu. Aku selalu berada di Pulau Es. Nah,
pergilah kalian, orang-orang tua yang tak tahu diri, tega mengganggu seorang
bocah."
Dengan kepala menunduk, tujuh orang tokoh kang-ouw yang namanya
terkenal itu meninggalkan Hutan Seribu Bunga. Karena mereka mempergunakan
kepandaiannya, maka hanya nampak bayangan-bayangan mereka berkelebat dan
sebentar saja sudah lenyap dari tempat itu.
"Hemmm...berbahaya..." Han Ti Ong melepaskan Sin Liong dan
menghela napas panjang sambil memandang bocah itu yang sudah berlutut di
depannya.
"Locianpwe selain sakti dan budiman juga cerdik sekali..."
Sin Liong berkata memuji sambil memandang wajah Pangeran itu dengan kagum.
Han Ti Ong mengerutkan alisnya.
"Hemmm, mengapa kau mengatakan demikian, terutama apa artinya kau
mengatakan aku cerdik?"
"Locianpwe mengalahkan mereka, berarti Locianpwe sakti sekali,
Locianpwe mengampuni dan membiarkan mereka lolos, berarti Locianpwe budiman,
dan Locianpwe tadi mencatat gerakan-gerakan mereka dan kemudian mengalahkan
mereka dengan ilmu mereka sendiri yang sudah Locianpwe catat berarti Locianpwe
cerdik sekali."
Wajah yang gagah itu berubah, mata yang tajam itu memandang heran dan
kagum, kemudian dia berkata, "Wah, dalam kecerdikan, belum tentu kelak aku
dapat melawanmu! Akal dan kecerdikan memang amat perlu untuk mempertahankan
hidup di dunia yang penuh bahaya ini. Tahukah engkau bahwa tanpa menggunakan
akal budi, memanaskan hati mereka dengan mengalahkan mereka dengan ilmu mereka
sendiri, kalau mereka maju bersama mengeroyokku, belum tentu aku dapat menang! Sekarang
kau sudah bebas dari bahaya, nah, aku pergi...!" Melihat orang itu
membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari situ, Sin Liong memandang ke arah
mayat sebelas orang dusun yang masih menggeletak di situ maka dia berseru,
"Locianpwe....".
Pangeran Han Ti Ong berhenti melangkah dan menoleh. Dia merasa heran
sendiri. Tidak biasa baginya untuk mentaati perintah orang kecuali suara
ayahnya, raja ketiga dari Pulau Es.
Akan tetapi, ada sesuatu dalam suara bocah itu yang membuat dia mau
tidak mau menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan bertanya, "Ada apa
lagi?"
Dengan masih berlutut Sin Liong berkata, "Locianpwe, sudilah
kiranya Locianpwe menerima teecu sebagai murid."
Han Ti Ong kini memutar tubuh dan menghampiri anak yang masih berlutut
itu.
"Bocah, siapa namamu?"
"Teecu She Kwa, bernama Sin Liong." Dengan ringkas Sin Liong
lalu menuturkan tentang kematian ayah bundanya dan mengapa dia melarikan diri
dan bersembunyi di hutan itu karena dia ngeri dan muak menyaksikan kekejaman
manusia dan merasa mendapatkan tempat yang tentram dan damai di tempat itu.
"Hemm, kau ingin menjadi muridku hendak mempelajari apakah?"
"Mempelajari kebijaksanaan yang dimiliki Locianpwe dan tentu saja
mempelajari ilmu kesaktian."
0 komentar:
Posting Komentar